Ficool

Chapter 18 - Apa yang Bertahan dari Tome Omnicent

Begitu persetujuannya diberikan, kengerian pun menyusul.

Rasa sakit yang tak terlukiskan meledak di kepalanya, seolah jutaan jarum menusuk seluruh sarafnya secara bersamaan. Informasi yang ia kira akan mengalir lembut justru menghantam seperti tsunami, menembus setiap batas pikirannya dan merobohkan dinding-dinding kewarasannya.

Kaivan berteriak, tanpa suara. Tenggorokannya terkunci rapat. Di dalam kepalanya terdengar bunyi retakan samar, seperti kaca yang mulai pecah. Darah merembes dari hidung dan sudut matanya, menjadi saksi dingin dari kehancuran yang mengamuk di dalam benaknya. Setiap kata, setiap simbol yang muncul di halaman Tome Omnicent berubah menjadi siksaan. Tiap huruf terasa membakar kesadarannya, memberi rasa perih yang seolah tak berujung.

Namun Tome itu tetap dingin dan tanpa belas kasihan.

"Dalam kondisi normal, manusia yang mengalami ini akan mati seketika. Otaknya hancur," bisik buku itu datar, seolah kematian hanyalah hal sepele.

Tubuh Kaivan bergejolak hebat. Ia kejang seakan dialiri arus listrik besar, persendiannya menegang hingga terasa hampir lepas. Jeritannya berubah menjadi erangan parau yang tak lagi manusiawi. Ketegangan mencengkeram wajahnya, napasnya terengah, sementara tubuhnya didorong hingga batas terjauh.

Semakin ia berontak, semakin terasa seolah tubuhnya koyak dari dalam. Tulang punggungnya melengkung tak wajar, bergetar di bawah puncak rasa sakit yang mengamuk di kepalanya. Tanda-tanda kehancuran menyebar, memberi isyarat bahwa tubuhnya telah mendekati titik hancur. Matanya yang terbuka lebar kehilangan cahaya, seakan hidup itu sendiri sedang diseret menjauh darinya. Pikirannya bukan lagi miliknya, ia telah berubah menjadi medan perang.

Akhirnya, Kaivan tak sanggup lagi bertahan.

Dengan napas terputus-putus, ia menyerah pada rasa sakit yang menyiksa. Dunia di sekelilingnya memudar, tenggelam dalam kegelapan. Di bawah sinar bulan yang redup, tubuhnya roboh lemas ke lantai balkon yang dingin.

Pada saat itu, sesuatu muncul dari Tome Omnicent.

Sosok bercahaya putih berdiri anggun, namun menebarkan teror. Cahaya murninya bertabrakan dengan kegelapan dalam sorot matanya, jurang tanpa dasar yang memandang dengan kesombongan sunyi.

Makhluk itu meneliti tubuh Kaivan yang terkulai dengan ketertarikan. "Tubuhnya tidak hancur. Organ dan otaknya tetap utuh… meski kapasitasnya kutingkatkan hingga dua puluh persen, bukan sepuluh seperti sebelumnya," gumamnya, nada suaranya dingin namun menyimpan kekaguman yang nyata.

Di bawah kesunyian malam yang menyesakkan, Kaivan terbaring tak bergerak, terperangkap di antara hidup dan mati. Napasnya begitu dangkal hingga nyaris tak terasa. Di sisinya, Tome Omnicent terdiam.

Sosok itu masih bertahan sejenak, cahayanya redup dan dingin, seolah membebani udara di sekitarnya. Bentuknya kabur, hanya siluet samar yang melayang.

"Ah… melelahkan. Energi-ku hampir habis. Aku harus menghemat sisanya," bisiknya, dengan kepuasan yang sulit dijelaskan.

Perlahan, tanda-tanda luka di tubuh Kaivan mereda, seakan ditarik kembali oleh cahaya pucat itu. Tak lama kemudian, sosok tersebut memudar, meninggalkan kesunyian yang menekan.

Waktu berlalu seperti mimpi buruk yang panjang.

Kegelapan digantikan oleh keheningan steril sebuah rumah sakit. Di sebuah ruang perawatan yang berbau antiseptik tajam, tubuh Kaivan terbaring kaku di ranjang medis. Mesin-mesin di sekelilingnya berbunyi teratur, menjadi pengingat tipisnya jarak antara hidup dan mati.

Lalu, sesuatu bergerak.

Perlahan, kelopak matanya bergetar.

Di sudut ruangan, Radit berdiri dengan kedua tangan terlipat, tubuhnya tegang menahan cemas. Tatapannya tak pernah lepas dari Kaivan. Tak jauh darinya, Zinnia duduk gelisah, jemarinya mencengkeram ujung rok. Matanya berkaca-kaca, namun ketika kelopak mata Kaivan terbuka, harapan menyala di wajahnya.

"Kaivan… kamu sadar!" suaranya bergetar antara lega dan takut.

Ia segera berdiri dan melangkah mendekat dengan hati-hati. Matanya tak lepas dari wajah Kaivan.

Kaivan mengangkat tangannya perlahan. Ada sensasi asing dalam tubuhnya, sulit dijelaskan. Tanpa menoleh pada mereka, ia meraih selang infus dan menariknya keluar.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa dicabut?!" bentak Radit, melangkah maju untuk menghentikannya.

Kaivan akhirnya menatapnya. Tatapannya tenang, terlalu tenang. "Aku tidak apa-apa. Tubuhku… tidak sakit lagi."

"Kaivan, tolong…" Zinnia menggenggam lengannya lembut. "Kamu baru saja sadar."

"Aku merasa luar biasa. Kepalaku… lebih jernih dari sebelumnya." Ada kekuatan baru dalam sorot matanya, membuat Radit dan Zinnia saling pandang dengan gelisah.

Kaivan menyingkirkan selimut dan berdiri. Langkah pertamanya mantap. Tak ada lagi kelemahan yang tersisa. Ia membuka tirai jendela, membiarkan cahaya pagi membanjiri ruangan.

"Sekarang tanggal berapa?" tanyanya tiba-tiba.

Zinnia menelan ludah. "Tanggal satu Juni, dua ribu sembilan. Hampir dua minggu sejak…" suaranya terhenti.

Kaivan menghirup udara pagi dalam-dalam. Lalu ia berbalik, menatap mereka dengan tekad yang membuat bulu kuduk meremang.

"Kita sudah kehilangan terlalu banyak waktu," katanya tegas. "Sekarang, aku harus melanjutkan apa yang sudah dimulai."

Tak lama kemudian, Kaivan meninggalkan rumah sakit, melangkah keluar dari dinding putih yang selama ini mengekang kebebasannya.

Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar dan menatap Tome Omnicent, buku yang menjadi penuntun sekaligus sumber penderitaannya.

"Apa yang sebenarnya kamu lakukan padaku?" tanyanya, suaranya mantap, menuntut jawaban.

Halaman Tome itu bergetar pelan.

"Aku hanya meningkatkan kapasitas otakmu, agar pengetahuan dapat menetap dengan lebih mudah."

Kaivan merasakan getaran halus di dalam dirinya. Setiap informasi kini tersusun rapi. "Lalu, apa langkah selanjutnya?"

"Temui seorang pria bernama Frans," bisik buku itu. "Bantu dia mendekati seorang gadis, dan bawalah gunting."

Perintah yang aneh. Tak masuk akal. Namun Kaivan tahu, setiap arahan dari Tome selalu menyimpan makna tersembunyi.

Hari-hari barunya pun dimulai.

Energi misterius Tome Omnicent terus menyertainya, kini menuntunnya pada seorang pria bernama Frans, seseorang yang terjerat dalam kisah cinta yang rumit.

Kaivan menyusuri jalan sempit menuju taman kota yang ramai. Di bawah cahaya matahari pagi, pandangannya menyapu keramaian hingga akhirnya berhenti pada seorang pria di ujung jalan, menggenggam sebuah buket kecil.

More Chapters