Ficool

Chapter 15 - Bab 14: Pengakuan Logam dan Undangan dari Kabut

​Tujuh hari telah berlalu sejak Arlan Vane membawa pulang "rongsokan" dari Pasar Karat. Di atap gedung tua Distrik Utara, waktu seolah-olah membeku di antara dentingan pedang dan deru uap kota Lorgar. Setiap hari, sebelum matahari sanggup menembus kabut jelaga, Arlan sudah berada di sana. Tubuhnya adalah sebuah mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas desainnya.

​Sepuluh ribu ayunan. Itu bukan sekadar angka bagi Arlan. Itu adalah ritual penyucian.

​Lengan kanannya yang sempat pecah pembuluh darahnya kini bergetar hebat. Setiap kali ia mengayunkan pedang standar cadangannya, rasa perih menjalar dari bahu hingga ke ujung jari. Namun, setiap kali ia ingin menurunkan tangannya, suara parau dan menyebalkan itu kembali bergema di dalam kepalanya.

​"Sembilan ribu delapan ratus dua... Ayo, Nak! Ayunanmu mulai terlihat seperti orang yang sedang mengusir lalat. Kau ingin memotong takdir atau ingin membersihkan debu di rak buku ibumu?"

​Arlan menggertakkan giginya hingga rahangnya terasa pegal. "Diam... Kuro..."

​"Oh, aku tidak bisa diam. Kau tahu, Arlan, kenapa pedang yang sedang patah hati tidak pernah bisa tajam lagi?" Kuro melemparkan sebuah pertanyaan retoris di tengah napas Arlan yang terputus-putus.

​Arlan tidak menjawab. Ia tetap mengayun. Syuut!

​"Karena dia kehilangan 'asahnya'! Hahaha! Aduh, itu klasik. Tapi serius, Arlan, fokus pada aliran Auramu. Jangan biarkan dia bocor di persendian. Kau adalah seorang Flow-Seeker, tapi aliranmu saat ini lebih mirip pipa ledeng yang bocor di Sektor 7."

Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan.

Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan.

​Sepuluh ribu.

​Arlan melepaskan pedang standarnya. Logam itu jatuh berdenting di atas beton, sementara Arlan sendiri ambruk berlutut. Keringatnya mengalir deras, membasahi lantai hingga menciptakan genangan kecil. Paru-parunya terasa seperti menghirup api. Seluruh ototnya menjerit protes, namun di dalam dadanya, ada sebuah kepuasan yang dingin.

​"Kau menyelesaikannya," suara Kuro tiba-tiba berubah. Tidak ada lagi nada mengejek atau lelucon garing. Suaranya kini terdengar berat, penuh otoritas, dan... sedikit bangga. "Tujuh hari. Sepuluh ribu ayunan dengan tubuh yang hancur. Kau benar-benar sepotong besi tua yang keras kepala, Arlan Vane."

​Arlan merangkak perlahan menuju katana berkarat yang bersandar di pipa uap. Ia meraih gagangnya dengan tangan yang gemetar hebat.

​"Apakah... ini cukup... untukmu?" bisik Arlan.

​"Tekadmu sudah teruji. Kau tidak mencari kekuatan instan; kau membangunnya dari sisa-sisa rasa sakitmu. Itu adalah kualitas yang jarang ditemukan, bahkan di era para Dewa sekalipun," Kuro bergumam. "Sekarang, alirkan Auramu. Bukan ke seluruh bilah, tapi fokuskan pada satu titik di antara sarung dan pelindung tangan. Berikan aku satu alasan untuk melepaskan karat ini."

​Arlan memejamkan matanya. Ia mengabaikan semua kebisingan kota Lorgar. Ia menarik semua sisa energi Flow-Seeker-nya, memampatkannya di telapak tangan, dan mendorongnya masuk ke dalam inti katana itu.

​Tiba-tiba, sebuah sensasi hangat yang luar biasa menyambar kesadarannya. Karat hijau dan merah yang selama ini membungkus Kuro mulai retak. Bukan karena dipaksa secara fisik, tapi karena mereka "mencair" oleh pengakuan dari dalam.

​"Perjanjian selesai, Arlan Vane," suara Kuro bergema dengan frekuensi yang sangat tinggi hingga membuat dunia di sekitar Arlan mulai memudar.

KLIK.

​Bilah itu bergeser. Hanya satu inci, namun dari celah kecil itu, sebuah cahaya perak murni memancar, memotong kabut jelaga di sekitarnya seolah-olah itu adalah kain tipis. Pada saat yang sama, dunia di sekitar Arlan mulai bergetar.

​"Apa yang terjadi?" Arlan bergumam, insting waspadanya segera bangkit.

​"Jangan melawan, Nak," bisik Kuro, suaranya perlahan menjauh seolah-olah ia tertinggal di dimensi lain. "Dia telah memanggilmu. Aku tidak bisa menemanimu ke sana, tapi aku akan menjagamu dari sini. Ingat, tetaplah waspada... dan jangan tunjukkan rasa takutmu."

​Tiba-tiba, mata Arlan menangkap sebuah pemandangan yang mustahil. Dari udara kosong di depannya, kabut merah pekat meledak, menelan tubuhnya, menelan atap gedung, dan menelan seluruh kota Lorgar. Arlan merasa seolah-olah berat badannya menghilang, ditarik oleh gravitasi yang terbalik menuju langit yang tak berujung.

​Di tempat lain, di sebuah kamar mewah di kota Oakhaven yang tenang.

​Evelyn von Valerius baru saja hendak meletakkan cangkir tehnya saat ia melihat pemandangan aneh yang sama. Cahaya merah muncul dari sela-sela jarinya, menyebar dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh matanya.

​"Sunny?" Evelyn memanggil anjing emasnya yang sedang tertidur di karpet.

​Sunny terbangun, telinganya tegak, namun ia tidak menggonggong. Ia hanya menatap Evelyn dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah ia tahu apa yang sedang terjadi. Sebelum Evelyn sempat berteriak, kesadarannya tersedot ke dalam pusaran kabut merah yang menyilaukan.

​Arlan merasa kakinya menyentuh permukaan padat. Ia segera merendahkan tubuhnya, tangan kanannya secara insting mencari gagang katana di pinggangnya, namun ia terkejut saat menyadari tangannya terasa jauh dan samar.

​Ia mendapati dirinya berdiri di atas sebuah lantai yang terbuat dari material transparan yang tampak seperti kristal kuno, namun di bawahnya bukan tanah, melainkan lautan kabut putih yang bergolak tanpa henti. Di sekelilingnya, pilar-pilar raksasa yang tampak seperti penyangga langit menjulang tinggi, hilang di dalam kegelapan di atas sana.

​Arlan menoleh dengan cepat. Di depannya, berdiri seorang gadis. Wujudnya tertutup oleh lapisan kabut kelabu yang tebal. Arlan hanya bisa melihat siluet gaunnya yang tampak mahal dan rambut pirang yang terurai, namun wajahnya benar-benar tersembunyi.

​Di sisi lain, Evelyn—yang juga tertutup kabut—menatap sekeliling dengan mata yang berbinar di balik samaran mistis itu. Ia tidak tampak takut; ia justru tampak seperti seorang penjelajah yang baru saja menemukan benua baru.

​"Ini... luar biasa," suara Evelyn terdengar, namun suaranya terdistorsi oleh kabut, terdengar lebih bergema dan asing. "Apakah ini sihir tingkat tinggi? Apakah aku ditarik ke dalam kabut? "

Arlan tidak menjawab. Ia tetap diam, matanya yang tajam di balik kabut terus mengamati setiap sudut aula besar ini. Sebagai seorang Flow-Seeker, ia mencoba merasakan aliran energi di tempat ini, namun ia tidak menemukan apa pun. Tempat ini terasa seperti "kekosongan" yang absolut, namun memiliki otoritas yang mampu menekan seluruh keberadaannya.

​“Sangat waspada. Pakaian pria itu... tampak seperti mantel tentara bayaran, tapi sikapnya menunjukkan dia adalah seorang petarung yang terlatih,” pikir evelyn dalam hati. 

Arlan dalam hati, menilai sosok Evelyn yang berdiri tak jauh darinya. “Dan gadis ini... suaranya menunjukkan kepolosan, tapi keberadaannya di sini berarti dia bukan orang biasa.”

​"Siapa kau?" Arlan bertanya dengan suara berat dan dingin, mencoba mengintimidasi untuk mendapatkan informasi.

​"Aku... aku tidak tahu," Evelyn menjawab dengan jujur, suaranya penuh rasa ingin tahu yang meluap-luap. "Tiba-tiba saja ada cahaya merah, dan aku sudah di sini. Kau juga sama?"

​Sebelum Arlan sempat menjawab, perhatian mereka berdua teralihkan ke ujung meja panjang yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Meja itu terbuat dari batu kuno yang dihiasi dengan pola rasi bintang yang berputar.

​Dan di sana, di kursi utama yang paling tinggi, duduk seorang sosok.

​Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang yang tampak menyerap cahaya di sekitarnya. Wajahnya, sama seperti mereka, tertutup oleh kabut tebal, namun auranya jauh berbeda. Sosok ini memancarkan ketenangan yang mencekam—sebuah ketenangan yang dimiliki oleh seseorang yang telah melihat lahir dan hancurnya ribuan dunia.

​Sosok itu duduk dengan santai, satu tangannya bersandar pada lengan kursi, sementara jarinya mengetuk meja dengan irama yang pelan namun terasa seperti dentuman jantung alam semesta.

​"Selamat datang," suara sosok itu terdengar. Suaranya tidak keras, namun bergema langsung di dalam jiwa Arlan dan Evelyn. Nada bicaranya terdengar seperti seorang bangsawan tua yang ramah, namun memiliki misteri yang tak terduga—persis seperti seseorang yang menganggap seluruh dunia ini hanyalah panggung sandiwara.

​Evelyn segera membungkuk sedikit, sebuah kebiasaan bangsawan Oakhaven yang tidak bisa ia hilangkan. "Tuan yang Agung, apakah Anda yang memanggil kami ke sini? Tempat apa ini?"

​Arlan tetap berdiri tegak, tangannya masih di dekat pinggang (meski pedangnya terasa samar). "Apa tujuan Anda menarik kami ke sini? Di Lorgar, tidak ada yang gratis. Apa harga yang harus kami bayar untuk pertemuan ini?"

​Sosok di kursi utama itu terkekeh pelan. Tawa itu terdengar misterius, seolah-olah ia sedang menertawakan pertanyaan Arlan yang terlalu praktis.

​"Harga?" sosok itu mengulang kata Arlan. "Di tempat ini, harga ditentukan oleh nilai informasi dan kesepakatan. Aku hanyalah seorang 'Fool' yang sedang melakukan eksperimen kecil terhadap takdir yang telah membeku."

​“The Fool?” Arlan membatin, otaknya bekerja cepat. “Sebuah kode nama? Atau gelar kuno? Dia menarik kami melintasi jarak yang mungkin ribuan mil hanya untuk sebuah 'eksperimen'?”

​"Tuan Fool," Evelyn berkata dengan nada antusias, "ini adalah pertama kalinya aku melihat sihir yang melampaui penjelasan buku-buku di perpustakaan. Apakah kami adalah tamu Anda?"

​"Kalian adalah 'anggota' pertama dari sebuah pertemuan yang aku harap akan menjadi rutin," jawab Mr. Fool dengan nada santai, seolah-olah ia sedang mengundang teman lama untuk minum teh, padahal ia baru saja melakukan fenomena mukjizat. "Duduklah. Di atas kabut ini, rahasia adalah mata uang, dan kejujuran adalah pilihan."

​Arlan ragu sejenak, namun ia menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Jika sosok ini ingin membunuhnya, ia sudah mati sejak tadi. Ia menarik kursi tinggi di sisi kanan meja, sementara Evelyn duduk di sisi kiri dengan anggun.

​Aula itu kembali hening selama beberapa saat. Hanya ada suara pusaran kabut di luar pilar-pilar raksasa. Arlan terus menatap Mr. Fool, mencoba mencari celah atau petunjuk tentang siapa sebenarnya entitas ini. Di sisi lain, Evelyn tampak mulai mengamati meja marmer itu dengan teliti, seolah-olah ia sedang mencari cara untuk mencatat kejadian luar biasa ini.

​"Sepertinya," Mr. Fool kembali bersuara, memecah kesunyian, "kita membutuhkan cara untuk saling menyapa tanpa harus mengungkap identitas asli di dunia bawah. Bagaimana jika kalian memilih nama dari kartu yang akan aku berikan?"

​Mr. Fool melambaikan tangannya dengan gerakan yang elegan. Di depan Arlan dan Evelyn, tumpukan kartu Tarot yang tampak kuno mulai terbentuk dari kabut, melayang di udara dengan cahaya remang-remang.

​Arlan menatap kartu-kartu itu dengan penuh kecurigaan, sementara Evelyn menatapnya dengan mata yang berbinar-binar, siap untuk memulai petualangan rahasia ini.

More Chapters