Ficool

Chapter 39 - Chapter 39 — Konvoi Langit Gelap

PURWAKARTA — SAAT NEGARA MULAI MENUTUP JALAN

Langit Purwakarta siang itu berubah semakin gelap.

Awan hitam menggantung rendah di atas kawasan YON ARMED 9, membuat suasana terasa semakin berat dan mencekam. Angin dingin bertiup melewati lapangan markas yang kini dipenuhi personel bersenjata lengkap dalam status siaga penuh.

Dan tepat pukul 13.42 WIB…

konvoi BSP akhirnya bergerak keluar dari gerbang utama batalyon.

Dua unit MAUNG Tangguh hijau militer melaju paling depan.

Lampu tactical menyala redup.

Suara mesin berat kendaraan itu menggema keras di sepanjang jalan keluar markas, menciptakan aura intimidasi yang langsung membuat suasana jalanan berubah tegang.

Di belakangnya—

B 2777 GWM bergerak stabil membuka jalur pengawalan dalam.

Sedangkan B 234 GWM yang membawa Doni berada tepat di tengah formasi pengamanan super ketat.

Di sekelilingnya…

kendaraan tactical tanpa identitas milik TIM SENYAP 08 bergerak rapat tanpa celah.

Presisi.

Senyap.

Dan menyeramkan.

Beberapa kendaraan sipil di jalan nasional Purwakarta bahkan langsung diminta menepi oleh personel pengawal bersenjata lengkap.

Warga sekitar hanya bisa diam memperhatikan.

Karena baru kali itu mereka melihat pengawalan seperti operasi pemindahan aset perang tingkat tinggi.

Dan yang membuat suasana terasa semakin mengerikan—

adalah ekspresi para pengawal.

Tidak ada satu pun yang terlihat santai.

Tatapan mereka tajam.

Radio komunikasi aktif tanpa henti.

Jari-jari mereka terus siap di dekat senjata.

Seolah mereka sedang membawa sesuatu yang jauh lebih penting daripada pejabat negara biasa.

TIM SENYAP 08 — MODE PERANG AKTIF

Di kendaraan tactical belakang…

komunikasi radio TIM SENYAP 08 berjalan sangat cepat.

“Perimeter aman.”

“Drone udara aktif.”

“Pantau seluruh kendaraan asing radius tujuh kilometer.”

“Tim Delta standby interception.”

Nada suara mereka dingin.

Cepat.

Dan penuh tekanan.

Salah satu anggota TIM SENYAP 08 yang duduk di kursi depan terus memperhatikan layar tactical di tangannya.

Puluhan titik GPS bergerak di monitor.

Konvoi BSP berada tepat di tengah lapisan pengamanan berlapis.

Dan seluruh jalur menuju Jakarta perlahan mulai disterilkan diam-diam.

Karena ancaman sekarang bukan lagi media.

Namun kemungkinan keterlibatan intel asing yang mulai mencium keberadaan BSP.

Salah satu anggota tim berbicara pelan.

“Media sudah mulai menyusun pola.”

Rekannya menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangan.

“Dan itu berarti dunia luar juga sudah mulai membaca.”

Sunyi lagi.

Karena semua orang di kendaraan itu tahu—

kalau identitas BSP benar-benar terbuka…

maka Indonesia akan menghadapi tekanan internasional yang tidak kecil.

WARTAWAN MULAI PANIK

Di belakang konvoi…

beberapa kendaraan media masih mencoba mengikuti dari kejauhan.

Kamera terus merekam.

Siaran langsung berjalan tanpa henti.

Dan semakin mereka melihat pola pengawalan itu—

semakin besar rasa takut mereka sendiri.

Karena ini bukan lagi pengawalan proyek nasional biasa.

Formasi kendaraan.

Pola pengamanan.

Pergerakan personel elite.

Semuanya terlalu militer.

Terlalu serius.

Salah satu reporter televisi sampai menurunkan headset-nya perlahan.

Tatapannya terus melihat dua unit MAUNG hijau militer yang membuka jalur di depan konvoi.

Lalu ia bicara pelan dengan suara nyaris berbisik.

“Ini bukan pengawalan…”

Rekannya menoleh.

Reporter itu menelan ludah.

“…ini evakuasi negara.”

DEG.

Kalimat itu langsung membuat suasana mobil media sunyi.

Karena tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membantahnya.

DI DALAM B 234 GWM — DONI MULAI MEMAHAMI

Di dalam kendaraan lapis pengamanan…

suasana jauh lebih tenang.

Namun justru ketenangan itu terasa menyesakkan.

Doni duduk diam memandang keluar jendela.

Langit mendung terlihat bergerak perlahan di balik kaca anti peluru kendaraan.

Sedangkan di depannya—

monitor tactical memperlihatkan posisi seluruh pengawal yang terus bergerak mengelilingi dirinya.

Tatapan Doni perlahan berubah kosong.

Karena ia tahu.

Hari ini…

semuanya mulai berubah terlalu jauh.

Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun…

ia mulai melihat kembali sesuatu yang dulu mati-matian ia hindari.

Masa lalu.

Masa lalu yang selama ini dikubur rapat oleh negara.

Masa lalu yang membuat begitu banyak orang hilang.

Begitu banyak perjanjian ditutup.

Dan begitu banyak nama tidak boleh disebut.

Doni perlahan memejamkan matanya.

Napasnya terasa berat.

Sangat berat.

Karena setelah sekian lama mencoba hidup sebagai orang biasa…

takdir akhirnya kembali menariknya masuk ke tengah pusaran besar republik ini.

ISTANA — STATUS DARURAT INFORMASI

Sementara itu di Jakarta…

suasana Istana Negara berubah tegang.

Ruang koordinasi media nasional terlihat sibuk sejak siang.

Monitor-monitor besar menyala memperlihatkan siaran langsung media nasional dan internasional.

Dan satu nama…

terus muncul di berbagai laporan.

BSP.

Tim Media Istana bergerak cepat mencoba membendung spekulasi liar yang mulai berkembang.

Narasi media diarahkan ke proyek energi nasional.

Keberhasilan EV Charging.

Kerjasama Enernova.

Dan transformasi energi Indonesia.

Namun justru itu—

membuat para wartawan semakin yakin.

Karena selama ini…

Istana tidak pernah bergerak secepat ini untuk sekadar proyek bisnis.

Salah satu pejabat senior akhirnya bicara pelan di ruang koordinasi.

“Kalau publik mulai menyambungkan semuanya…”

Ia menarik napas panjang.

“…maka situasi bisa berubah liar.”

Ruangan langsung sunyi.

Karena semua orang tahu—

yang sedang mereka lindungi sekarang…

bukan sekadar manusia.

Namun simbol sejarah.

MAUNG TANGGUH — RAHASIA YANG MEMBUAT TNI DIAM

Di tengah perjalanan konvoi…

radio komunikasi pengawalan tiba-tiba kembali aktif.

“Media mulai menyebarkan statement Prof Arief.”

“Informasi desain MAUNG mulai viral.”

Beberapa personel pengawalan langsung saling pandang.

Karena pengakuan Prof Arief di YON ARMED 9 tadi…

sudah mulai mengguncang internal TNI sendiri.

Banyak prajurit baru tahu—

bahwa salah satu konsep kendaraan MAUNG Tangguh ternyata lahir dari tangan Doni.

Dan itu membuat suasana internal berubah.

Karena bagi prajurit…

MAUNG bukan sekadar kendaraan.

Namun kebanggaan.

Simbol kemandirian bangsa.

Dan fakta bahwa BSP ikut membangunnya…

membuat rasa hormat mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

LAST LINE

Di bawah langit gelap menuju Jakarta…

konvoi BSP melaju seperti membawa rahasia terakhir republik ini.

Dan perlahan…

seluruh negeri mulai sadar.

Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan negara…

dan sekarang—

rahasia itu mulai bergerak keluar dari bayangan.

More Chapters