Ficool

CEO Menyamar Jadi Karyawan Restoran?!

AirenMi
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
81
Views
Synopsis
Setelah gagal berkali-kali mendapatkan pekerjaan, Lina akhirnya diterima di sebuah restoran kecil. Namun hidupnya berubah saat ia menyadari satu hal: Rekan kerjanya… bukan orang biasa. Arka. Pria yang setiap hari bekerja di sampingnya, diam-diam menjaganya, dan perlahan mencuri hatinya—ternyata adalah CEO dari perusahaan besar yang dulu menolaknya. Lebih buruk lagi… Sejak awal, Arka sudah mengenalnya. Terjebak dalam kebohongan, perasaan, dan dunia yang berbeda, Lina harus memilih: Pergi dan melindungi dirinya… atau bertahan dan mempertaruhkan segalanya. Karena kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya cinta— tapi masa depan.
VIEW MORE

Chapter 1 - Chapter 1 — “Kata yang Sama”

DITOLAK.

Lina menatap layar ponselnya tanpa berkedip.

Satu kata itu lagi.

Tangannya gemetar kecil, tapi ia tetap membuka email tersebut, seolah berharap ada keajaiban tersembunyi di dalamnya.

“Terima kasih telah melamar…”

Ia berhenti membaca.

Tidak perlu dilanjutkan.

Ia sudah hafal.

Perlahan, Lina menurunkan ponselnya. Pandangannya kosong.

Seisi kamar terasa lebih sempit dari biasanya.

Di meja kecil di depannya, puluhan lembar CV berserakan. Beberapa bahkan belum sempat ia kirim.

Sudah dua bulan.

Dua bulan sejak ia lulus dengan penuh harapan.

Dua bulan sejak ia percaya hidupnya akan berubah.

Tapi kenyataan berkata lain.

Ia tidak istimewa.

Ia tidak cukup baik.

Dan dunia tidak sedang menunggunya.

Lina menarik napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang perlahan memenuhi dadanya.

Namun gagal.

Air matanya jatuh begitu saja.

Satu.

Dua.

Lalu semakin banyak.

“Kenapa… susah banget sih…” suaranya nyaris tidak terdengar.

Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya, Lina merasa… lelah.

Bukan lelah secara fisik.

Tapi lelah berharap.

Sore itu, langit kota terlihat mendung.

Lina berdiri di depan gedung tinggi dengan jas yang terlalu rapi untuk seseorang yang tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Ini kesempatan terakhir minggu ini.

Ia menggenggam map berisi dokumen dengan erat, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh.

“Tenang… kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.

Namun jantungnya tidak setuju.

Gedung itu terlalu besar.

Terlalu dingin.

Terlalu… bukan dunianya.

Dua jam kemudian.

Lina keluar dari gedung yang sama.

Langkahnya pelan.

Tidak ada air mata kali ini.

Tidak ada ekspresi apa pun.

Hanya kosong.

Ia tidak perlu melihat papan pengumuman untuk tahu hasilnya.

Ia tahu dari cara mereka tersenyum.

Terlalu sopan.

Terlalu cepat.

Seperti ingin segera melupakannya.

Angin sore berhembus pelan saat Lina berjalan tanpa arah.

Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tapi tidak ada yang terasa hangat.

Semuanya terasa jauh.

Semuanya terasa dingin.

Langkahnya terhenti ketika rintik hujan mulai turun.

Pelan.

Lalu semakin deras.

Orang-orang di sekitarnya mulai berlari mencari tempat berteduh.

Namun Lina tetap berdiri di sana.

Diam.

Seolah hujan itu tidak berarti apa-apa.

Atau mungkin… ia hanya tidak punya tenaga untuk bergerak.

“Lucu ya…” gumamnya lirih.

“Hidupku… kayak gini terus.”

Ia tertawa kecil.

Tapi tidak ada kebahagiaan di sana.

Hanya rasa kosong yang semakin dalam.

Lina akhirnya berjalan lagi, tanpa tujuan.

Sampai…

matanya menangkap sesuatu.

Sebuah restoran kecil di sudut jalan.

Lampunya hangat.

Berbeda dengan dunia di sekitarnya.

Dan di depan pintunya—

sebuah papan sederhana.

“DIBUTUHKAN KARYAWAN.”

Lina berhenti.

Menatap tulisan itu lama.

Hujan masih turun.

Dunia masih terasa dingin.

Tapi entah kenapa…

untuk pertama kalinya hari itu—

ia merasa… ada sesuatu yang memanggilnya.

Lina menggenggam tasnya erat.

Lalu melangkah maju.

Tanpa tahu…

bahwa langkah kecil itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Dan mempertemukannya dengan seseorang—

yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari dunianya.