Ficool

Trully Monster

falyerald
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
9.1k
Views
Synopsis
A man's journey to realize his childhood dream.
VIEW MORE

Chapter 1 - Sleep

Malam itu, sekali lagi mereka menatap kilauan masa lalu di angkasa. Kilauan itu tidak bisa diraba, tetapi mereka ingin merasakannya.

Pria itu? Ia hanya ingin meregangkan organ vitalnya, selagi menunggu sebuah pesan ... pesan yang tidak pernah dibuat.

"Hari ini ulang tahunmu yang ke-11!" ucapnya dalam hati, entah kenapa kali ini tawanya terasa lebih tulus dibanding saat HRD yang mengeluarkannya.

Malam itu tubuhnya mati, selain darah di akal sakitnya. Senyap, akalnya mengalirkan cairan stroberi. Nasib? Masa lalu atau kedepannya? "Cita-cita ya? Aku sudah lama menarik tuas di toilet."

Berapa lama mereka terdiam? Hanya pikiran yang menggerakkan tubuh mereka. Tidak jua untuk dunia nyata.

Apa sebutan ilmiahnya? Ketindihan ... ehm, tidak-tidak. Itulah Sleep Paralysis. Hal asing kian terpantul di genangan retina-nya.

Siapa namaku? Itu sepertinya tidak terlalu bermanfaat untuk para pembaca, sama halnya seperti membaca cerpen ini.

Sazha mencoba menggerakkan jari-jemarinya, walau mereka masih tidak ingin menyatu. Penghianatan terselubung ini masih terus berlanjut hingga ia mendapatkan makna.

Air peluh sudah melapisi sebagian tubuhnya. S-sazha masih melakukannya ... ia terus menggerakkan jari-jemarinya, tanpa mengangkat gemerlap di akalnya.

Tanpa siapapun renungi, ia pergi ke arah retina merona. Menusuk pompa utama kehidupan makhluk hidup serta benda tanpa arah jalan peradaban.

Kedua dari mereka tiada lagi, tiada lagi yang masih memeluk keyakinan mereka, memahami mimpi-mimpi tanpa arah yang ia pilih, sehingga menjalarkan akar kerusakan.

Sudah saatnya aku pergi, entah kemana pun seharusnya kami berada, tiada lagi akar kumuh ataupun benda tanpa arus perlawanan.

Di sana aku melihat suatu cahaya, seekor hewan tanpa belalai, hanya kehausan akan air merpati. Hidupku, matiku, dan kehilanganku, tiada makhluk pun tersisa. Sayap bakar dengan bulu gemerlap menyinari bintang. Ruang tanpa waktu, aku melihatnya dan mengaguminya. Hidup tanpa aku, aku mendengarnya dan memahaminya. Ia serupa dengan pengalamanku yang lalu, hanya saja kami tidak memahaminya.

Kebohongan dan lagi-lagi ia tidak percaya pada akalnya. Tidak ada yang ia perihalkan selain ucapannya sewaktu bersama ibu dan ayah. Hari demi hari dihabiskan, melewati hal yang tiada, semua itu bermakna atau hanya getaran bibir semata.

Kurasa aku terlalu banyak minum, meminum suatu dengan senyum dan tawa. Galonku? Aku akan terus memakainya. Sisanya? Aku akan buat mereka menjadi hiasan. Memenuhi seluruh ruang hampa, tiada yang memaknainya dengan kata "Ya", mereka semua tidak "Tidak", tapi mereka "Tidak untuk hari ini".

Apalagi? Kapan suatu keuntungan akan tiba, tanpa masalah, dan tanpa rasa salah. Sayangnya, kau tidak butuh itu, yang kau mau hanyalah hidup tanpa makna, membuang seluruh sampah itu di dalam lambungmu.

"Kamu? Manusia?"

"Bukan, aku kera."

"Puft..."

Gemerlap, gemetar, gaungan kesedihan di pelosok ruang. Tiada yang menyadari selain seekor atom. Ia menyadari keburukan kera ini, tanpa memahami keburukan makhluk di depannya. Zaman demi zaman, musim demi musim, waktu demi waktu, makhluk demi makhluk, tiada yang sempurna? Atau hanya menutup keindahan? Aku tidak mengucapkan yang sedemikian serupa. Agar kita semua memahami mengapa diriku ingin sesuatu.

Perubahan masa depan, individu dan kelompok, tiada lagi yang indah, tiada lagi yang benar, semua kehampaan dan kematian tiada waktu di dalam. Hidup kita, semua dari kita tiada lagi, tiada lagi yang diselaputi oleh rasa tinggi, tidakkah kita semua akan sirna? Hiduplah, hiduplah, hiduplah, lalu matilah tanpa sifatmu, sifat terburuk, dipegang oleh para para pahlawan, digenggam oleh kami? Kita hanya mendahului dan merusak hak mereka. Tiada lagi ada mereka, kita hanya memikirkan "aku" tanpa beban hidup.

Aku suka beban? Dengan pemikiran hidupmu? Kita hanya ulat dengan serabut, tiada yang enggan menilai nya. Seluruh hidup di mati kami, memalingkan mata, mengucapkan kalimat mengharukan, menenangkan, menghangatkan, dan membekukan mereka para "kami".

"Dingin..."

Tiada lagi yang bergerak, menutup masa lalu, membuka masa depan. Menggelapi masa depan, melupakan hal kemarin. Kami menutup rasa itu, tapi ia enggan.

Hanya ingin menggenggam daun kristal di pabrik stroberi.

"Aku mempunyai cita-cita!"

"H-hah? Kau? Puft..."

Aku dulu kian serupa, dengan "kita". Kututup masa lalu, tapi masa depanku tak kunjung selebar mereka. Tiada arti, tiada sangka, dan tiada tembakau. Hidup tanpa kebiasaan, kebiasaan tanpa arti kata. Ya, kata-kata mereka, saat masih menggapai masa depan. Mereka melihat segalanya, sinar mentari terbit di ufuk kanan.

"Kanan?"

Sazha melihat segalanya, sebuah masa lalu. Setetes sinar tanpa panas. Setetes panas tanpa api.

"H-hah, s-siapa?"

Lengannya merasakan segalanya, segala hal dari rasa hangat.

Kita melihatnya, tanpa melihatnya.

"M-makhluk menjijikan apa itu?!"

"Hhhah!? Di mana?"

Sazha menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri, lalu ia menoleh ke arah depan.

"Kamu siapa?"

"Maaf, aku ... juga tak tahu tentang hal itu."