Langkah Raida maju satu jengkal. Lalu dia melesat dalam satu kedipan mata, pedangnya menebas dari atas.
Vanirs mengangkat tombaknya.
CLAAANGG!
Benturan keras memantulkan suara yang menggema
Raida terus menekan, serangan kedua langsung menyusul dari samping, lalu tikaman ke perut. Vanirs menghindar, tapi tak sempurna. Sebilah cahaya menggores bahunya, membuat celah menyala samar di kulitnya.
"Hebat... teknik mu hebat" kata Vanirs
Vanirs melompat ke udara, tombaknya berputar lalu menghantam dari atas. Raida memutar tubuh, menangkis, lalu membalas dengan tendangan keras ke perut.
DUMM!
Tubuh Vanirs terpental menghantam tiang lampu yang retak seketika. Vanirs terluka parah
"Hahaha, kau memang sangat kuat, kau selalu melebihi prediksi tuan ku" kata Vanirs
Raida hanya terdiam sorot matanya tetap tajam
Vanirs tertawa lemah, darah terus menetes di tubuhnya
"Tapi... Apa kau akan mengamuk dan kehilangan dirimu lagi?, sama seperti waktu itu saat kau kehilangan kekasih mu..., kalau tidak salah namanya adalah..." kata Vanirs yang tiba tiba terhenti
ZRAAKK!
Raida melesat dengan sangat cepat, menusuk Vanirs, pedangnya menembus dada vanirs
"Jangan kau sebut namanya dari mulut mu itu" kata Raida yang menusuk Vanirs lebih dalam
"Khuk... Jadi begitu ya... Kau ingin mengahiriku..." kata Vanirs, tubuh vanirs mulai retak dan menjadi debu
"Kau... Bertambah kuat saat kau bersama dengan orang orang yang kau sayangi... Tapi aku hanya mengingatkan mu satuhal... Kehancuran mu dan akhir mu sudah dekat..." kata Varnirs
"Aku tau itu... Tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini, sampai saat itu tiba aku akan melindungi sesuatu yang berharga bagiku" kata Raida lalu menjabut pedangnya dari tubuh Vanirs
Tubuh Vanirs mulai menjadi debu lalu dia tersenyum "kau memang melebihi prediksi ku" kata Vanirs, setelah itu tubuhnya menjadi debu sepenuhnya
Waktu mengalir kembali, angin pertama kembali bertium, membuat jubuh yang Raida pakai berkibar
"Raida..." kata Amel
"Kalian... Ingin tahu segalanyakan... Aku akan memberitahu kalian apa yang sebenarnya terjadi" kata Raida
Pada hari itu, Markas tampak gelap, hanya diterangi lampu holografik di dinding dan cahaya lembut dari layar-layar kecil.
Amel, Rey, Zeks, dan Sarah duduk diam di ruang utama. Mereka baru saja kembali dari pusat kota, setelah pertarungan panjang yang nyaris menelan mereka semua.
Pintu terbuka pelan, Raida masuk, langkahnya tenang, namun auranya terasa berat. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya berjalan ke kursi di tengah ruangan tempat ia biasa duduk.
Ia duduk. Menunduk sejenak. Lalu membuka suara.
"Aku akan menceritakan semuanya... Hal yang selama ini ingin kalian ketahui" kata Raida
Semua terdiam. Amel menatapnya dalam, dan tak menyela.
"Kalian pasti sudah dengar dari ibuku kan, tentang aku kehilangan sahabat ku waktu kecil" kata Raida
"Aku akan menceritakan saat aku di markas utama pasukan pelindung galaxsi, aku kehilangan teman temanku dan kekasihku yang aku cintai" kata Raida
Amel menunduk saat mendengar itu, Rey dan yang lain menghela nafas
"Waktu itu terjadi perang yang sangat besar, perang itu melawan sebuah organisasi. Kalian tahu trion dan vanirs mereka adalah komandan di organisasi itu, mereka selalu menginginkan sumber kehidupan planet..." kata Raida yang lalu di potong oleh Zeks
"Apa yang mereka lakukan dengan sumber kehidupan sebuah planet?" tanya Sek
"Mehidupkan planet yang menjadi markas mereka, planet mereka sudah mati, waktu itu terjadi perang untuk menghalangi mereka, karena menyerang planet yang menjadi salah satu sumber daya markas kami, perang pecah di planet itu waktu itu kami berpikir akan menang kerena musuh berhasil di buat mundur, tapi kami salah musuh mendapat bala bantuan," Kata Raida
Suasana lebih tegang,
armada yang mereka serang terlebih dahulu adalah armada yang di pimpin kekasih ku, waktu itu aku berada jauh dengan nya, saat aku dengar armada bantuan musuh menyerang armadanya, aku langsung pergi menuju padanya, tapi aku terlambat semua nya sudah berakhir...waktu itu aku hanya... Bisakah sampai sini saja aku menceritakan ini?" kata Raida
Raida menunduk karena teringat kejadian itu
Amel berdiri lalu mendekati Raida
"Sekarang ini aku..." kata Raida yang terputus karena Amel memeluknya
Raida tidak melawan, dia menerima pelukan hangat Amel dan menutup matanya
"Kau tak sendirian Raida... Kau tak perlu menanggung semuanya sendiri" Kata Amel
Rey berdiri
"Kau selalu menyelamatkan kami Raida kau membuat hidup kami berubah, sekarang giliran kami yang akan berdiri di samping mu" Kata Rey
Zeks mengangguk, sarah tersenyum tipis
"kalau kau ambruk... Siapa yang akan memimpin kami Raida, siapa yang akan memimpin kami melawan mereka" kata Zeks
"Benar kau adalah seorang pemimpin... Kau memiliki kami kami akan selalu ada untuk mu" kata Sarah
Amel masih memeluk Raida "kau dengar kata mereka... Jadi berhentilah berprilaku seperti ini" kata Amel
"Kalian..." kata Raida lalu tersenyum tipis
"Tapi sebelum itu... Amel apa kau akan terus memelukku seperti ini?" kata Raida
Amel tersentak, dia melepas pelukannya wajahnya memerah
Semua orang tertawa karena itu
"Kalian kembali lah kerumah kalian masing masing... Orang tua kalian pasti khawatir, beberapa waktu ini kalian tidak pulangkan" kata Raida
Mereka mengangguk
"Dan mulai besok... Kita akan mulai latihannya lagi" kata Raida
"Apa... Kenapa" keluh Zeks
"Gerakan dan formasi kalian sudah bagus tapi teknik dan kekuatan kalian masih lemah, aku akan membuat kalian lebih kuat lagi" Kata Raida
Semau tersenyum "itu lah pemimpin kami..." kata Rey
Pada saat itu langit menjadi lebih cerah, menyinari kapal luar angkasa yang menjadi markas mereka,
Di atap sebuah gedung, Raida duduk di tepian sendirian, "mereka di luar prediksiku" kata Raida sambil memandangi kota
Lalu dia memejamkan matanya dan teringat sebuah kenangan saat bersama lily, dalam ingatan itu Raida dan lily sedang duduk di suatu tempat di markas pasukan pelindung galaxsi untuk melihat bintang bintang
"Hei... Raida" kata lily
"Ya...?" balas Raida
"Kau mencintaiku kan?" kata lily
"Tentu saja aku mencintai mu, aku mencintai mu lebih dari apa pun" kata Raida sambil menggelitiki lily, lily tertawa karena itu dan mereka terbaring di tanah dan terus tertawa
"Kenapa kau tiba tiba bertanya seperti itu?" tanya Raida
"Jika aku tiada, apa yang akan kau lakukan?" tanya lily balik
Raida duduk dari baring nya karena kaget akan perkataan lily "kenapa kau bilang seperti itu... Tentu saja aku akan sedih dan kesepian tanpamu, aku akan merasa sangat terpuruk jika kau tiada, jangan bilang begitu seakan kau akan pergi" kata Raida
Lily tertawa dan senang karena Raida berkata seperti itu menandakan kalau dia sangat mencintainya "tanang saja aku hanya ingin tahu reaksimu"
"Jangan bercanda seperti itu lagi" kata Raida
Lily ikut duduk dan mencium Raida, Raida tak melawan dan mereka saling berciuman
"Aku tidak akan mati bodoh... Aku akan selalu bersama mu" kata lily lalu bersandar di bahu Raida
"Tapi jika aku benar benar mati suatu hari nanti... Aku ada permintaan" kata lily
"Katakan...?" balas Raida
"Tolong lupakan aku... Jangan siksa dirimu karena aku" kata lily
"Itu tidak akan terjadi... Aku akan selalu melindungi mu... Aku tidak akan kehilangan mu" kata Raida lalu mencium lily
Lily menerima ciuman itu, mereka saling berpelukan
Raida membuka matanya lalu mengepalkan tangannya "aku akan tetap balas dendam untuk mu... Dan..?" Raida teringat teman temannya sekarang. "Dan juga aku akan melindungi mereka, tidak akan ku biarkan mereka mati"
Raida kembali ke rumahnya, dia berdiri di depan pintu, dia menghela nafas sebelum masuk, saat dia membuka pintu lalu masuk, ibunya berlari untuk memeluknya.
Raida tersenyum saat ibunya memeluk dirinya, raida membalas pelukan itu "aku pulang bu... Aku minta maaf karena membuatmu khawatir"
"Tak apa selama kau pulang itu tak apa" kata ibu Raida, sambil memeluk Raida dengan erat