Ficool

Chapter 16 - Ketika Rantai Tak Terlihat Putus

Kaivan melepaskan jaketnya lalu menggantungkannya di sandaran kursi dekat pintu. Napasnya terasa berat, seolah tubuhnya memikul beban yang tak kasatmata. Namun, pandangannya tetap tertuju pada buku itu. Setelah beberapa saat terdiam, ia melangkah mendekat, menarik kursi, lalu duduk di hadapan meja. Jari-jarinya yang ramping menyentuh sampul kulitnya, merasakan tekstur kasar yang terasa tua dan asing.

Dengan hati-hati, ia membuka halaman pertama. Udara dingin seketika menyapu wajahnya, seakan ruangan itu sendiri sedang mengembuskan napas. Lampu berkedip sesaat, pertanda hal luar biasa akan segera dimulai. Huruf-huruf di halaman bersinar samar, melemparkan bayangan aneh ke sekeliling kamar.

"Apa tujuanmu membawaku sejauh ini?" bisik Kaivan dengan suara serak. Matanya menelusuri halaman, menangkap setiap detail, setiap lengkungan huruf. "Dan… apa yang akan terjadi selanjutnya?" Nada suaranya sarat dengan konflik batin, perpaduan antara rasa ingin tahu dan ketakutan akan masa depan.

Keheningan semakin menebal. Hanya suara angin malam yang menyusup melalui celah jendela terdengar lirih. Perlahan, huruf-huruf dalam Tome Omnicent mulai bergerak:

"Aku membantumu agar kau tidak menjadi apatis. Salah satu tahapannya, kau harus belajar mengenal mereka."

Kaivan membeku. Wajahnya menegang, alisnya berkerut. "Mereka?" gumamnya pelan. "Radit… dan Zinnia?" Namun, tak ada jawaban lanjutan. Huruf-huruf itu kembali diam, seolah apa yang disampaikan sudah cukup.

Bersandar ke kursi, Kaivan menatap langit-langit yang bernoda. Pikirannya berpacu, mencoba mengurai makna di balik kata-kata samar itu. "Apa ini… sebuah ujian?" tanyanya pada diri sendiri, meski jauh di dalam hati ia tahu jawabannya tak akan sesederhana itu.

Dengan helaan napas panjang, ia kembali menunduk ke arah buku. Mengumpulkan keberanian baru, ia membalik halaman berikutnya. Kali ini, tinta bergerak seperti cairan, membentuk kalimat yang jauh lebih spesifik:

"Carilah beberapa ponsel Nokia lama, model tahun 2008 atau sebelumnya."

Kaivan berkedip, kebingungan. "Nokia lama?" gumamnya dengan tawa getir. Ia menatap halaman itu penuh ragu, namun nalurinya mengatakan bahwa perintah ini menyimpan tujuan yang lebih dalam. Ia pun mengenakan kembali jaketnya dan melangkah keluar ke malam hari.

Langkahnya membawanya ke sebuah pasar barang antik di sekitar Cikapundung, yang hanya diterangi lampu-lampu tua redup. Lorong-lorong sempit dipenuhi benda-benda terlupakan, masing-masing menyimpan potongan masa lalu seseorang. Mata Kaivan menyapu setiap lapak, mencari petunjuk yang dibisikkan buku itu.

Akhirnya, di sudut yang sepi, ia menemukan sebuah meja kecil penuh elektronik usang. Di antaranya tergeletak ponsel-ponsel Nokia, tergores, kusam, dan jauh dari kata mulus. Kaivan memungutnya satu per satu, jemarinya menyusuri plastik pudar yang terasa kasar oleh waktu.

Setelah membayar tiga ratus ribu rupiah, ia membawa enam ponsel itu pulang. Ia menatanya di atas meja, tepat di samping Tome Omnicent. Dengan peralatan seadanya, ia mulai membongkar ponsel-ponsel itu satu per satu, matanya tak lepas dari detail sekecil apa pun.

Saat membuka ponsel pertama, ia melirik Tome itu, mengikuti petunjuknya. Dengan menambahkan bahan kimia tertentu sesuai arahan, ia menemukan sesuatu yang sama sekali tak terduga. Di dalamnya terdapat butiran-butiran emas kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu.

Napas Kaivan tertahan. "Ini… luar biasa," gumamnya. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa benda sesederhana itu bisa menyembunyikan sesuatu yang begitu berharga.

Sebuah ide yang lebih besar mulai terbentuk di benaknya. Ia membuka ponselnya, cahaya layar memantul pucat di wajahnya. Daftar kontak lama muncul, setiap nama membawa kenangan pahit yang lama ia kubur: Dandi, Rani, Tania. Namun dua nama lain menonjol: Radit dan Zinnia. Nama-nama baru. Nama yang membawa harapan dan janji awal yang segar.

"…Kaivan? Tumben nelpon. Ada apa?" suara Radit terdengar bersemangat, disertai dengung televisi dari kejauhan.

Kaivan tersenyum tipis. "Radit, aku punya ide bisnis. Sesuatu yang besar. Bisa menghasilkan banyak uang. Tertarik?"

Di seberang sana, Radit langsung bangkit dari rebahannya. Jaket denim lusuh di kursi terabaikan. Senyum lebar merekah di wajahnya. "Bisnis, ya? Kedengarannya menarik. Oke. Kapan dan di mana?"

Rasa lega menyelimuti Kaivan. Setelah menentukan waktu dan tempat, ia menutup panggilan dan menelepon Zinnia. Nada sambung terdengar panjang, membuat detak jantungnya bertambah cepat. Akhirnya, suara tenang namun penuh selidik menjawab.

"Kaivan? Ada apa?"

Kaivan berdeham, menenangkan getar di suaranya. "Aku ingin membahas rencana bisnis besar. Penting. Apa kamu tertarik?"

Zinnia mengangkat alis, menggigit ujung pena. "Rencana besar, ya? Menarik. Baiklah, kapan kita bertemu?"

Sore beranjak malam, langit kota berwarna jingga lembut. Sebuah kafe kecil di sudut jalan memancarkan cahaya hangat dari lampu gantungnya. Radit tiba lebih dulu, melangkah masuk dengan mantap.

Ia menjatuhkan diri ke kursi dengan percaya diri, menyilangkan tangan di dada. Matanya menatap Kaivan tajam penuh rasa ingin tahu. "Jadi, apa yang sedang kau rencanakan kali ini?"

Kaivan hanya tersenyum samar. Ia meletakkan buku yang tadi dibacanya. Tatapannya lembut, namun keyakinan kuat terpancar darinya. "Tunggu sebentar," ujarnya tenang. "Aku ingin semua orang ada di sini dulu."

Bel kafe berbunyi. Zinnia masuk dengan langkah anggun. Jeans sederhananya menegaskan siluet tubuhnya tanpa berlebihan. Pandangannya sempat tertuju pada Kaivan, lalu beralih ke Radit, alisnya terangkat.

"Dan preman ini siapa?" tanyanya dingin sambil duduk di sebelah Kaivan.

Radit mendengus. "Dan perempuan kasar ini siapa?" balasnya santai, meski nada jengkel tersirat. "Kenapa kau menatapku seolah menghakimi?"

Kaivan menghela napas, mengangkat tangan pelan seakan meredam udara. "Kalian berdua bagian dari rencana ini. Aku butuh kalian. Jadi… simpan dulu ketegangan itu."

Tatapannya menyapu Radit dan Zinnia, dua jiwa keras yang saling bertolak belakang, namun kini berada di sisinya. Melihat mereka, Kaivan merasakan sesuatu yang lama terkubur kembali berdenyut.

Zinnia memalingkan wajah ke jendela, membiarkan cahaya senja menyentuh pipinya. Radit bersandar, bahunya mengendur. Keheningan rapuh tercipta, bukan karena jarak, melainkan awal dari pemahaman.

Dan pada momen itu, Kaivan merasakannya. Rantai yang selama ini mengikat langkahnya, berkarat, menunduk, tanpa pilihan, mulai retak. Bukan oleh amarah, bukan oleh kebencian, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih lembut… dan jauh lebih kuat: kehadiran mereka.

Tenggelam dalam keheningan, ia hanyut tanpa jangkar…

More Chapters