Ficool

Chapter 20 - Di mana Hal-Hal yang Rusak Mulai Berfungsi

Kaivan menyelipkan kunci ke dalam kontak. Mesin motor berdengung halus, ritmenya seolah menjanjikan awal dari sebuah perjalanan baru. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia berbisik pada diri sendiri, "Ini adalah awal dari segalanya." Kata-katanya hampir tenggelam di bawah dengkuran lembut mesin.

Saat ia melaju menembus cahaya senja yang kian memudar, pikiran Kaivan melayang pada rangkaian peristiwa yang membawanya sampai ke titik ini. Duka dan pengkhianatan yang dulu membebaninya kini tak lebih dari bayangan samar di kejauhan, perlahan tergantikan oleh tekad sunyi yang mulai berakar di dalam dirinya. Ia akhirnya mengerti, setiap langkah kecil ke depan tengah menuntunnya menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Kaivan berjalan dengan langkah mantap, kedua tangannya terselip di saku celana seragam sekolah. Di depannya, Radit melangkah sedikit lebih lambat, tas ranselnya diayun santai, meski sorot di wajahnya menyimpan rasa penasaran yang dalam. Suara sepatu mereka yang beradu dengan aspal menjadi satu-satunya bunyi di sore yang hening.

"Radit," suara Kaivan memecah kesunyian, tenang namun tegas. "Nanti temui aku di mal Palaguna lama. Di pusat kota."

Radit berhenti mendadak dan menoleh, keningnya berkerut. Kebingungan melintas di wajahnya. "Ngapain kita ke sana?" tanyanya, sedikit memiringkan kepala. Bangunan terbengkalai itu terkenal angker; tak banyak orang berani mendekat. Reruntuhannya berdiri seperti monumen kegagalan masa lalu.

Kaivan menatapnya serius, sorot matanya tajam dan terkunci pada Radit. "Kita butuh tempat yang lebih luas buat bongkar ponsel hari ini," jelas Kaivan, nadanya tetap terkendali namun meyakinkan. "Aku bakal bawa cukup banyak ponsel bekas. Rumahku terlalu sempit buat nyimpen semuanya."

Radit mengangguk pelan, akhirnya memahami alasan Kaivan. Ia tahu temannya selalu punya tujuan logis di balik setiap keputusan. "Oke. Aku ke sana nanti," jawabnya mantap, berusaha menyamai keseriusan Kaivan.

Di kejauhan, seorang gadis berdiri di bawah rindang pohon besar, Tania. Matanya yang tajam mengamati gerak Kaivan dan Radit dengan kebencian yang nyaris tak disembunyikan. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis penuh ejekan.

"Kenapa dia kelihatan bahagia?" gumam Tania lirih, hanya untuk dirinya sendiri. Dulu, ia menikmati melihat Kaivan hancur. Namun kini, segalanya terasa berbeda. Ada sesuatu yang baru dari cara Kaivan berjalan, berbicara, bahkan dari caranya berteman dengan Radit. Semua itu membuatnya gelisah, seolah kendali yang dulu ia genggam atas hidup Kaivan telah runtuh sepenuhnya.

Langkah Tania yang semula ragu berubah mantap saat ia mendekati Kaivan. Namun sebelum ia sempat berbicara, raungan mesin rendah membekukannya di tempat. Sebuah SUV hitam mengilap melaju mendekat, bodinya memantulkan cahaya sore. Di balik kemudi, seorang pemuda menurunkan kaca jendela.

"Yo, Kaivan!" sapa Frans ceria, suaranya sejalan dengan karismanya. Rambut merahnya tertata rapi, senyum lebarnya memancarkan kepercayaan diri yang sulit digoyahkan.

Kaivan membalas dengan senyum tipis dan melangkah mendekat. "Yo, Frans. Jadi kita ke tempat yang tadi aku sebut, ya?"

Frans mengangguk, jemarinya mengetuk ringan setir. "Naik aja. Kita berburu gadget," jawabnya santai.

Tania terpaku di tempat. Matanya melebar saat melihat Kaivan masuk ke dalam mobil Frans. Pertanyaan bercampur kecemburuan membara di dadanya.

"Apa-apaan ini…" gumamnya nyaris tak terdengar. Tangannya mengepal menahan gejolak di dalam diri. Kaivan seharusnya tetap rapuh, seseorang yang bisa ia kendalikan. Namun pemandangan di depannya berkata sebaliknya.

Di dalam mobil, Kaivan dan Frans bertukar obrolan ringan. Frans mengemudi dengan santai, sementara pikiran Kaivan berputar menyusun langkah-langkah berikutnya. Mereka mendatangi toko elektronik dan pasar loak, mencari ponsel bekas. Frans, dengan senyum cerahnya, kerap membuka percakapan dengan para pedagang, memanfaatkan pesonanya untuk menawar harga lebih baik.

"Kenapa yang ini, Kaivan?" tanya Frans sambil mengangkat sebuah ponsel tua yang tampak tak menarik.

Bibir Kaivan melengkung samar saat ia menerimanya. "Karena kadang, yang terlihat usang justru menyimpan sesuatu yang berharga di dalam."

Frans terkekeh pelan, menepuk bahu Kaivan. "Hal-hal berharga, tersembunyi di balik permukaan."

Kaivan tak menjawab. Fokusnya kembali tertuju pada perangkat di tangannya. Sore beranjak menjadi malam saat mereka menyusuri kota, mengumpulkan serpihan ponsel-pencar. Ia tahu, langkah-langkah kecil ini adalah kunci menuju masa depan yang lebih besar.

Di tengah hiruk-pikuk senja, Kaivan mengeluarkan ponselnya sendiri. Jari-jarinya yang ramping bergerak cepat di layar saat ia menghubungi Zinnia, bagian penting dari rencananya yang rumit. Tekad menajam di sorot matanya.

"Zinnia," ucapnya, suaranya tenang namun tegas. "Temui aku nanti di mal lama pusat kota. Radit juga sudah aku kabari. Kita kerjakan di sana."

Di seberang sana, suara Zinnia terdengar lembut namun mantap. "Baik. Aku ke sana sekarang."

Kaivan mengangguk meski ia tak bisa melihatnya. "Ya. Sampai nanti." Ia menutup panggilan dengan gerakan senyap, memastikan setiap detail tetap selaras.

Beberapa waktu kemudian, singkat namun sarat perhitungan, mereka tiba di tujuan. Mal yang dulu megah kini berdiri kosong dan rapuh. Retakan menjalar di dindingnya; kaca pecah menempel di bingkai jendela seperti luka yang enggan sembuh. Di luar, Radit dan Zinnia telah menunggu. Radit melambaikan tangan santai, sementara Zinnia berdiri tenang dan tegap.

Frans memarkir mobil dengan hati-hati, kerikil berderak di bawah ban. Kaivan turun lebih dulu, membuka pintu belakang, lalu mulai mengangkat kotak-kotak berisi ponsel bekas.

"Semuanya siap?" tanyanya, suaranya tenang namun berwibawa.

Radit mengangguk mantap, tangannya terselip di saku. "Siap. Tinggal nunggu arahanmu."

Zinnia menambahkan dengan suara lembut namun pasti, "Aku sudah cek ke dalam, ada satu ruangan yang bisa kita pakai buat menyimpan ponsel."

Di dalam, bangunan itu terasa seperti dunia lain. Lampu neon yang dulu berkilau kini hanya bayangan kusam di langit-langit berdebu. Dinding yang dahulu dipenuhi poster cerah kini tertutup lapisan grafiti, kisah bisu tentang waktu yang berlalu. Kaivan berhenti sejenak, menatap sekeliling dengan mata yang menyimpan makna lebih dalam dari kata-kata.

"Kita mulai di sini," ujar Kaivan. Suaranya bergema pelan di ruang luas yang sunyi. Radit dan Frans mulai membongkar kotak, sementara Zinnia menata alat-alat kecil yang ia bawa untuk mengekstraksi emas dari ponsel bekas. Gerakannya presisi dan mengalir, setiap sentuhan jarinya memancarkan fokus yang tajam.

"Kaivan, menurutmu berapa yang bisa kita dapat dari satu karung ini?" tanya Zinnia tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

Kaivan mendekat, mengamati kemajuan yang ia buat dengan saksama. "Kalau beruntung, cukup untuk beli satu batch ponsel bekas lagi, dan masih ada sisa. Tapi kita lihat dulu hasilnya."

Radit, yang sibuk menata komponen, menyela santai. "Hei, Kaivan. Jangan lupa bagi rata nanti, ya? Aku mau traktir diri sendiri steak mahal habis ini."

Kaivan tersenyum tipis dan mengangguk. "Tenang. Semuanya akan dibagi dengan adil."

Setelah berjam-jam bekerja tanpa henti, Zinnia akhirnya mengangkat tangannya. Di telapak kecilnya, serpihan emas berkilau di bawah cahaya lampu. "Baru sembilan belas gram," ujarnya pelan, meski ada kehangatan puas di wajahnya.

Kaivan menerima serpihan itu dengan hati-hati, menelitinya sejenak sebelum memasukkannya ke dalam kantong kecil. "Bagus. Kita jual batch ini dulu, baru tentukan langkah selanjutnya."

Zinnia mengangguk tanpa ragu, menyerahkan hasil kerjanya. Sementara itu, Frans dan Radit mulai membereskan sisa alat, memastikan tak ada yang tertinggal. Proses penjualan berjalan lancar, Kaivan, dengan ketenangannya yang khas, memimpin transaksi dan memastikan setiap detail tercatat dengan presisi.

More Chapters