Ficool

Chapter 11 - Bab 11 lewati kami dulu

WHUUUSH!

Bayangan Varnogh lenyap dari tempatnya dan muncul tepat di depan Amel dengan hantamam lutut ke arah dada.

"Ukh!" Amel terpental ke belakang menghantam mobil dan memecahkan kaca belakangnya 

Rey langsung bereaksi dengan melesat dan menebas ke arah Vernogh

"Tsck" desus Varnogh, memutar tubuhnya dan membentuk perisai energi tipis dari pergelangan tangannya, 

Rey terpental dan menghantam dinding toko di belakangnya

Zeks melesat cepat dari kanan, menghantam varnogh dengan kombinasi pukulan dan serangan siku

"Kau bukan satu satunya yang cepat, tapi tubuh keras mu membuat siku ku sakit" kata Zeks 

Varnogh menangkis satu pukulan, tapi tak sempat menghindari tendangan berputar dari sarah yang datang dari sisi kiri, kakinya menghantam kepala Varnogh dan membuatnya terdorong ke samping

Varnogh terseret beberapa meter, gesekan langkahnya menghancurkan aspal, dia membungkut sedikit, menyentuh bekas luka di belindung wajahnya, mata birunya berkedip cepat

"Menarik" gumam Varnogh "kalian tak seberuk yang kubayangkan"

Amel bangkit dari reruntuhan mobil, menyeka darah di bibirnya dengan lengannya "dia cepat dan sangat keras" 

"Dia juga analitis, tiap gerakan kita sedang dia catat" kata Rey

"Kalau begitu kita buat dia kebanjiran data" kata Zeks

"Formasi silang" kata Amel

"Jalankan" kata mereka dengan serontak

Zeks mengalihkan perhatian dari depan pukulan bertubi tubi menghantam pelindung varnogh, mendorongnya ke belakang, sarah masuk dari atas, lalu mendarat tepat di belakang varnogh dan menendang lututnya hingga varnogh tersungkur sedikit

Rey dan Amel melesat dan menebas varnogh dengan sangat cepat dan kuat 

"HAAAAH!" sorak mereka melesat ke varnogh

Duaaaar! Ledakan tekanan menghantam jalanan, debu mengepul tinggi

Varnogh terdorong, meluncur mundur dan menghancurkan satu truk yang parkir di jalan, asap mengepul dari dadanya, dia bangkit perlahan, nafasnya berat, tubuhnya terguncang, namun bibir menyeringai tipis.

"Kalian memang penghalang yang layak... Tapi ini tidak cukup" kata vernogh sambil menekan alat kecil di lengannya 

"Rekaman selesai, prioritas ditetapkan, target utama:Raida"

Sebelum mereka sempat bergerak, tubuh Varnogh memucat, lalu berubah menjadi partikel cahaya biru menghilang.

mereka berdiri di tengah jalan yang rusak, napas terengah, pakaian kotor oleh debu dan serpihan.

Amel menatap tempat kosong di mana Varnogh berdiri. "Dia bukan hanya pemburu... Dia pengumpul informasi"

Zeks mengepalkan tangannya "mereka sedang merencanakan sesuatu"

Rey menatap langit yang kini mulai gelap, "dan mereka tak akan berhenti... Sampai Raida di temukan"

"Dan pertanyaannya sekarang... Raida ada di mana?" kata Sarah

Di kejauhan, di puncak sebuah gedung tinggi yang menghadap langsung ke pusat kota, Raida berdiri seorang diri. Jubahnya berkibar lembut diterpa angin senja. Sorot matanya tajam, tapi wajahnya diam seolah terukir dari batu yang menyimpan luka.

Langit di atasnya membara oranye tua, seperti bara yang perlahan padam, Namun di bawah sana, kota terlihat remuk jalan-jalan retak, kaca gedung berhamburan, dan bekas serangan dari pertempuran masih mengepul pelan

Raida berdiri di ujung atap, memandang ke bawah tanpa suara.

Ia melihat jejak langkah Amel dan yang lain, yang tadi bertarung demi mencegah Varnogh tanpa tahu bahwa mereka sedang diperhatikan sejak awal.

"Mereka sudah sejauh dan sekuat ini..." gumam Raida perlahan, suaranya tertahan angin 

Matanya menatap sisa kehancuran. Luka di kota ini bukan luka pertama yang pernah ia lihat. "Tapi tetap saja... rasanya perih." gumamnya lagi

Ia menutup mata sejenak. Angin menyapu rambutnya, mengangkat helaian kecilnya ke udara. Di balik kelopak matanya yang tertutup, kenangan lama berkelebat jeritan, kehilangan, dan rasa bersalah. "Jika aku muncul... Mereka akan jadi target. Jika aku tak muncul... Mereka mungkin akan mati" 

Pikirannya terbelah, namun hatinya menegang seperti pedang yang belum dicabut.

Tiba-tiba, sesuatu terasa berdetak di dadanya bukan fisik, tapi seolah dunia mencoba memanggilnya kembali.

Atau mungkin… teman-temannya.

Raida membuka mata. " waktu yang ku pinjam semakin dekat"

Ia menoleh ke barat, arah matahari tenggelam, lalu menunduk sekali lagi melihat bekas pertarungan.

"Amel... Rey... Sarah... Zeks... Semua ini belum berakhir, mereka akan terus mencari" kata Raida

Dengan satu langkah ringan, Raida berjalan menjauh dari tepi atap tubuhnya mulai menghilang perlahan, seperti ditiup angin, meninggalkan jejak cahaya tipis yang memudar seiring turunnya malam.

Kota masih diam. Sisa pertempuran tadi belum sempat diurai oleh waktu, dan udara masih menyimpan aroma debu serta terbakar. Tapi hanya dalam sekejap... Waktu seakan berhenti 

Aspal hancur tersapu, gedung gedung yang runtuh mulai terbaiki, jendela yang pecah dan logam bengkok kembali ke bentuk semula, asap menghilang, jalan jalan bersih kembali, bahkan suara angin pun menjadi tenang.

Amel menatap sekeliling dengan mata lebar. "Apa... yang terjadi?"

Sarah meletakkan tangan di dinding yang tadi retak dan kini utuh. "Ini bukan ilusi… ini nyata…"

"Ini hanya bisa dilakukan oleh satu orang..." kata Zeks

Rey memandang langit, lalu mengangguk.

"Raida."

Mereka semua terdiam. Di tengah kota yang semula porak-poranda, kini seolah tak pernah disentuh konflik. Tidak ada yang berubah…

Di atas gedung yang sama, Raida berdiri lagi.

Ia mengamati mereka seperti bayangan yang tak pernah bersuara.

"Aku ingin menyapa kalian... tapi belum saatnya, Dunia ini belum aman... dan aku belum siap membawa kalian ke dalam bahaya yang lebih besar." gumam Raida

Matanya tampak berat bukan oleh kekuatan, tapi oleh beban hati, Ia tahu mereka mencari, Ia mendengar setiap panggilan dalam diam, Namun ia tak bisa... belum.

"Maafkan aku..." kata Raida

saat Amel menatap langit dengan harapan, tepat ke arah Raida berdiri, Raida sudah menghilang, Hanya angin yang menjawab mereka.

Amel mengepalkan tangan "Dia di sini… aku yakin."

"Tapi kenapa dia tidak muncul?" tanya Sarah

"Mungkin karena dia masih melindungi kita... dengan caranya." balas Rey

"Kalau begitu… kita tidak boleh berhenti." kata Zeks

Langit malam mulai menguasai kota. Lampu jalan menyala satu per satu, menandai transisi dari hari ke malam, Di atas salah satu gedung tertinggi, Raida berdiri diam, matanya masih mengamati pusat kota yang telah ia pulihkan.

Namun angin yang tadi tenang… kini berubah, Lebih berat, Lebih dingin, Raida tahu ia tidak sendiri.

"Sudah lama… kau tak turun tangan langsung seperti tadi," ucap sebuah suara tenang namun dalam, muncul dari balik menara logam tua di belakangnya.

Raida tak menoleh. Ia hanya menghela napas pendek, "Kau mengikutiku lagi, Aurvan?"

Dari bayangan, muncul seorang pria berjubah hitam perak, wajahnya tertutup sebagian oleh topeng ramping berbentuk elang. Aurvan anggota dari pasukan pelindung galaxsi, sekaligus salah satu pemimpin divisi seperti Raida

"Bukan mengikutimu. Hanya memastikan... kau belum melanggar batas." kata Aurvan

"Memulihkan kota bukan pelanggaran." Balas Raida 

Aurvan menyilangkan tangan."Tapi menyaksikan orang-orang yang mencarimu tanpa memberi mereka jawaban itu bisa disebut kekejaman."

Raida terdiam. Matanya memejam sebentar.

"Aku tahu, Tapi jika mereka tahu semuanya… mereka takkan sanggup bertahan."

Aurvan melangkah pelan ke pinggir atap, berdiri sejajar dengan Raida, memandang ke bawah.

"Mereka lebih kuat dari yang kau kira. Kau harus percaya… seperti dulu mereka percaya padamu." kata Aurvan

Raida menggenggam sisi jubahnya. Suaranya nyaris tak terdengar, "Jika mereka mati karena aku… aku tidak akan memaafkan diriku."

"Lalu, sampai kapan kau akan menghilang, Raida?" tanya Aurvan

Hening.

"Sampai mereka tidak membutuhkanmu? Atau sampai kau merasa cukup kuat? Tapi kapan itu, Raida? Dunia tidak menunggu." kata Aurvan

Raida menoleh perlahan, Matanya tak lagi redup namun memantulkan tekad yang lama tenggelam.

"Bukan aku yang memutuskan waktunya. Tapi dunia akan tahu... kapan aku harus kembali." kata Raida

Aurvan menatapnya sebentar, lalu menoleh ke arah langit. "Maka bersiaplah. Waktumu tidak banyak."

seketika, tubuh Aurvan menghilang dalam semburat cahaya biru redup, meninggalkan Raida seorang diri kembali di atap namun kini, dengan bayangan keputusan yang kian dekat.

More Chapters