Ficool

Chapter 37 - Chapter 37 — GARUDA MULAI TERBANG

Kabut tipis turun perlahan dari arah perbukitan, menyelimuti kawasan Markas YON ARMED 9 yang sejak subuh sudah berada dalam status pengamanan penuh. Personel bersenjata lengkap berjaga di berbagai titik strategis. Kendaraan taktis berjajar rapi di sisi lapangan. Radio komunikasi aktif tanpa henti sejak pagi.

Namun anehnya…

tidak ada acara besar yang diumumkan secara terbuka.

Tidak ada baliho.

Tidak ada spanduk.

Tidak ada panggung mewah.

Semuanya bergerak diam-diam.

Dan justru karena itulah—

suasana terasa jauh lebih besar.

Di tengah kawasan markas…

berdiri deretan EV Charging Station modern dengan logo GARUDA ENERGY SYSTEM menyala terang di layar pusat kontrol.

Lampu indikator hijau berkedip stabil.

Panel surya besar berdiri gagah di sisi bangunan logistik.

Server monitoring energi berjalan real-time.

Dan untuk pertama kalinya—

teknologi energi masa depan Indonesia berdiri di dalam lingkungan tempur militer aktif.

Beberapa prajurit muda YON ARMED 9 sampai diam-diam memperhatikan instalasi tersebut dengan tatapan kagum.

Karena mereka sadar—

apa yang sedang berdiri di depan mereka bukan sekadar proyek.

Namun simbol perubahan zaman.

KONVOI BSP MEMASUKI MARKAS

Tepat pukul 09.17 pagi…

suara mesin kendaraan mulai terdengar dari kejauhan.

Gerbang utama YON ARMED 9 perlahan terbuka penuh.

Dan dalam hitungan detik—

seluruh area markas berubah siaga.

Personel pengamanan bergerak cepat ke posisi masing-masing.

Komunikasi radio mulai aktif.

Lalu satu per satu kendaraan hitam mulai memasuki kawasan batalyon.

B 2777 GWM berjalan paling depan.

Body hitam elegannya memantulkan cahaya langit Purwakarta yang mendung.

Di belakangnya menyusul B 2888 GWM milik Prof Arief.

Kemudian B 2999 GWM yang membawa perangkat server utama GARUDA serta tim teknis inti.

Namun perhatian seluruh personel markas langsung tertuju pada kendaraan yang berada di sisi konvoi.

Dua unit MAUNG Tangguh.

Hijau militer doff.

Besar.

Gagah.

Dan terlihat sangat brutal.

Suara mesinnya menggema berat di area markas. Ban tactical besar bergerak mantap melewati jalan beton. Body kendaraan penuh lekukan armor modern khas kendaraan tempur generasi baru.

Aura kendaraan itu terasa berbeda.

Bukan hanya kuat.

Namun juga membanggakan.

Beberapa prajurit muda sampai refleks berdiri lebih tegak ketika kendaraan itu lewat di depan mereka.

Karena bagi mereka—

MAUNG bukan sekadar kendaraan.

Namun simbol harga diri prajurit Indonesia.

Dan ketika B 234 GWM akhirnya berhenti perlahan…

seluruh suasana mendadak hening.

Pintu kendaraan terbuka.

Doni turun perlahan.

Tubuhnya memang masih terlihat lemah setelah serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya beberapa minggu lalu. Wajahnya sedikit pucat. Langkahnya belum sepenuhnya stabil.

Namun entah kenapa—

begitu pria itu berdiri…

seluruh area terasa berubah.

Tatapan para prajurit otomatis mengikuti dirinya.

Dan Komandan YON ARMED 9 yang sejak tadi menunggu…

langsung berjalan maju.

Lalu—

di depan seluruh pasukan…

beliau memberi hormat penuh kepada Doni.

DEG.

Suasana langsung terasa berat.

Karena semua orang sadar—

penghormatan itu bukan penghormatan biasa.

PENGAKUAN PROF ARIEF — YANG MEMBUAT SATU MARKAS MEMBEKU

Menjelang siang…

acara utama dimulai sederhana di lapangan dalam YON ARMED 9.

Tidak ada dekorasi berlebihan.

Namun aura acara itu terasa sangat besar.

Karena hari itu—

militer Indonesia, investor asing, pemerintah daerah, dan sistem energi masa depan bangsa…

berdiri di satu titik yang sama.

Prof Arief maju perlahan menuju podium.

Angin siang berhembus melewati area lapangan markas.

Tatapan seluruh personel langsung tertuju kepada beliau.

Termasuk para wartawan yang berdiri di luar pagar pengamanan.

Dan ketika Prof Arief mulai berbicara—

suasana mendadak sunyi total.

“Banyak orang bertanya…”

suara beliau tenang namun berat.

“…kenapa negara begitu serius menjaga Project GARUDA.”

Tidak ada suara apa pun selain hembusan angin.

“Karena GARUDA bukan sekadar proyek listrik.”

“Bukan sekadar charging station.”

“Dan bukan sekadar investasi.”

Beliau berhenti sejenak.

Tatapannya perlahan mengarah kepada Doni.

“Ini tentang masa depan bangsa.”

DEG.

Kalimat itu langsung menghantam suasana.

“Puluhan tahun kita terlalu bergantung.”

“Terlalu sering membeli teknologi.”

“Terlalu lama menjadi pasar.”

Nada suara Prof Arief mulai berubah lebih dalam.

“Dan hari ini…”

“…Indonesia mulai membangun sistemnya sendiri.”

Beberapa personel YON ARMED 9 terlihat berdiri semakin tegak.

Karena mereka tahu—

apa yang dibicarakan bukan sekadar proyek.

Namun harga diri bangsa.

Namun yang benar-benar membuat suasana berubah…

adalah ketika Prof Arief perlahan berjalan mendekati salah satu unit MAUNG Tangguh hijau militer yang terparkir di sisi lapangan.

Beliau mengusap body kendaraan itu pelan.

Lalu menatap seluruh wartawan.

Dan mengucapkan kalimat yang membuat satu area markas membeku.

“Banyak yang bangga dengan kendaraan MAUNG…”

“Tapi tidak banyak yang tahu…”

“…bahwa salah satu konsep utama kendaraan ini lahir dari tangan seseorang yang selama ini memilih bekerja diam-diam untuk bangsa.”

DEG.

Para wartawan langsung saling pandang.

Beberapa kamera langsung mengarah cepat ke Doni.

Prof Arief lalu menunjuk perlahan ke arah pria itu.

“Pak Doni…”

“…ikut mendesain dan merakit konsep durability, balancing system, tactical support, dan stabilitas kendaraan MAUNG Tangguh ini.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Bahkan beberapa prajurit YON ARMED 9 terlihat membeku di tempat.

Mata mereka langsung menatap Doni dengan ekspresi tidak percaya.

Sedangkan para wartawan…

langsung gempar.

“Apa?!”

“Pak Doni?!”

“Beliau?!”

Suara bisik-bisik langsung memenuhi area luar pagar.

Karena pengakuan itu terlalu besar.

Selama ini mereka hanya mengenal Doni sebagai pengusaha dan tokoh misterius di balik Project GARUDA.

Namun ternyata—

lelaki itu juga ikut membangun kendaraan taktis kebanggaan militer Indonesia.

STATEMENT DONI — YANG MEMBUAT SEMUA ORANG MERINDING

Suasana masih penuh keterkejutan ketika salah satu wartawan akhirnya berteriak dari luar pagar pengamanan.

“Pak Doni!”

“Kenapa Bapak melakukan semua ini?!”

“Kenapa membantu negara sejauh ini tanpa pernah muncul ke publik?!”

Puluhan kamera langsung mengarah bersamaan.

Semua orang menunggu jawaban.

Bahkan para prajurit YON ARMED 9 ikut memandang Doni tanpa berkedip.

Sedangkan Doni…

hanya berdiri diam beberapa detik.

Angin Purwakarta meniup pelan jas hitamnya.

Tatapan matanya perlahan melihat seluruh area markas.

Melihat para prajurit.

Melihat kendaraan MAUNG.

Melihat bendera Merah Putih yang berkibar pelan di tengah langit mendung.

Lalu…

dengan suara tenang namun sangat dalam—

ia akhirnya bicara.

“Jangan pertanyakan apa yang negara berikan kepada kita…”

Suasana langsung hening total.

Tatapan beberapa perwira langsung berubah.

Dan Doni melanjutkan dengan suara yang semakin berat.

“…tapi pertanyakan kepada diri kita sendiri…”

“…apa yang sudah kita berikan kepada negara dan bangsa ini.”

DEG.

Kalimat itu menghantam seluruh area seperti petir.

Beberapa prajurit langsung saling pandang.

Wajah para wartawan berubah drastis.

Karena mereka mengenal kalimat itu.

Sangat mengenal.

Itu bukan kalimat biasa.

Itu adalah salah satu kutipan pidato legendaris Bung Karno.

Dan yang membuat suasana mendadak menyeramkan…

adalah cara Doni mengucapkannya.

Nada suaranya.

Tekanannya.

Auranya.

Terlalu mirip.

Terlalu dalam.

Terlalu… Soekarno.

Beberapa perwira senior YON ARMED 9 langsung terdiam.

Tatapan mereka berubah tajam.

Salah satu wartawan senior bahkan refleks berbisik pelan.

“Tidak mungkin…”

Namun jantungnya mulai berdegup keras.

Karena untuk pertama kalinya—

potongan-potongan misteri BSP mulai terasa mengarah ke sesuatu yang jauh lebih besar.

Prof Arief yang berdiri di sisi lapangan hanya diam.

Namun tatapan matanya perlahan berubah sendu.

Karena beliau tahu—

cepat atau lambat…

dunia memang akan mulai menyadarinya sendiri.

LAST LINE

Hari itu…

di tanah YON ARMED 9 Purwakarta—

bukan hanya Project GARUDA yang mulai terbang.

Namun juga…

bayangan masa lalu yang selama ini dikubur negara rapat-rapat…

perlahan mulai bangkit kembali.

More Chapters