Ficool

Chapter 2 - Nap

"Hwahmmm..." Seorang pria menegakkan tubuhnya, tanpa nada negatif di otaknya.

Ia menunggu sebuah kejelasan. Tanpa sadar menggerakkan tangannya, meraba tangan yang lain. Malu akan hal itu. Mereka kembali mengikat, tidak seperti sebelumnya. Sebuah keindahan. Tiada yang mengganggu kulit itu sedikitpun.

Mengudara kembali, menuju sebagian wadah mimpi. Sangat lembut, tiada sama sekali kekerasan di permukaan.

Mendarat di hutan belantara, namun kali ini semuanya setara.

Riak itu kembali tenang.

Sang pria melihat benda terang, namun tertutup bayang-bayang seseorang.

Kakinya bergesekan, bertabrakan dengan permukaan baru.

Lutut ditegakkan, langkah kaki berdetak kencang di antara para jamur.

Tangannya mendorong, kaki kiri menapak, permukaan yang lebih kering.

Ia melihat dirinya sendiri.

Beruang hutan. Dan genangan air laut ditengah kemurnian.

"Ini sama sekali bukan aku, apalagi orang Asia, apa ... apa yang sebenarnya terjadi?"

Air itu mengalir di setiap pori-pori kulit.

"Lalu ... siapa sebenarnya orang ini?"

Leher tak lagi ditegakkan. Sorotan terhadap orang lain.

Mereka berotasi dan berevolusi. Ke berbagai sudut oksigen.

Pikiran curiga terhadap buku yang terasing dari kawan-kawannya.

Namun, tangan berkata lain, meraba sebuah wadah diri dan kembaran kita.

/* {Hans, 20, ..., 2, ...} */

Sang pria mengetuk. Sinar bergerak.

Ia menggesekkan jarinya. Tertuju pada suatu teks.

Saat melihat teks itu, entah mengapa ia melangkah, menggapai sebuah kain di udara, bertadah pada ibu jari hingga ia berhasil menggapainya.

Lengan dimasukkan, sang kain menyelimutinya, tetapi tidak dengan hal di dadanya.

Waktu berjalan, tanpa sumber dan tanpa kata jemu.

Seorang pria yang menggantungkan tangannya. Bergerak menuju sebuah tempat asing.

Tanpa diketahui penyebabnya.

Ia tetap mengunci lisan itu.

-----------------------------------------------------------------------------

"Matkul teori warna dari jam setengah sebelas sampai jam dua belas, lalu lanjut matkul sejarah seni dan desain dari jam setengah empat sore sampai dengan setengah enam malam."

Dalam gesekan jari yang kedua, sebuah teks menampilkan diri.

Ketukan jari.

Memperlihatkan gambar-gambar keras. Cahaya menghilang, sang pria menghela napas.

Melemaskan tubuhnya hingga bergesekan dengan kain kursi.

Mata memandang ke luar jendela bus.

Bingung mengenai apa yang harus dipikirkan.

Hingga, tubuhnya berhenti bergetar.

Kaki menginjak kain.

Kain dengan karet.

Sang kulit ingin bertemu dengan tanah.

Namun, tanah telah menyatu dengan minyak.

Kakinya terus bergerak. Semua mata memantulkan cahayanya.

Keramahan, rasa tenang, kebahagiaan, kepolosan, serta kepalsuan.

Semua makhluk itu merasuki sang pria.

Hingga kakinya berhenti, dihalangi oleh suatu hal.

Seorang perempuan di depannya.

Duanya lagi dari kejauhan.

Getaran kulit, serta beberapa butir air yang jatuh ke tanah.

Perempuan itu menatap makhluk di bawahnya.

Kertas origami warna merah muda.

Digenggamannya.

Kaki sang pria mundur selangkah.

Membentuk kerutan di bawah suara.

"Misi—"

Badan ditundukkan. Lengan diluruskan.

Jari-jemari dengan origami merah muda tepat di hadapannya.

Tangan yang mengudara, menembus berbagai macam pantulan yang menuju padanya.

Origami itu menghilang, bersamaan dengan hilangnya suatu hal.

Di koridor, tampak seorang mahasiswa.

Kembaran virtual di genggamannya, kekacauan nyata di kepalanya.

Jejak kaki terbimbun oleh langkah serupa.

Pipi seorang mahasiswa yang merona.

"Apa-apaan tadi itu!? "

Telapak tangan menghalangi mulutnya.

Ia masih memijak jejak serupa.

Hingga ia menghentikan langkahnya.

Mendorong penghalang udara.

Menarik mata semua mahasiswa.

Perlahan ia menggerakkan kakinya.

Menundukkan kepalanya dari semua senyuman dan godaan.

Punggungnya menyentuh kayu.

Tangan bergerak menuju kain yang terbuka.

Meraba sebuah surat di sana.

Hingga beberapa saat.

Tangan itu bergerak kembali ke atas kayu.

Terdengar suara dosen.

Ia bercerita panjang mengenai suatu hal yang sangat asing bagiku.

Pandangan yang dipenuhi titik hitam.

Kenapa ia bisa masuk ke dalam tubuh anak muda yang beruntung ini?

Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah anak muda itu menghilang begitu saja?

Lalu haruskah ia terus berpura-pura menjadi orang lain agar hidupnya lebih mudah, atau haruskah ia menjadi dirinya sendiri?

Dosen telah pergi.

Kini di hadapannya, berdiri perempuan berkulit putih bertubuh kurus.

"A-apa kamu mau i-ikut aku?"

Ia menyatukan kedua telapak tangan di depannya.

Jari-jemari yang tidak berhenti bergerak.

Menunduk.

Matanya menghadap ke arah lain.

Pria itu menegakkan lututnya.

"Owh."

"G-gak mungkin."

"Urat malunya sudah putus mungkin."

"Woooah."

Suara bising teman.

Sang pria tampak kelelahan.

Ia hanya bisa menurutinya.

"Dari aku kecil sampai berumur tiga puluh tiga tahun—aku ...

sebentar, biarkan aku mengingatnya.

Sepertinya aku tidak perlu mengingatnya."

Gelombang suara menggema setelah penghalang udara kembali.

Tawa kecil.

Suara rendah.

Suara tanpa ruang.

Medan yang mengudara.

Tiba.

Tanpa akibat yang pasti.

Diam adalah salah satu cara.

Telapak kaki berhenti menapak.

Kini hanya ada tanah dan karet.

Bayang-bayang daun menyelimuti pantulan mereka.

Memperhatikan hal yang tidak pernah ada.

Rambut panjang yang menari di atas rumput hijau.

Menenangkan hati.

Dan jiwa.

Kedua jiwa di bawah rumput.

Kemeja yang digemari cahaya.

Laut.

Kain panjang yang menyelimuti diri.

Mentari yang agung.

Maafkan aku.

Keagunganmu teralihkan.

Oleh satu jiwa.

Jiwa-jiwa kecil lain yang menggenggam cahaya itu.

Juga mengalihkan cahayamu.

Jiwa itu menggerakkan lisannya.

Mengatakan sesuatu kepada Hans.

Tetapi, sang pria tidak dapat mendengarnya.

Getaran menggema di seluruh kulit sang pria.

Kain mendekati tubuh.

Hingga tak terpisahkan.

Bibir yang tidak bisa mengayun.

Putih ingin memenuhi pantulan.

Masih menunduk.

Menggenggam kedua jari-jemari.

Memandangi kelopak matanya yang baru.

Jiwa yang agung.

Maafkan aku.

Keagunganmu teralihkan.

Oleh satu kelopak.

Yang kini berkembang menjadi nutrisi.

"Jakun—"

"Eh..."

"Wanita ini...

K-kenapa ada jakun di lehermu?"

Kerutan dahi.

Dua alis melangkah satu gerakan.

Mata yang dipenuhi tulang-belulang.

Rumput memanggil tubuhnya.

Hingga akhirnya saling bertatapan.

Tangan memanggil pipinya.

Mereka berdua berbagi atom bersama.

Api di salah satu sisi.

Bayangan di sisi yang lain.

Wanita itu memukul wajah Hans ... sementara ... mereka masih diawasi oleh banyak mahasiswa dan karyawan kampus.

Sazha memegang pipinya, ia mulai tertawa pelan, suara tawa seorang pria. Namun, tak seorang pun dapat mendengar suaranya.

Sazha menatap ke langit ... ia sempat mengatakan satu hal.

-

-

"Ini bukan salahku..."

More Chapters