Ficool

Chapter 14 - Bab 14 mantan tunangan

Waktu fajar di markas dan matahari masih belum terbit, Raida sedang melatih Amel dan yang lain, mereka latihan fisik dengan lari jarak pendek,

"Ayo seratus putaran lagi... Semangat" sorak Raida

Amel, Sarah, Rey, Dan Zeks terengah engah, sambil terus berlari

"Ayo semangat" sorak Raida

"Raida bisakah kita istirahat sebentar" kata Zeks yang terbaring di tanah

"Kalian ingatkan saat melawan vanirs kalian hampir mati... Ayo berdiri dan lanjutkan lari mu jangan mengeluh" kata Raida

Zeks melanjutkan larinya, setelah beberapa saat mereka berhasil menyelesaikan larinya, mereka langsung terbaring di tanah dengan terengah engah

"sangat melelahkan" kata Amel sambil terengah engah

"Bagus... Kita lanjutkan latihan yang lain" kata Raida

"Apa... Bisakah kita istirahat dulu sebentar" kata Amel

Raida menghela nafas "baiklah kita istirahat dulu"

Matahari mulai terbit,

"Sepertinya kita sudahi dulu latihannya, kita lanjutkan setelah sekolah berakhir nanti... Aku akan mengajarkan kalian. kekuatan untuk mengendalikan elemen dan aku juga akan memberikan kalian senjata baru nanti" kata Raida

"Apa senjata dan teknik baru..." kata Zeks

"Kalian bersiaplah untuk ke sekolah..." kata Raida setelah itu melesat pergi dari sana

"Latihan yang Raida berikan benar banar keras sekali" keluh Zeks

"Jangan mengeluh dia membuat latihan sekeras ini demi kita juga" kata Sarah 

"Kau benar... Dia tak ingin kejadian yang menimpa teman temannya terjadi pada kita... Dia melatih kita agar kita menjadi lebih kuat" kata Rey

"Dan juga setelah Raida kembali dari menghilangnya... Ada yang sudah tidak murung lagi sekarang" kata Zeks sambil melirik kepada Amel

Wajah amel memerah "Kenapa kau bicara seperti itu sambil melirik kepadaku?" kata Amel

Sarah merangkul dari belakang "banar apa yang Zeks bilang, kau jadi lebih ceria saat Raida kembali" kata Saras

Wajah Amel semakin memerah "Sarah kenapa kau ikut ikutan?"

"Bahkan saat sebelum Raida menghilang kau selalu meliriknya di kelas, saat dia belum mempunyai teman kau membantu mencari teman untuknya, dan kau bahkan mamarahinya saat dia terlalu sibuk bekerja... Seperti seorang istri" kata Rey

"Rey... Kau juga" kata amel yang semakin tersipu

"Oh... Aku baru ingat kau juga selalu masak untuknya juga" kata Zeks

"Kalian tolong hentikan... Aku... Tidak" kata amel

"Ayo lah mengaku saja...? Aku ini sudah bersama mu sejak kecil" kata Sarah

Wajah amel sekarang sudah sangat merah karena malu "kalian tolong hentikan..." kata Amel Sambil menutup mukanya

"Baik... Baik... Kami minta maaf tapi jika kau ingin lebih dekat dengannya kami bisa bantu" kata Sarah dengan jahil

"Sudah kubilang hentikan..." teriak Amel

Di sekolah Amel dan yang lain sampai di sekolah, Amel terlihat kesal karena perlakuan Sarah dan yang lain tadi pagi

"Amel... Maafkan aku... Kami hanya menggoda mu tadi" kata Sarah

"Hemh" Amel memalingkan wajahnya

Mereka masuk ke kelas di sana sudah ada Raida, Sarah mengeluarkan seringai jahil.

Lalu dia menarik Amel kepada Raida "hei Raida... Amel ingin bicara sesuatu" 

"Eh?" Amel kebingungan

"Aku pergi dulu..." kata sarah lalu kabur

"Sarah!!" teriak Amel

"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" tanya Raida

Wajah Amel sedikit memerah "tidak bukan apa apa... Dari tadi pagi mereka selalu menjahiliku"

"Memang apa yang terjadi sampai sampai mereka mejahilimu?" tanya Raida

"Tidak... Bukan apa apa hanya masalah kecil saja" wajah Amel memerah

"Kau terlihat tak sehat, apa kau sedang sakit?" kata Raida

"Aku... Baik baik saja" balas Amel

"Wah... Kaku sekalai dan terlihat sangat canggung" kata Sarah yang mengawasi dari luar kelas

Zeks, dan, Rey datang dari belakang Sarah

"Apa yang kau lakukan?" tanya Zeks

"Sst" sarah menyuruh mereka diam dan memberi isyarat untuk melihat saja

Rey, dan Zeks bingung lalu ikut mengintip

"Apa yang sedang amel lakukan...?" tanya Zeks

"Sst... Diam lah aku tadi membantu amel agar lebih dekat dengan Raida" balas Sarah

Salah satu guru laki laki yang akan masuk kekelas menyapa mereka dan menanyakan tingkah Sarah, Zeks, dan Rey.

"Apa yang kalian lakukan di pintu masuk...?" tanya guru

Sarah, Zeks, dan Rey tersentak karena kaget tiba tiba ada guru di belakang mereka.

"Apa yang sebenarnya mereka lakukan...?" kata Raida

"Masuk lah kedalam kelas... Aku akan memperkenalkan seorang murid pertukaran" kata guru

"Baik..." kata mereka bertiga

Namun sarah tampak tak asing dengan murid pertukaran itu, setelah itu mereka masuk kedalam kelas di susul oleh guru

"Ayo semuanya duduk di tempat masing masing, kita kedatangan murid pertukaran hari ini" kata guru

Semua murid duduk di mejanya masing masing

"Ayo masuk lah..." kata guru pada murid pertukaran

Murid pertukaran itu masuk ke dalam kelas,amel kaget saat melihat murid itu

"Kau..." teriak Amel

"Wah... Ternyata kau sekolah di sini ya Amel" kata murid pertukaran itu

"Apa kalian saling mengenal...?" tanya guru

"Yah... Orang tua kami dulu sering bersama jadi kami saling mengenal" kata murid pertukaran

"Oh... Baik lah perkenalkan dirimu dulu, reoninya nanti saja" kata guru

"Baik.." Kata murid pertukaran lalu maju selangkah

"Namaku adalah Raka arlando, aku murid pertukaran dari inggris, mohon bantuannya untuk beberapa minggu kedepan" kata Raka

"Nah... Karena Amel dan Raka saling mengenal makan. Amel nanti ajak raka berkeliling sekolah" kata guru

"Baik..." kata Amel 

Raida melirik Amel dari mejanya, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela

"Kau duduk lah di tempat kosong disana" kata guru yang menunjuk tempat duduk di samping Raida

"Baik... Lah mari kita mulai pelajarannya" kata guru

"Salam kenal... Nama ku Raka, boleh aku tau nama mu" kata Raka yang mengajak Raida berjabat tangan

Raida hanya melirik "Raida.." kata Raida dengan singkat dan tak membalas jabat tangannya

Raka menurunkan tangannya "jadi nama mu Raida... Salam kenal"

Di jam istirahat Amel dan Raka sedang berkeliling sekolah "aku tak menyangka kalau murid pindahan itu adalah kau... Bagai mana kabarmu selama di inggris" kata amel

"Aku baik disana... Aku memiliki banyak teman yang ramah, dan selalu baik padaku" kata Raka

"Aku tahu kau pasti sangat mudah mendapat teman, kau selalu ramah dengan semua orang" kata Amel

"Tapi tadi ada orang yang sulit di ajak bicara, dia sangat dingin saat ku ajak bicara" kata Raka

"Pasti itu Raida" pikir Amel

"Kalau tidak salah namanya tadi... Raida" kata Raka

Amel menghela nafas "sudah kuduga" 

"Kenapa dengan orang itu memangnya?" tanya Raka

"Raida memang selalu begitu, sifatnya memang dingin tapi jauh di lubuk hatinya dia adalah orang yang ramah" kata Amel

"Benarkah... Apa kalian dekat?" tanya Raka

"Yah... Kami sedikit dekat, aku yang membantu Raida mendapat beberapa teman" kata amel

"Nah... ayo, aku akan mengajak mu berkeliling ke tempat lain" kata Amel sambil menarik tangan Raka

Di sebuah taman Amel sedang mengajak dan memperlihatkan berbagai tempat kepada Raka,

Dari di dalam kelas Raida dan yang lain melihat Amel sedang mengajak Raka berkeliling dari jendela

"Apa hubungan mereka...?" tanya Rey

"Mereka dulunya adalah tunangan" kata Saras

"Apa... Tunangan" kata Zeks

"Jadi... Mereka adalah tunangan pantas mereka tampak sangat dekat" kata Rey

"Tapi itu dulu... Pertunangan mereka di batalkan" kata Sarah

"Kenapa bisa begitu...?" kata Zeks

"Itu karena Amel tak ingin bertunangan dengan Raka lalu meminta Raka untuk membatalkan pertunangan itu... Yah karena Raka tak ingin cinta sepihak dan memaksa Amel untuk bertunangan, jadi dia membatalkan pertunangannya" kata Sarah

"Aku jadi tambah penasaran dengan apa yang mereka bicarakan... Raida ikut aku, kita akan mengikuti dan menguping mereka" kata Sarah

Raida kaget dan heran "hah... Kenapa aku?" 

"Sudahlah ikut saja" sarah menarik Raida 

Di balik sebuah pohon, sarah dan Raida mengikuti Amel dan Raka

Amel dan raka saling tertawa bersama, "hubungan yang sangat manis" kata Sarah

"Bisakah aku pergi?..." kata Raida

"Tidak... Kau harus menemaniku mengikuti mereka" balas sarah

"Kenapa tidak dengan zeks saja?" kata Raida

"Sudahlah... Diam dan ikuti saja" kata Sarah

"Kenapa aku harus terbawa oleh kisah asmara bawahan ku" kata Raida lalu menghela nafas

"Sudah lah jangan mengeluh... Ayo cepat mereka pindah tempat" kata Sarah

Raida dan Sarah terus membuntuti Amel dan Raka dari kejauhan.

Amel dan Raka kini duduk di bangku taman, di bawah pohon besar yang daunnya berguguran perlahan diterpa angin pagi.

"Aku ingat dulu kita sering main petak umpet di dekat sungai," kata Raka sambil tersenyum.

"Iya, dan kau selalu ketahuan karena tertawa sendiri," balas Amel sambil tertawa kecil.

Sarah yang mengintip dari balik semak lalu berbisik pada Raida , "lihat itu? Dia membuat Amel tertawa!"

Raida hanya menatap tanpa ekspresi. "Dia memang pandai bersikap hangat."

Sarah melirik Raida, lalu menyeringai. "Kau cemburu ya?"

Raida menoleh, "lihatlah dengan jelas, apa wajah ku ini terlihat seperti orang yang sedang cemburu?" kata Raida dengan datar

"Aakh... Kau memang tidak bisa di ajak berjanda" balas Sarah

Raida mundur sedikit, "Sudah cukup. Kita kembali ke kelas saja."

Namun sebelum mereka beranjak, terdengar suara Amel.

"Raka... Aku senang bertemu dengan mu, tapi... hidupku sekarang sudah berbeda." kata Amel

Raida dan Sarah otomatis berhenti bergerak.

Raka menatap Amel dengan tenang. "Maksudmu?"

"Aku sudah bukan gadis kecil yang dulu kau kenal. Ada seseorang yang... membuatku ingin jadi lebih kuat. Seseorang yang tak pernah menyerah, bahkan ketika sendirian." kata amel dengan nada lembut

Raka tersenyum tipis. "Kau mencintainya, ya?"

Amel tertunduk, "ya..."

"apa pun perasaan mu itu aku akan mendukungmu," kata Raka lembut.

Amel menatap Raka dengan lega. "Terima kasih, Raka..."

Pada saat yang sama Raida merasakan sebuah energi yang tak asing baginya, ia perlahan berdiri dari tempat persembunyiannya dan berjalan pergi, meninggalkan Sarah.

"Eh? Hei! Mau ke mana kau?" bisik Sarah.

"Ada sesuatu yang harus aku lakukan" kata Raida lalu pergi meninggalkan sarah

Di belakang sekolah di tempat yang sepi dan tak ada seorangpun Raida berhenti "keluarlah?... Aku tahu kau ada di sini?" 

"Sudah ku duga?... Kau bisa menyadari keberadaan ku" kata sebuah suara dari balik kegelapan

Dari balik kegelapan keluar sosok humanoid dengan tubuh bersisik berwarna unggu,tinggi 2 meter, gigi runcing, memakai sebuah armor canggih berwarna hitam dan putih,

"Kau Gezon kan?... Bukan kah kau pengikut setia orang itu, Apa dia yang mengirim mu kemari" kata Raida dengan mengeryitkan alis

"Tenanglah... Aku kemari hanya ingin memberi tahu mu sesuatu, tapi sebelum itu, kenapa kau menyebut tuan ku dengan sebutan orang itu apa kau lupa namanya?" kata Gezon

"Bagaimana aku bisa lupa dengan namanya... Aku tidak akan pernah melupakan orang itu... Aku persumpah aku akan membunuh tuan mu, temasuk juga kau" kata Raida 

"Nama orang itu nebros bukan... Aku tidak pernah lupa dengannya" kata Raida

"Sekarang katakan apa tujuan mu?... Apa yang ingin kau katakan?" tanya Raida

"Aku hanya ingin memberi tahu mu... Kalau orang yang menyebabkan perang yang membuat taman teman mu tiada adalah manusia..." kata Gezon

Raida kaget dan seakan tak percaya "apa maksud mu?... Orang yang menyebab kan perang itu adalah manusia?... Itu sungguh tak masuk akal?..." teriak Raida

"Aku tidak bercanda... Manusialah yang menyebabkan perang itu" balas Gezon

"Sungguh tak masuk akal... Dan kenapa aku harus percaya pada musuh?" kata Raida 

"Percaya atau tidak, tapi ini adalah fakta... Aku kesal pada orang itu dia selalu saja berdiri di dekat singgasanan tuan ku... Dia selalu mengasut tuanku... Dia juga yang mengahasut tuan ku untuk memulai perang waktu itu" kata Gezon

Raida mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya dengan kuat

"Ini adalah fakta Raida... Tapi jika kau tak percaya... Suatu hari nanti juga kau akan mengetahuinya" kata Gezon

"Lalu kenapa?... Kenapa kau memberi tahu mu hal ini?... Apa kau mengkhianati tuan mu?..." kata Raida dengan nada berat

"Aku tidak menghianatinya... Aku hanya kesal pada manusia yang selalu di sisinya" kata Gezon

"Apa informasi ini dapat di percaya?..." kata Raida dengan nada berat

"Sekali lagi ku katakan... Percaya atau tidak itu urusan mu... Yang ku katakan adalah fakta" kata Gezon

"Aku tak bisa berlama lama di sini... Mereka akan mencurigai ku" kata Gezon lalu menghilang

Raida mengepalkan tangan nya lalu berteriak dan menghantam pohon.

BOOM!!

Pohon yang di hantam Raida hancur dan tak membuat sisa "jika manusia yang memnyebabkan perang itu... Lalu untuk apa aku melindungi manusia selama ini" 

Raida mencoba menenangkan diri dengan menghela nafas lalu menepuk pipinya sendiri "sadar lah itu hanya satu manusia jangan membuat yang lain terlibat... Tapi siapa manusia itu"

Di markas, pada sore hari Raida berdiri di hadapan Amel, Sarah, Zeks, dan Rey, pada saat itu Raida teringat kata kata Gezon "manusialah yang menyebabkan perang itu" pikir Raida

"Raida... Apa ada yang mengganggu mu" kata Amel

Raida kaget "maaf... Kita mulai saja latihan sore ini"

"Sore ini kita mulai pelatihan elemen," kata Raida dengan suara tegas.

"Elemen?!" seru Zeks. "Kita akan bisa mengendalikan api dan petir"

"Ya," kata Raida. 

"Tapi kekuatan itu akan menuntut kedisiplinan dan kontrol diri yang lebih besar dari sebelumnya." kata Raida 

Dia lalu menjentikkan jarinya. Lingkaran simbolik bercahaya muncul di tanah, dan empat bola kecil energi muncul, masing-masing melambangkan api, es, angin, dan tanah.

"Wah... Apa itu sihir?" tanya Seks

"Bukan... Tapi hal yang mirip dengan sihir, sihir adalah sebuah kekuatan yang menggunakan mantra, berbeda dengan yang ku gunakan sekarang seperti memanipulasi eleman, caranya dengan menggunakan energi dalam tubuh kita, lebih dalam istilah manusia ini biasa di sebut chi atau prana" kata Raida

"Sekarang kalian pilihlah eleman yang ingin kalian pelacari terlebih dahulu?" kata Raida

"Jadi kami juga bisa mempelajari semua eleman juga?" tanya Rey

"Tentu saja... Kenapa tidak, tapi kalian harus menguasai eleman yang cocok utuk kalian dulu"

Amel memilih api, sara memilih es, Rey memilih petir, dan Zeks memilih tanah

Raida tersenyum, "bagus pilihan yang cocok untuk kalian, dan untuk selanjutnya ada sesuatu yang akan ku berikan"

Raida mengeluarkan sebuah kapak raksasa "Zeks... Karena kau selalu menggunakan kekuatan mu maka terimalah sejata ini, nama nya adalah great Axe"

Lalu Raida juga mengeluarkan sebuah senapan

"Rey... Aku tau kalau analisamu itu sangat tajam maka aku memberimu senapan ini" 

"Sekarang ayo kita mulai latihannya" kata Raida

"Tunggu?... Apa kami tidak mendapat senjata baru seperti mereka?" kata Sarah

"Kalian adalah tipe kecepatan dan kelincahan, pedang sudah cukup untuk kalian" balas Raida 

"Setidaknya berikan kami pedang yang baru" kata Sarah

"Apa kau iri kami mendapat senjata baru... Lihat lah kapak besar dan perkasa ku keren bukan" kata Zeks dengan nada mengejek

Sarah menjadi marah karena ejekan Zeks, dia memukul Sek sampai terjatuh

"Ini lah kenapa jangan bermain main dengan Harimau" kata Rey

"Siapa yang kau sebut Harimau... Kau mau di pukul juga" kata Sarah

"Ahk... Tidak maafkan aku" kata Rey yang bersembunyi di balik Raida

"Sudah-sudah jangan bertengkar, baik lah aku akan memberi kalian senjata baru untuk kalian berdua" kata Raida

Raida mengeluarkan dua pedangnya

"Pedang ini terbuat dari bahan bahan langka dan sulit di cari, dan juga pedang ini tak terlalu berat cocok untuk kalian"

"Untuk sementara simpan dulu senjata kalian... Aku akan melatih kalian untuk mengeluarkan kekuatan elemen kalian masing masing" kata Raida

"Untuk mengeluarkan kekuatan kalian, kalian harus mengumpulkan energi yang kalian miliki pada satu titik," sebuah api kecil muncul di tangan Raida 

"bisakah kau jelaskan lebih rinci" kata Amel

"Kumpulkan energi mu pada satu titik seperti tangan mu, lalu kumpulkan dulu menjadi banyak dan pikirkan kalau itu adalah sebuah api yang panas, sama halnya dengan eleman lain, sekarang kalian coba lah" kata Raida

Bada awalnya mereka beberapa kali gagal dan terus gagal sampai mereka hampir kehabisan energi, matahari sudah terbenam tapi mereka belum menyerah, tak lama kemudian mereka berhasil, satu persatu dari mereka bisa mengendalikan eleman yang mereka pilih walaupun masih belum sempurna, 

"Bagus... Latihlah terus kekuatan kalian... Tapi kita sudahi dulu latihan untuk sekarang, hari sudah gelap... Kalian pulang lah dan istirahat, besok saat fajar kita mulai lagi seperti biasa" kata Raida

Mereka mengangguk 

Di atap sebuah gedung Raida sedang duduk di tepian sambil mengingat perkataan Gezon "manusialah yang menyebabkan perang itu" pikir Raida

"Apa aku harus percaya padanya atau tidak" gumam Raida

"Ahk... Kenapa ini menjadi semakin rumit" gumam Raida sambil mengacak acak rambutnya

"Aku selalu bersumpah untuk membunuh nebros dan balas dendam, tapi ternyata dalang dari semua ini adalah manusia yang identitasnya masih misteri" gumam Raida 

"apa aku melaporkan hal ini pada Zef saja?..." gumam Raida

"Lebih baik jangan... Aku tak ingin merepotkannya" gumam Raida

Raida menghela nafas lalu menghadap ke langit yang penuh bintang "lily... Menurut mu bagaimana aku menyelesaikan hal ini" 

Tiba tiba saja muncul sosok lily di samping Raida "hei... Jangan menaggung semuanya sendiri kau memiliki temankan, cobalah lebih terbuka, kau selalu saja seperti ini... Menyembunyikan semuanya sendiri, dan menanggungnya sendiri menjadikan itu bebanmu," kata lily

Raida kaget dan mengosok matanya,lalu sosok lily menghilang "Benar juga jika lily di sini pasti dia sudah mengomeliku habis habisan" 

 "sepertinya aku kelelahan dan terlalu memikirkan hal ini, lalu membuatku berhalusinasi... Lebih baik aku pulang dan istirahat" kata Raida 

Raida berdiri lalu menghilang bersamaan dengan hembusan angin.

More Chapters