Ficool

Chapter 19 - Bab 18: Resonansi Pertama

Pagi di Lorgar masih gelap saat Arlan duduk bersila di tengah kamar kontrakannya yang sempit. Katana berkarat bersandar di pangkuannya, sarungnya yang retak-retak terasa dingin di telapak tangannya. Di atas meja, sebuah Batu Mana tergeletak di dalam kantong kain kecil—batu sebesar kepalan tangan anak kecil, berwarna biru kehijauan dengan urat-urat cahaya yang berdenyut sangat halus di dalamnya seperti detak jantung yang tertidur.

Arlan menatap batu itu sejenak. Lima koin emas yang cukup mahal untuk sebuah batu. Namun instingnya mengatakan bahwa investasi ini akan memberikan hasil yang jauh lebih besar dari nilainya.

"Kau yakin ini perlu dilakukan sekarang?" suara Kuro bergema di dalam kepalanya. "Hari masih pagi. Aku bahkan belum selesai bermimpi."

"Kau bilang sendiri tadi malam bahwa kau tidak bisa bermimpi karena kau pedang," jawab Arlan datar.

Keheningan sejenak.

"...Detail yang tidak perlu kau ingat," gumam Kuro.

Arlan mengabaikannya. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan fokus. Kemudian, dengan nada yang pelan namun penuh bobot—nada yang ia gunakan saat ia benar-benar serius terhadap sesuatu—ia mulai melafalkan nama kehormatan itu.

"Sang Fool yang tertidur melampaui jangkauan waktu. Sang Pemimpi Tanpa Mimpi di atas singgasana kabut yang tak bertepi. Saksi Pertama yang menggenggam timbangan segala keberadaan."

Kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan perlahan dan hormat, setiap suku katanya diucapkan dengan jelas seperti seseorang yang tahu bahwa kata-kata memiliki bobot yang nyata.

Ruangan itu tidak berubah secara dramatis. Tidak ada cahaya menyilaukan atau suara gemuruh. Hanya ada sebuah sensasi yang sangat halus—seperti benang tak kasat mata yang tiba-tiba terhubung dari kamar kontrakan kumuh di Lorgar ini menuju sesuatu yang sangat jauh dan sangat luas.

Koneksi terbuka.

"Nah," kata Kuro dengan nada yang kini berbeda—lebih siap, lebih tajam. "Sekarang letakkan batu itu di telapak tanganmu dan tunggu."

Arlan mengambil Batu Mana dari kantongnya. Cahaya biru kehijauan di dalamnya berdenyut sedikit lebih cepat saat menyentuh kulitnya.

Kemudian—

Di sudut kamar yang paling gelap, sesuatu terjadi.

Tidak ada suara. Tidak ada ledakan. Hanya ada sepasang mata cokelat besar yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, bersinar dengan cahaya emas yang sangat halus.

Sunny duduk di sana, ekornya mengibas pelan, kepalanya sedikit miring—ekspresi yang persis sama seperti saat ia pertama kali melihat Evelyn di perpustakaan. Mengamati. Menilai. Tenang.

Arlan menatap makhluk di depannya tanpa bergerak. Insting pertarungnya berteriak—ada sesuatu di dalam makhluk ini yang jauh melebihi penampilannya sebagai anjing berbulu emas. Frekuensi yang ia pancarkan terasa seperti... kedalaman yang tidak berdasar.

"Jadi ini partner Miss Justice," gumam Arlan.

"Hoo," suara Kuro bergema di dalam kepalanya, nadanya berubah menjadi sesuatu yang sangat jarang Arlan dengar dari pedang itu—serius, dengan lapisan tipis yang terdengar seperti penghormatan yang sangat ditahan. "Sudah lama tidak bertemu, Yang Terhormat—"

"Sunny."

Suara itu memotong kalimat Kuro. Suara itu terdengar seperti suara anak kecil berusia delapan atau sembilan tahun—jernih, polos, dan sedikit manja. Namun bobot di balik suara itu terasa seperti langit yang sedang menahan badai.

Hening sesaat.

Kemudian Kuro—yang selama ini Arlan kenal sebagai sosok yang tidak pernah kehilangan kata-kata—terdiam selama tiga detik penuh.

"...Sunny," Kuro akhirnya mengulang nama itu dengan nada yang sangat datar. "Kau... memilih nama Sunny."

"Iya." Suara anak kecil itu terdengar sangat puas dengan dirinya sendiri.

"Dari semua nama yang bisa kau pilih," Kuro melanjutkan, nada suaranya kini mengandung sesuatu yang terdengar seperti penderitaan yang tertahan, "dengan seluruh keagungan dan kedalamanmu yang sudah ada sejak era yang bahkan tidak tercatat dalam sejarah manusia... kau memilih nama Sunny."

"Evelyn yang memberi nama itu." Suara anak kecil itu terdengar sedikit lebih tinggi—defensif dengan cara yang sangat menggemaskan. "Dan aku suka."

"Tentu saja kau suka," Kuro mendengus. "Nama yang sangat cocok untuk seekor—"

"Kuro."

Satu kata. Namun cara Sunny mengucapkannya membuat bahkan Arlan—yang sudah terbiasa dengan tekanan frekuensi tinggi di dunia bawah Lorgar—merasakan bulu kuduknya sedikit berdiri.

Kuro terdiam seketika.

Sunny memiringkan kepalanya ke kiri, ekspresinya kembali ke ketenangan pengamatnya yang khas. Kemudian ia berdiri, melangkah pelan menuju Arlan, dan duduk tepat di depannya dengan cara yang sangat rapi dan formal—seperti seorang tamu yang menghormati protokol pertemuan.

"Batu Mana untuk Evelyn," ucap Sunny. Suara anak kecil itu kini terdengar lebih serius, namun tetap memiliki lapisan kepolosan yang tidak bisa dihilangkan. "Aku yang mengambil."

Arlan menatap makhluk di depannya sejenak. Kemudian, tanpa kata-kata berlebihan, ia mengulurkan tangannya—Batu Mana di atas telapaknya, cahaya biru kehijauan berdenyut tenang.

"Bayarannya?" tanya Arlan praktis.

Sunny menatap Batu Mana itu sejenak. Kemudian matanya bergerak ke atas, menatap Arlan dengan ekspresi yang sangat serius namun entah kenapa terasa sangat menggemaskan.

"Daging."

Arlan menatap Sunny. Sunny menatap Arlan.

Di dalam kepalanya, Kuro mengeluarkan suara yang terdengar seperti kombinasi antara tawa yang ditahan dan erangan putus asa.

Arlan berdiri, membuka laci mejanya, dan mengeluarkan sepotong daging asap bungkus kain yang ia beli kemarin untuk persediaan makan siangnya. Ia meletakkannya di lantai di depan Sunny tanpa komentar.

Sunny melihat daging itu. Ekornya mengibas satu kali—cepat dan ceria. Kemudian, dengan cara yang sangat tidak sesuai dengan keagungan yang baru saja ia pancarkan, ia mengambil daging itu dengan mulutnya, mengunyahnya dengan penuh kepuasan, dan dalam waktu tiga detik—daging itu lenyap.

Sunny menatap Arlan lagi. Matanya berbinar.

"Terima kasih, Mr. Chariot."

"Jaga Miss Justice baik-baik," jawab Arlan singkat.

Sunny mengangguk sekali—gerakan yang terlalu anggun dan terlalu sadar untuk seekor anjing biasa. Kemudian cakar depannya yang lembut menyentuh Batu Mana di telapak tangan Arlan.

Dan dalam sekejap mata, Sunny lenyap.

Kamar kontrakan itu kembali seperti semula—dingin, sepi, dan berbau oli mesin. Hanya ada bekas cakaran kecil yang sangat halus di lantai beton tempat Sunny duduk tadi, dan aroma yang sangat samar—bukan bau anjing, melainkan sesuatu yang terasa seperti udara setelah hujan di pegunungan yang sangat tinggi.

Arlan menatap telapak tangannya yang kini kosong.

"Kuro," katanya pelan.

"Hmm."

"Makhluk itu... siapa sebenarnya?"

Keheningan yang tidak biasa dari Kuro. Cukup lama untuk ukuran pedang yang tidak pernah bisa diam lebih dari sepuluh detik.

"Seseorang yang sangat tua," jawab Kuro akhirnya, nadanya lebih pelan dari biasanya. "Dan seseorang yang rupanya sangat menyayangi Miss Justice." Ia berhenti sejenak. "Bersyukurlah bahwa mereka berada di sisi yang sama denganmu, Arlan."

Arlan tidak menjawab. Namun di dalam benaknya, penilaiannya terhadap Miss Justice—gadis berkabut yang belum ia ketahui wajahnya—bergeser sedikit. Bukan karena kasihan, bukan karena kekaguman. Melainkan karena siapa pun yang dipilih oleh makhluk seperti itu pasti memiliki sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keberuntungan.

______________

Di Oakhaven, pada saat yang hampir bersamaan.

Evelyn sedang duduk bersila di lantai kamarnya ketika sesuatu yang lembut dan hangat mendarat di pangkuannya.

Batu Mana.

Cahaya biru kehijauan berdenyut pelan di antara jari-jarinya, terasa seperti detak jantung yang sangat tenang. Evelyn menatap batu itu dengan napas yang tertahan. Di sampingnya, Sunny duduk dengan postur tegak dan ekspresi yang serius—jauh berbeda dari cara ia biasanya merebahkan diri di atas bantal sutra Evelyn.

"Sudah ada," suara anak kecil bergema langsung di dalam pikiran Evelyn. "Kita bisa mulai."

Evelyn menatap Sunny. "Apakah perjalanannya baik-baik saja?"

Sunny memiringkan kepalanya. Di dalam matanya yang cokelat, ada kilatan emas yang sangat singkat—kilatan yang hanya muncul saat Sunny sedang mengingat sesuatu yang ia anggap sangat memuaskan.

"Dagingnya enak," jawab Sunny.

Evelyn membuka mulutnya sejenak, lalu menutupnya kembali. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

"Pegang batu itu erat," suara Sunny kembali terdengar, kali ini lebih fokus dan lebih serius. "Tutup matamu. Jangan pikirkan apa pun kecuali satu hal—apa yang paling ingin kau ketahui tentang dunia ini."

Evelyn menarik napas panjang. Tangannya mengepal pelan di sekeliling Batu Mana, merasakan denyutannya yang semakin kuat saat kehangatan telapak tangannya menyentuh permukaannya.

Ia memejamkan matanya.

Apa yang paling ingin kau ketahui?

Pertanyaan itu bergema di dalam benaknya. Dan jawaban yang muncul bukan berupa kata-kata—melainkan sebuah gambar. Wajah-wajah para pekerja pabrik yang ia lihat dari balik jendela kereta kuda. Koridor panjang kediaman Valerius yang dipenuhi lukisan leluhur yang kaku. Buku catatan kusam milik kakek buyutnya yang ia temukan di gudang antik. Dan sebuah dunia yang bersembunyi di balik asap mesin dan etiket bangsawan—dunia yang selama ini hanya berbisik di tepi kesadarannya.

Aku ingin tahu kebenaran.

Batu Mana di tangannya bergetar.

Tidak keras—hanya sebuah getaran yang sangat halus, seperti tali harpa yang dipetik dengan sangat lembut. Namun getaran itu merambat dari telapak tangannya, naik ke pergelangan tangan, dan dalam satu detik yang terasa seperti selamanya, Evelyn merasakan sesuatu terbuka di dalam dirinya.

Seperti pintu yang selama ini terkunci rapat—tidak dari luar, melainkan dari dalam—akhirnya bergerak.

BZZZT.

Kepala Evelyn berputar seketika. Dunia di balik kelopak matanya yang tertutup menjadi putih total selama tiga detik, dan dalam keputihan itu ia melihat benang-benang—ribuan benang tak kasat mata yang menyusun segalanya. Udara, cahaya, suara, dan bahkan keheningan itu sendiri—semuanya terbuat dari benang-benang yang saling terhubung dalam pola yang luar biasa rumit namun luar biasa indah.

Ini Mana, ia menyadarinya secara instingtif. Ini adalah apa yang selalu ada di sana, hanya saja aku tidak bisa melihatnya sebelumnya.

Kemudian putih itu memudar. Kepala Evelyn berdenyut sekali—pusing yang tajam namun singkat, seperti seseorang yang berdiri terlalu cepat setelah duduk terlalu lama. Dan sedetik kemudian, rasa itu pergi sepenuhnya, digantikan oleh kesegaran yang aneh—seperti udara pegunungan yang masuk ke paru-paru setelah seumur hidup hanya menghirup udara kota yang penuh jelaga.

Evelyn membuka matanya.

Kamarnya terlihat sama. Namun tidak sama.

Sekarang, di sela-sela setiap objek di kamarnya—di antara benang-benang sutra gaunnya, di dalam molekul udara yang bergerak karena napasnya, bahkan di dalam cahaya lampu minyak yang bergoyang—ia bisa melihat denyutan halus benang-benang mana yang sebelumnya tidak terlihat.

Jadi begini rasanya menjadi Mana-Spark.

"Selamat," suara Sunny terdengar di dalam pikirannya, hangat dan penuh kepuasan yang sangat tulus. "Kau berhasil."

Evelyn menunduk, hendak menjawab—namun matanya tertangkap oleh sesuatu di punggung tangan kirinya.

Ia membalik tangannya perlahan.

Di sana, tepat di atas tulang punggung tangan kirinya—area yang selalu terlihat saat ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan atau memegang cangkir teh—sebuah simbol telah terbentuk. Ia tidak sakit, tidak terasa panas. Simbol itu hadir begitu saja, seolah-olah ia selalu ada di sana dan baru sekarang memutuskan untuk menunjukkan dirinya.

Bentuknya adalah lingkaran kecil yang sempurna, dengan garis-garis halus yang membentuk pola seperti timbangan yang sedang dalam keseimbangan sempurna—bukan timbangan biasa, melainkan timbangan yang tampak seperti ia sedang menimbang sesuatu yang tidak memiliki bentuk fisik. Di sekeliling lingkaran itu, melingkar dengan rapi, aksara-aksara kuno yang sangat kecil namun sangat jelas tertulis—aksara yang sama seperti yang ia baca di atas kartunya di Mist Palace.

Dan di tengah lingkaran itu, dalam aksara yang sedikit lebih besar dari yang lainnya, tertulis satu kata.

JUSTICE.

Warnanya bukan tinta—bukan hitam, bukan biru. Ia memiliki warna yang sulit dijelaskan, seolah-olah ia terbuat dari cahaya yang dipadatkan menjadi garis. Di dalam ruangan biasa, simbol itu hampir tidak terlihat—hanya tampak seperti guratan samar di kulit. Namun di bawah cahaya lampu minyak yang hangat, ia berdenyut sangat halus, seperti batu Mana yang baru saja melakukan tugasnya.

Evelyn menatap simbol itu dalam diam yang sangat panjang.

Seluruh hidupnya, ia adalah putri Duke Valerius—nama yang tertulis di buku silsilah bangsawan, di undangan jamuan teh, dan di rekening bank yang tidak pernah ia urus sendiri. Nama itu bukan miliknya; ia warisan dari leluhur yang wajah-wajahnya memandangnya kaku dari lukisan di lorong rumahnya.

Namun nama yang tertulis di punggung tangannya sekarang—

Itu milikku.

"Sarung tangan," suara Sunny terdengar pelan di dalam pikirannya, nadanya mengandung sesuatu yang terdengar seperti senyuman. "Jika kau tidak ingin Martha pingsan saat melihatnya."

Tawa kecil keluar dari bibir Evelyn tanpa peringatan—tawa yang murni dan hangat, sama seperti saat ia pertama kali melihat Sunny menggali lubang kecil di taman belakang di hari pertama mereka bertemu.

Ia menutup tangan kirinya, menyembunyikan simbol itu di dalam genggamannya. Di luar jendela, kabut Oakhaven masih tebal, mesin-mesin masih berdenyut, dan dunia masih berjalan di atas rel besi yang presisi.

Namun Evelyn von Valerius—Miss Justice, Mana-Spark, Tipe Animals Mind—duduk di lantai kamarnya dengan Batu Mana yang kini retak di tangannya dan seekor anjing emas yang menyandarkan kepalanya di bahunya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia bukan sekadar komponen hiasan dalam mesin besar bernama Oakhaven.

Ia adalah sesuatu yang lain sepenuhnya.

Dan perjalanan itu baru saja dimulai.

More Chapters