Ficool

Chapter 5 - Breathing

Di tengah kota yang dipenuhi orang, dua pria paruh baya terlihat sedang berdebat tentang sesuatu.

"Ayo Hans, kau tinggal intip kartu orang itu lewat kaca, kita jadi milyarder." Pak Yono menarik tangan Hans untuk kembali ke tempat judi megah itu—tempat para konglomerat.

"Gak! nggaaaak! yang benar aja pak!! cara klise seperti itu terlalu mudah ditebak!! saya sudah bangkrut, dan gak mau tambah bangkrut lagi, jadi tolong eghh lepaskan tangan berbulumu dari kulit kinclong anak muda Hans ini!!" Sazha sedang berusaha kabur dari perangkap yang dulu juga menjebak hidupnya.

"Ayolah, kau tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebesar dua puluh delapan juta dalam waktu satu minggu, hanya di tempat inilah kau bisa melakukannya!!"

"Sialan kau pak kumis!! aku gak peduli lagi dengan hutang, lwepaaaskaaan!!" Ucapan mereka berdua terlihat oleh orang-orang kota yang lalu lalang.

Sazha memikirkan rencana busuk

"TOLONG!! TOLONG!! PENJAMBRET!!"

"Hehe, kau orang tua terkutuk, siapa yang menyuruhmu menagih utangku pagi ini?" pikir Sazha.

Dan ya, tak seorang pun peduli pada mereka.

Pak Yono melempar Hans ke tanah.

"Cih, dasar anak muda tidak tahu terima kasih." Pak Yono tampak geram.

Sazha membersihkan kaos putihnya yang kotor.

Suasana mulai menjadi tenang...

Tiba-tiba di hadapan mereka berdua terlihat tiga orang laki-laki berpakaian jas hitam sedang berlari menghampiri Pak Yono.

"Di sini rupanya kau! YONO!" kata seorang pria berjas hitam.

"Sialan!" Pak Yono hendak kabur, tetapi dua rentenir lain tiba-tiba muncul di hadapannya.

Keempat pria berjas hitam lainnya akhirnya berhasil menangkap Pak Yono, dan menyeretnya dengan paksa ke sebuah mobil hitam di luar gang

Salah satu pria berjas hitam lainnya berjalan perlahan menuju Hans.

"Hei, kamu lihat itu?

Dalam seminggu—Anda juga akan mengalami nasib yang sama," kata seorang pria berjas hitam.

"Jadi, lunasi utangmu."

"Utang macam apa yang bunganya tiga persen per hari?" ucap Sazha dengan suara kecil.

"Tunggu, sial ... kalian hentikan, beri aku satu jam, maka akan ku kembalikan uang yang kucuri tadi!" ucap Pak Yono sembari memberontak.

Pria berjas hitam lainnya mengabaikan kata-kata Pak Yono.

"Diam kau Pak Tua!" kata salah seorang pria berjas hitam sambil menarik Pak Yono dengan paksa ke dalam mobil.

"Tunggu dulu!! Biarkan aku bertaruh sekali saja, aku masih punya satu juta untuk dipertaruhkan!!"

Satu orang pria berjas hitam di samping Sazha tertawa terbahak-bahak saat melihat Pak Yono panik.

"AWKWOKWAWWWK..." Ia menyeka air matanya.

"Dasar bodoh ... makanya kau jadi pengecut seperti sekarang!"

Sazha sempat ragu saat pertama bertemu Pak Yono, tetapi dari dalam lubuk hatinya, ia merasa kalau bapak kumis itu sama seperti dirinya di masa lalu.

~ Tiba-tiba terdengar suara sirip ikan menggelepak

PLAK! PLAK!

"Oi," ucap Sazha.

"Huh?" Pria berjas hitam di sampingnya melihat ke arah Sazha.

Kini Sazha telah berubah menjadi seekor manusia ikan dengan penampilan yang sangat aneh—lalu ia menatap laki-laki itu dengan wajah serius.

Lelaki berjas hitam itu menjauh, dia berlari ke arah lelaki berjas hitam lainnya.

"Kau..." ucap Pak Yono.

Kini Sazha terlihat oleh seluruh warga kota yang lalu lalang, ada yang ketakutan, ada pula yang mengambil gambar, dan membuat video vlog.

"Ih ... itu benar-benar menakutkan..."

"Kotor banget, apa itu..."

"Apakah itu monster?"

Dan saat suasana kota makin riuh, saat itulah Sazha resmi ditetapkan sebagai binatang buas oleh warga kota.

Sazha mencoba berlari ke arah Pak Yono untuk menyelamatkannya, namun baru saja melangkah, Sazha terjatuh dan terpeleset karena kulitnya yang licin.

~

Suara tawa yang menggelegar bergema di sekelilingnya.

Semua warga kota yang menonton tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba Satpol PP dan polisi datang mencoba menenangkan situasi.

Sazha mencoba bangkit, tetapi dia terjatuh lagi karena tangannya sangat licin.

Penduduk kota tertawa terbahak-bahak saat melihat Sazha terjatuh untuk kedua kalinya.

"AWOAKOWKWKKWOK"

"Sangat konyol..."

"Apakah itu monster? Mengapa begitu bodoh?"

"Aneh."

"Lihat saja mulutnya."

"Matanya aneh ... seperti siput tapi terlihat lebih bodoh."

"Hans ... terima kasih ... aku tidak menyangka masih ada anak sepertimu di zaman sekarang." Pak Yono hanya bisa melihat Hans dari kejauhan sambil menangis.

"Oke!" kata seorang polisi yang tampak siap.

Polisi yang baru saja menerima telepon dari pusat—tiba-tiba mengambil pistol.

Dia mengarahkan pistolnya ke arah monster aneh di depannya.

Petugas kepolisian dan Satpol PP lainnya turut membantu mengarahkan warga agar menjauh dari lokasi kejadian, dengan memasang tali berwarna kuning hitam di sekeliling lokasi kejadian.

"Bu, ada apa?" kata seorang anak yang sedang digendong ibunya.

"Jangan dilihat, Nak. Itu hanya binatang buas. la akan segera mati."

"Tapi Bu ... itu terlihat seperti manusia..."

Perlahan-lahan, setetes demi setetes, air berbau busuk jatuh dari langit. Pada saat itu, kota mulai menangis dan tertawa, gemuruh guntur semakin terdengar dari arah langit yang sangat-sangat berkilauan.

Pada malam yang mulai lembab, seorang polisi memasukkan jarinya ke lubang pelatuk pistol.

Pak Yono terlihat panik

"SAZHA!!!"

"SIAP!"

"TEMBAK!"

"Saya masih punya mimpi." ~ Sazha.

Pada malam gerimis lembut itu, seekor binatang liar ... dinyatakan mati di tempat.

-

-

"SAZHA!!"

*suara sirine polisi

NGIU NGIU NGIU

Dari kejauhan terlihat seekor hewan liar yang tewas, air merah menggenang di bawah mayatnya.

"Tidak ... tidak..." Seorang pria berkacamata diam, pupil matanya mengecil, sambil meghadapkan matanya ke arah ikan liar itu.

"Dia mati?"

"Apakah dia baik-baik saja?"

"Kasihan..."

"Polisi sialan!"

"Bubarkan saja semua instansi polisi!"

"Nyawa mereka lebih rendah dari monster aneh itu!"

"Hewan kan juga berhak hidup..."

Terlihat beberapa pria berseragam abu-abu dengan topi hitam berpangkat kuning, mereka semua nampak diam, mata mereka mengarah ke arah satu sosok.

Seorang polisi dengan mainan hitam di tangannya.

"Aku ... aku..." Pria dengan benda hitam di tangannya kebingungan, napasnya mulai tersendak-sendak, ia melihat benda di sekitarnya memudar.

Seluruh wajah temannya seakan-akan mengatakan hal yang paling tidak ia inginkan.

"Kau membunuh hewan tak bersalah?"

"Zen, kenapa kau mengeluarkan mainan itu?"

"Seharusnya tidak usah kukasih kau mainan hitam itu."

"Ayah ... kenapa teman-temanku merudungku? Kenapa dosa seseorang juga menurun ke anaknya?"

"Zen ... maaf ... hewan itu ... ternyata manusia."

~

"A—Apa? Tunggu! Aku tidak bisa mendengar apapun—"

"Aku ... Aku benci punya Ayah polisi!"

"Ahh ... hitam memang lebih baik"

-

-

"Hans ... kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa Pak. Aku hanya ... merasa bersalah."

"Heh." Pak Yono mengambil kembali sisa rokoknya.

"Aku ... ingin tahu rasanya melihat kegelapan sesungguhnya..."

Pak Yono menghembuskan awan hujan yang ia buat.

"Kau hanya perlu menusuk matamu."

"Kalau begitu, kesunyian sesungguhnya."

"Kau hanya perlu pergi ke angkasa lepas."

"Hmm ... bagaimana ... kalau tinggal sendiri di planet lain?"

"Ah ... kenapa jadi kau yang menawarkan solusi, kampret!"

Di bawah teriknya hitam, dan gemerlapnya cahaya bintang, di sana, mereka berdua mengeluarkan satu emosi mereka—

—Ketenangan.

Hans tertawa, Pak Yono ingin tertawa, tetapi ia takut tersedak awan sehat buatannya.

"Ya ... pada akhirnya kita berdua akan berakhir menjadi tai di wc."

"Itu kau saja, aku akan menjadi bunga yang membuat orang lain patah hati, walau aku pupuknya sih."

"Si bodoh." Pak Yono melepas batang rokok dari bibir hitamnya.

"Tapi ... tanpamu mungkin aku sudah lama menjadi pupuk, Pak Yono."

"Heh, kau tidak jadi pupuk, malah aku yang jadi tai duluan."

"Huh, maaf!"

"Heh, jadi bagaimana?'

"Dia ... sehat seperti biasanya."

"Baguslah, kalau begitu..." Pak Yono berdiri dari silanya, kemudian membersihkan bokongnya dari kotoran.

"Aku pergi dulu..."

Hans perlahan berdiri juga dari duduknya.

"Hah, anu— terima kasih banyak, Pak!" Hans menundukkan kepala coklatnya.

"Heh, buang kata-kata itu dan ganti dengan membayar utangmu! Kampret!" Pak Yono melambaikan tangannya dari jauh sembari berjalan.

Mereka berdua tersenyum.

~

Dari dalam, terendus aroma pengharum ruangan rasa jeruk. Di dalamnya, terdapat lima semut dan satu ingus.

Ingus tersebut kali ini, menemukan kembali kegelapannya.

-

-

"Huh..."

"Kenapa Zen?"

"Ha? Tidak apa-apa ... hanya saja ... aku tidak merasakan apapun."

"Cih, itu mungkin karena kau sudah berak tadi pagi."

"Bukan ... bukan itu, payah."

"Owh ... hmmm ... pasti kau merasa lega."

"Ya ... aku tidak ingin tahu."

"Memangnya kau mau merelakan uang seratus jutamu begitu saja?"

"Diamlah! aku sedang sakit perut."

"Lagi-lagi kau menghindar ... akui sajalah."

"Akui apa?"

"Hei ... bahkan kau sedang memikirkannya sekarang."

"Yah ... mau gimana lagi ... kita tidak bisa berbuat apapun ... baik untuk negeri kita ... keluarga ... maupun diri kita sendiri."

"Kalau begitu, kau berhenti pipis dan buang air!"

"Huh ... bahkan diriku sendiri tidak mengerti maksudku."

"Iya ... itu maksudmu ... aku mengerti karena kau adalah aku dan aku adalah kau."

"Dari tadi kita ngomongin apaan?"

"Huh? Hmm ... oh iya! Masalah kau keluar dari lubang tikus!"

"Lalu harus bagaimana?"

"Hmm ... tinggal sogok lagi aja ... seharga mobil sedan mungkin..."

"Heh ... ya sudahlah aku kembali ke sana."

"Nah, itu baru bagus ... ingat! Tidak ada pilihan lain Zen ... ini semua demi masa tuamu."

Di atas cairan lava kelabu yang menguap, seorang pria mulut ganda ... kembali lagi mengindahkan bunga paku.

Pria itu membuka pintu di depannya. Ia membuka kedua belah katup matanya secara bersamaaan, wajahnya sangat amat panas layaknya lava di bawah ikan.

"PAMAN! Berikan aku seratus juta!"

"Haik, Baik!"

"Lihatlah, aku pasti kembali ... Hana..."

More Chapters