Ficool

Chapter 13 - Bab 12: Logam Tua dan Rahasia yang Berkarat

Udara di bawah tanah Lorgar terasa jauh lebih berat daripada di permukaan. Di sini, di dalam labirin Pasar Karat, oksigen seolah-olah harus berebut tempat dengan uap minyak panas, aroma ozon dari sisa-sisa eksperimen mana yang gagal, dan bau logam berkarat yang abadi. Arlan Vane melangkah menuruni anak tangga terakhir, sepatunya menimbulkan suara ketukan yang pelan di atas lantai logam yang lembap.

​Ia menarik kerah mantel abu-abunya lebih tinggi. Meski tubuhnya masih terasa kaku dan luka di pinggangnya berdenyut setiap kali ia mengambil napas panjang, Arlan tidak membiarkan rasa sakit itu terlihat di wajahnya. Di tempat seperti ini, kelemahan adalah undangan bagi para predator yang bersembunyi di balik bayang-bayang kios.

​Pasar Karat bukan sekadar pasar gelap; itu adalah sebuah ekosistem. Di sisi kiri, para pedagang barang bekas menawarkan sisa-sisa sirkuit mesin uap kuno yang diklaim berasal dari era sebelum "Kabut Besar". Di sisi kanan, botol-botol ramuan berwarna neon yang tidak stabil berjejer di dalam etalase kaca yang retak. Arlan sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Sebagai seorang tentara bayaran di Lorgar, ia telah mengunjungi tempat ini berkali-kali—terkadang untuk menjual informasi, terkadang untuk mencari obat penahan sakit yang tidak tercatat di apotek resmi.

​Namun malam ini, tujuannya sangat spesifik.

​Langkah kakinya membawanya lebih jauh ke dalam, melewati kerumunan orang-orang bertopeng gas dan sosok-sosok berjubah yang mengeluarkan aura menekan. Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak lebih kokoh daripada kios-kios di sekitarnya. Di atas pintunya, sebuah papan besi berbentuk palu dan petir berayun malas, mengeluarkan suara derit yang menusuk telinga.

"​Toko Senjata Heph"

Arlan mendorong pintu berat itu. Bunyi lonceng kuno menyambut kedatangannya, diikuti oleh gelombang panas yang berasal dari tungku pembakaran di bagian belakang toko. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding mekanis raksasa yang seolah-olah menghitung mundur usia setiap senjata di rak.

​"Vane," sebuah suara parau terdengar dari balik tumpukan perisai baja. "Aku dengar kau hampir mati di Sektor 7."

​Seorang pria tua dengan lengan mekanis di sisi kirinya muncul. Itu adalah Barnaby, pemilik toko sekaligus mantan pengrajin senjata untuk organisasi Sovereign Aegis sebelum ia kehilangan lengannya dan 'pensiun' ke dunia bawah.

​"Kabar buruk memang terbang lebih cepat daripada lokomotif," jawab Arlan datar. Ia berjalan mendekati deretan pedang yang dipajang di dinding.

​"Aku butuh sesuatu yang bisa menahan aliran Aura seorang Flow-Seeker tanpa pecah dalam satu benturan. Baja industri biasa tidak lagi cukup."

​Barnaby mendengus, tangan mekanisnya berdecit saat ia mengusap dagunya yang kasar. "Kau punya uangnya? Baja yang kau minta butuh campuran Mithril atau setidaknya Iron-Blood Ore agar tidak meledak saat kau menggunakan Ledakan Arus Dalam itu lagi."

​Arlan meletakkan tiga koin emas di atas meja kayu yang menghitam. Cahaya emas itu berkilau kontras di tengah ruangan yang suram.

​"Ini uang mukanya. Aku ingin melihat koleksi terbaikmu."

​Barnaby menyipitkan mata, lalu memberikan isyarat agar Arlan mengikutinya ke bagian belakang toko—ruangan khusus yang hanya dibuka untuk pelanggan dengan kantong tebal. Di sana, senjata-senjata yang dipajang tampak lebih hidup. Ada pedang panjang yang dikelilingi oleh percikan listrik statis, dan ada kapak besar yang seolah-olah menghisap cahaya di sekitarnya.

​Arlan mulai memeriksa satu per satu. Ia mengambil sebuah Rapier perak yang indah, mengaliri Auranya sedikit, namun segera meletakkannya kembali. "Terlalu ringan. Keseimbangannya tidak cocok untuk gaya Fast Sword milikku."

​Ia mencoba Broadsword dari baja hitam, namun segera menggeleng. "Terlalu lambat. Aku akan terbunuh sebelum sempat mengayunkannya."

​Pencariannya berlanjut selama hampir satu jam. Barnaby mulai tampak tidak sabar, namun Arlan tetap tenang. Baginya, senjata adalah perpanjangan dari jiwa dan sistem sirkulasi energinya. Salah memilih berarti menyerahkan nyawa pada musuh selanjutnya.

​Hingga akhirnya, matanya tertuju pada sebuah sudut yang paling gelap di ruangan itu.

​Di sana, bersandar di sebuah kotak kayu tua yang sudah membusuk, terdapat sebuah senjata yang tampak sangat tidak pada tempatnya. Itu adalah sebuah pedang dengan sarung kayu yang sudah retak-retak. Bentuknya melengkung tunggal, tipis, dan elegan—sebuah Katana.

​Namun, yang membuat Arlan terpaku bukanlah bentuknya, melainkan kondisinya.

​Pedang itu tampak sangat menyedihkan. Bagian tsuba (pelindung tangan) miliknya sudah ditutupi oleh karat hijau yang tebal. Saat Arlan mendekat, ia bisa melihat bahwa bilah pedang yang sedikit terlihat dari sarungnya dipenuhi oleh lapisan karat merah yang seolah-olah sudah memakan logamnya selama berabad-abad.

​"Itu?" Barnaby tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. "Kau punya selera yang aneh, Vane. Itu barang rongsokan yang aku dapatkan dari seorang pemulung di reruntuhan pesisir. Aku bahkan tidak bisa mencabutnya dari sarungnya. Seolah-olah logamnya sudah menyatu karena karat."

​Arlan tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum jarinya menyentuh permukaan kayu sarung pedang itu.

​ZING.

​Saat jemarinya bersentuhan dengan kayu yang melapuk itu, Arlan merasakan sesuatu yang mustahil. Ia tidak merasakan dinginnya logam tua. Sebaliknya, ia merasakan sebuah getaran yang sangat halus, sangat samar, seolah-olah ada detak jantung yang sangat lambat berdenyut dari dalam bilah yang berkarat itu.

​Lebih aneh lagi, luka di pinggang Arlan tiba-tiba berhenti berdenyut sakit. Sebuah sensasi dingin yang menenangkan merayap dari telapak tangannya, menjalar melalui saraf-sarafnya, dan menetap di dadanya.

​Arlan menyipitkan mata. Sebagai seorang Flow-Seeker, ia sangat peka terhadap aliran energi. Dan pedang ini... pedang ini tidak memiliki Aura. Ia juga tidak memiliki Mana.

​Ia memiliki sesuatu yang lain.

​Sesuatu yang terasa seperti kabut abadi yang ia lihat dalam halusinasinya saat ia hampir mati di gudang tempo hari. Sesuatu yang terasa "kosong" namun "berisi".

​"Berapa harganya?" tanya Arlan, suaranya sedikit bergetar tanpa ia sadari.

​Barnaby terhenti, ekspresinya berubah dari mengejek menjadi bingung. "Kau serius? Itu pedang rusak, Vane. Aku bahkan berniat meleburnya untuk mengambil sedikit sisa baja karbonnya. Kau bisa mengambilnya dengan dua koin perak jika kau mau sampah itu."

​Arlan tidak menawar. Ia mengambil pedang itu, merasakan beratnya yang luar biasa seimbang meskipun penampilannya hancur. Ia tahu, di balik lapisan karat dan kerusakan ini, ada sesuatu yang sedang menunggunya. Sesuatu yang mungkin bukan sekadar senjata, melainkan sebuah kunci.

​“Kenapa aku merasa pedang ini... sedang menatapku balik?” monolog Arlan di dalam hatinya.

​Ia memegang gagang pedang itu, mencoba mencabutnya. Seperti yang dikatakan Barnaby, pedang itu tidak bergeming. Seolah-olah ia menolak untuk menunjukkan dirinya kepada orang yang tidak layak. Namun, alih-alih merasa kecewa, Arlan justru merasakan tantangan.

​Arlan menatap Barnaby dan meletakkan lima koin emas tambahan di atas meja.

​"Aku ambil ini. Dan aku butuh satu pedang cadangan dari baja standar yang kau punya di depan," ucap Arlan tegas.

​Barnaby mengangkat bahu, mengambil koin-koin itu dengan cepat. "Terserah kau saja. Kalau kau mati karena pedang itu patah saat kau gunakan menangkis, jangan hantui tokoku."

​Arlan tidak peduli. Ia menyelipkan katana berkarat itu di pinggang kirinya. Meskipun penampilannya terlihat seperti rongsokan yang dipungut dari selokan, Arlan merasakannya lebih berat dan lebih nyata daripada senjata apa pun yang pernah ia pegang.

​Saat ia melangkah keluar dari toko Barnaby, kabut di Pasar Karat seolah-olah sedikit menyingkir, memberinya jalan. Arlan berjalan menembus kerumunan, tangannya tetap berada di gagang katana itu. Ia belum tahu apa itu, atau kenapa ia merasa begitu terikat padanya.

More Chapters