Matahari pagi menyinari atap sekolah. Burung-burung terbang rendah di antara kabel listrik, dan suara bel berbunyi seperti biasa.
Amel duduk di dekat jendela kelas, wajahnya menghadap ke luar. Tangannya menopang dagu, sementara jemarinya perlahan menggambar bentuk pedang di atas meja dengan pensil.
"Dia tidak datang lagi hari ini..." gumam Amel, nyaris tanpa suara.
Dari kursi di belakangnya, Rey menatap punggung Amel. Ia tak berkata apa-apa. Tapi ekspresinya mengerti.
Waktu istirahat datang.
Sarah menyandarkan punggungnya ke tembok kelas, memejamkan mata. "Markas tetap kosong, Raida tidak ada di sana"
Zeks duduk di atas meja "Aku masih tidak menemukan Raida di manapun kemarin"
"Dia bisa menyembunyikan dirinya bahkan dari kita," ujar Rey, pelan.
Amel mendongak. "Tapi kita masih bisa merasakannya... bukan? Dia belum benar-benar pergi."
Malam harinya Amel dan yang lain pergi ke markas, di sana tetap kosong bahkan tempat yang biasa Raida duduk dengan sibuk melihat teblet hologran sekarang kosong dan dingin.
Amel berdiri di depan kursi yang biasanya Raida duduk, "sudah seminggu lebih..." kata amel lirih
Rey berjalan ke arah dinding sebelah kanan, tempat peta besar, "Kalau dia ada di sini... biasanya dia sudah bicara sebelum pintu terbuka," kata Rey
Zeks menjatuhkan diri di sofa panjang di sisi kiri ruangan, merebahkan kepala ke belakang. "Markas ini terasa lebih dingin tanpa dia."
Sarah berdiri diam di dekat jendela transparan markas yang memperlihatkan pemandangan hutan saat malam
Amel duduk di kursi yang biasa Raida duduki, Amel memeluk lututnya matanya sedikit sayu
"Entah kenapa saat dia tidak ada, aku merasa kosong dan kesepian" kata amel
Rey, Sarah, dan Zeks hanya terdiam tak bisa berkata apa apa saat amel bicara seperti itu
"Amel..."ucap sarah
"Dulu dia sering begadang di sini, memandangi tablet hologramnya dan terus berkerja dan berkerja tampa memikirkan kesehatannya" kata Amel
Zeks mengangguk "dia bukan pemimpin yang banyak bicara, tapi tindakannya terasa"
Rey berjalan mendekati mereka, lalu duduk di salah satu kursi. "Dan sekarang kita cuma punya ruangan kosong."
Sarah perlahan ikut bergabung, duduk di samping Zeks.
Mereka tak bicara lama. Hanya duduk. Mendengar dengungan lembut dari panel energi. Merasakan hawa sejuk dari pendingin markas. Tidak ada misi malam ini. Tidak ada ancaman. Hanya waktu yang terus berjalan.
Amel menyembunyikan kepalanya di balik lututnya "Kalau dia di luar sana… aku harap dia tahu kalau kita masih di sini. Menunggu." kata Amel yang mulai mengeluarkan air mata
Rey menjawab sambil menenangkan Amel, "Dia tidak pergi dia pasti akan kembali"
Zeks menatap langit-langit. "Kalau dia kembali, aku akan Membuat dia menyesal. Karena terlalu lama menghilang."
Sarah tersenyum tipis. "Kalau dia kembali… aku akan memukul wajahnya dengan keras"
Waktu berlalu tanpa mereka sadari, Lampu markas redup perlahan, masuk ke mode malam otomatis, Mereka tak berkata apa-apa lagi malam itu, mereka tertidur dalam diam
Pagi menjelang, matahari memantul lembut dari permukaan panel kaca markas. Biasanya Raida yang sudah lebih dulu bangun dan duduk di kursi
Amel berdiri di dekat jendela, menatap suasana hutan saat pagi
Rey duduk bersandar di sebuah kursi sambil meminum sesuatu
Zeks masih tertidur pulas
Sarah mencari sesuatu yang bisa dimakan di dapur
Tiba-tiba layar berkedip. Panel peringatan menyala
"DETEKSI ENERGI TAK DIKENAL. SUMBER: PUSAT KOTA. PRIORITAS: TINGGI."
Zeks terbangun "aku bangun karena ku kira alarm sarapan ternyata bukan, malah alarm darurat"
Amel mengeluarkan pedangnya "kita berangkat sekarang"
Orang-orang di pusat kota berhamburan, kendaraan berhenti mendadak, dan suara sirine sipil terdengar dari berbagai arah.
Di tengah jalan raya yang kosong, seseorang berdiri tenang.
Tinggi. Tegap. Seragam hitam abu dengan pelat dada logam dan lambang berbentuk segitiga terbalik bersinar merah.
Wajahnya ditutupi helm ramping dengan satu garis cahaya biru melintang. Tangan menyilang di belakang. Udara di sekitarnya mengalir sedikit aneh, seolah terdistorsi. Dia salah satu komandan musuh, namanya adalah Vanirs
Saat Amel dan yang lain tiba, Vanirs tidak bergerak. Ia hanya menatap mereka, meski tak memiliki mata terlihat.
Amel maju selangkah. "Kau… siapa?"
Vanirs menjawab dengan nada mekanis tapi tenang "aku mencari Raida, menurut informasi Raida masih di sini, dimana dia"
Zeks mencibir. "Kau kira kami akan memberitahumu?"
Vanirs mengangkat tangan pelan, menciptakan medan gravitasi kecil di sekitarnya, Asap dan debu beterbangan.
"Kau tidak perlu bicara. Aku hanya perlu mengukur kalian… untuk tahu seberapa penting kalian bagi dia." kata Vanirs
Rey menghunus pedangnya. "Kalau kau ingin mengetes kami, maka jangan bicara lagi!"
Sarah berseru, "Formasi tempur, sekarang!"
Pertarungan pun dimulai di tengah pusat kota, dengan lalu lintas dan kehidupan yang terhenti, Musuh kali ini bukan yang terkuat, tapi cukup berbahaya untuk menguji mereka tanpa Raida.
Vanirs mengeluarkan tombak
Pedang Amel menghantam tubuh Vanirs, namun seperti menebas perisai tak terlihat.
Seketika, energi dari tombak Varnis meledak balik ke arah Amel menyentaknya mundur dan terlempar ke tumpukan mobil terbakar.
Zeks menerjang dari samping, namun Vanirs memutar tubuhnya dan menusuk tepat ke arah dada Zeks. Sarah melompat dan menangkis serangan itu, tapi getaran tombak membuat tangannya mati rasa.
Rey berseru, "Formasi Beta, cepat!"
Mereka menyerang bersamaan dari empat arah.
Vanirs bergerak sekali
TING! TING! TING!
Satu gerakan melingkar, empat serangan tertangkis sempurna.
THUD!
Tubuh Rey menghantam tanah keras. Diikuti Sarah yang terlempar ke tiang lampu.Zeks terjatuh sambil memegangi pundaknya yang berdarah.Amel memaksakan diri bangkit, darah mengalir dari pelipisnya.
Vanirs berdiri tegak, tidak berkeringat sedikit pun.
"Hasilnya sudah jelas. Kalian tidak cukup." kata Vanirs
Vanirs mulai melangkah mendekat. Tombaknya diseret ke aspal, meninggalkan goresan merah membara.
Amel memaksa berdiri, tangan gemetar memegang pedang. "Kita... belum kalah…"
Vanirs mengangkat tombaknya. Akan memenggal Amel "matilah dengan terhormat."
Tombak Vanirs siap menebas leher Amel detik-detik sebelum akhir
"Cukup." sebuah suara menggema di mana mana
Seketika waktu terhenti. Cahaya berhenti. Angin membeku. Debu-debu melayang diam seperti lukisan. Amel, Rey, Zeks, Sarah… semua beku. Tak satu pun bergerak.
Raida muncul perlahan dari ujung jalan yang retak, berjalan melewati mobil-mobil beku dan kaca menggantung di udara. Jubahnya bergoyang pelan, padahal tak ada angin. Matanya tajam
"Hahaha…" Tawa vanirs tenang, dalam, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang sudah ia duga sejak awal. Ia berbalik menghadap Raida, tombaknya menancap di tanah
"Akhirnya. Aku ingin tahu kapan kau akan berhenti bermain-main, pantas saja tuan ku sangat tergila gila pada mu ternyata kau sehebat ini" kata vanirs
Raida tidak langsung menjawab. Ia mendekat, tatapan matanya menusuk. "Kau tidak terpengaruh. Itu… menarik, pantas saja kau dan tuan mu selamat pada saat itu"
Vanirs mengangkat bahu, nada bicaranya ringan. "Waktumu memang hebat. Tapi kau bukan satu-satunya yang pernah berjalan di antara detik."
Raida menggeleng pelan "Aku tak peduli dari mana asalmu, Vanirs. Tapi kau sudah melewati batas, Kau menyakiti mereka. Di bawah perlindunganku."
Vanirs menyeringai, luka di pipinya masih basah. "Aku hanya menjalankan perintah. Dan... menilai seberapa besar potensi yang tuanku incar, Ternyata kau… benar-benar melebihi prediksi."
Raida mendekat langkahnya tak mengeluarkan suara. Begitu sampai hanya satu meter di depan Vanirs, ia berhenti. Menatap lurus ke mata helm lawannya. "Sesuai dugaan ku kau pasti di perintah olehnya, tapi yang harus kau tau, kau tak akan bisa kembali"
Vanirs mendekatkan wajahnya, masih tersenyum "Begitu pun kau, Raida. Aku hanya akan mengingatkan mu, bahwa kehancuranmu yang sudah di takdirkan semakin dekat, buktikan kalau kau bisa menghindari takdir itu"
Waktu tetap membeku. Tapi ketegangan meningkat tajam.
Raida mengepalkan tangan. "Dengan senang hati"