Ficool

Chapter 14 - Kebaikan yang Disalahpahami

Dengan Tome masih tergenggam erat di tangannya, Kaivan bergegas maju. Langkahnya menimbulkan bunyi pelan di atas kerikil, setiap pijakan dipenuhi tekad. Dari jarak dekat, ia melihat Zinnia tengah tergesa-gesa mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan, gerakannya tampak lelah dan terburu-buru.

Kaivan berhenti pada jarak yang sopan, memastikan dirinya tidak terlihat mengintimidasi. Dengan suara tenang dan santun, ia bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"

Zinnia tidak langsung menjawab. Ia terus meraih barang-barangnya, menghela napas kecil, sebelum akhirnya bergumam datar, "Aku baik-baik saja."

Melihat kesulitannya, Kaivan berjongkok, berniat membantu memungut barang-barang yang tercecer. Namun sebelum tangannya menyentuh apa pun, suara Zinnia memotong tajam udara.

"Kalau kamu menyentuh barangku, aku akan teriak maling."

Kaivan membeku. Tangannya terhenti di udara, canggung. Suasana seketika menegang, berat oleh ketegangan yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya pahami. Dalam hati, ia bertanya-tanya apa yang membuat gadis ini begitu defensif.

Perlahan, Kaivan menarik kembali tangannya. Suaranya lembut, tapi mantap. "Aku cuma ingin membantu."

"Aku tidak butuh bantuan siapa pun." Nada Zinnia dingin, meski di baliknya terselip getaran halus yang nyaris tak terdengar.

Maka Kaivan tetap di sana, berjongkok dengan perasaan bingung, menatapnya. Bagaimana mungkin niat baik yang sederhana berubah menjadi konfrontasi aneh seperti ini?

Sementara itu, Zinnia terus bersikeras memungut barang-barangnya sendiri. Jelas terlihat ia kesulitan. Setiap kali ia membungkuk untuk meraih sesuatu yang dekat dengan tepi sungai, tubuhnya oleng, hampir terjatuh. Namun ia tetap menolak, keras kepala, tak mau menerima bantuan, terlebih dari seorang laki-laki.

Sekilas memandang Zinnia, perasaan Kaivan bercampur aduk. Entah mengapa, ada rasa kagum yang tumbuh dalam dirinya. Meski menolak bantuannya mentah-mentah, Kaivan bisa merasakan kekuatan sunyi di balik sikapnya, Zinnia seolah ingin membuktikan pada dunia bahwa ia mampu berdiri sendiri, tanpa bergantung pada siapa pun.

Tiba-tiba, suara langkah tergesa memecah lamunannya. Dari sisi lain, Zinnia muncul lagi di hadapannya. Wajahnya tampak panik, nyaris putus asa, dan saat mata mereka bertemu, tatapannya setajam bilah pisau.

"Kamu yang mencuri dompetku waktu aku jatuh, kan?" tuduhnya tanpa ragu.

Kaivan terdiam, terpaku oleh tuduhan itu. Wajahnya yang tenang memucat, keterkejutan jelas terpancar. Bibirnya terbuka, ingin membela diri, namun sesaat lidahnya kelu. Akhirnya, dengan suara lebih lembut dari biasanya, ia berkata, "Bagaimana mungkin aku mengambil dompetmu? Aku bahkan tidak mendekat saat kamu jatuh."

Namun Zinnia tetap keras kepala. Matanya tak lepas darinya, penuh kecurigaan, seakan menantangnya untuk menyangkal. "Kalau bukan kamu, lalu siapa? Dompetku tidak mungkin menghilang begitu saja!"

Kaivan menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Jika ia terpancing emosi, keadaan hanya akan memburuk. Dengan nada setenang mungkin, ia berkata, "Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dompetmu terjatuh di sekitar sini."

Zinnia menggeleng keras. Rambut panjangnya terayun mengikuti gerakan itu, mencerminkan gejolak di dalam dirinya. "Aku jatuh tepat di sini, waktu tali sandalku putus. Jadi dompetku pasti ada di sekitar sini!" suaranya meninggi, jarinya menunjuk ke tanah dengan frustrasi.

Kaivan mengalihkan pandangannya, menyapu sekitar dengan saksama. Matanya menelusuri area jembatan hingga sesuatu yang tak biasa menarik perhatiannya, di tepi sungai, setengah tertanam lumpur, ada sebuah benda kecil yang tampak mencurigakan. Ia menunjuk ke arah sana. "Lihat… itu, apa mungkin dompetmu ada di sana?"

Zinnia mengikuti arah telunjuknya. Alisnya berkerut, keraguan sekilas muncul. Lalu, seketika itu juga, pipinya memerah. Rasa malu menyeruak di wajahnya ketika ia menyadari kebenarannya. Tuduhannya barusan tak berdasar. Ia terdiam sejenak, menatap dompet itu dengan perasaan campur aduk, lega sekaligus bersalah.

Kaivan menghela napas pelan, lega. Senyum tipis, sedikit masam, terukir di bibirnya. Dengan nada ringan, ia berujar, "Sepertinya dompetmu ingin berenang."

Zinnia menatapnya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Ia membuka mulut, tapi hanya satu kata yang keluar. "Maaf…"

Kaivan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," jawabnya lembut. "Aku mengerti. Siapa pun pasti panik di situasi seperti itu." Namun masalahnya belum selesai. Pandangan Zinnia tertuju pada dompetnya yang basah, tergeletak di tempat yang sulit dijangkau. Ia menggigit bibirnya, ragu sejenak, sebelum bergumam, "Jadi… bisa tolong ambilkan untukku?"

Tanpa berkata apa-apa, Kaivan mengayunkan tasnya ke depan dan mengeluarkan gulungan tali. Dengan cekatan, ia mengikatkannya kuat-kuat pada salah satu tiang jembatan yang kokoh. Gerakannya cepat dan rapi, menunjukkan kebiasaan menghadapi rintangan. Zinnia memperhatikannya dari dekat, ekspresinya di antara kagum dan bingung.

Saat Kaivan mulai menuruni sisi jembatan dengan hati-hati, Zinnia tak bisa menahan diri. "Hati-hati," serunya.

Kaivan menoleh sebentar, menghadiahkan senyum menenangkan. "Aku baik-baik saja," jawabnya tenang, lalu melanjutkan turun.

Setiap langkah diambil dengan penuh perhitungan. Tubuhnya seimbang dan stabil di permukaan licin. Tali tergenggam kuat di tangannya, angin menarik rambutnya saat ia bergerak turun dengan fokus tak tergoyahkan. Pandangannya terkunci pada dompet di bawah sana.

Akhirnya, ia tiba di tepi sungai. Dengan hati-hati, Kaivan membungkuk dan mengambil dompet yang basah kuyup itu, memastikan tak ada isinya yang terjatuh. Wajahnya mereda oleh kelegaan saat ia mengangkat dompet itu tinggi-tinggi, memperlihatkannya pada Zinnia.

"Dapat!"

Di atas jembatan, Zinnia merasakan kehangatan mengembang di dadanya. Rasa terima kasih mengalir deras. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi memandang Kaivan sebagai orang asing, melainkan seseorang yang tulus, seseorang yang bisa ia percaya.

Ketika Kaivan kembali naik, langkahnya tetap mantap meski pakaiannya basah meneteskan air. Berdiri di hadapan Zinnia, ia menyerahkan dompet itu tanpa sepatah kata. Namun senyum lembut di wajahnya sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan segalanya.

More Chapters