Ficool

Chapter 12 - Bab 11: Bayaran Darah dan Ambang Pintu Karat

​Aroma tajam amonia dan bau anyir obat-obatan herbal menusuk indra penciuman Arlan bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut konstan di lengan kanannya, sebuah rasa sakit tumpul yang menyiksa, seolah-olah ada ribuan jarum panas yang tertancap di bawah kulitnya.

​Arlan membuka matanya perlahan. Langit-langit ruangan itu terbuat dari kayu yang menghitam karena usia, dengan pipa uap kecil yang melintang dan mengeluarkan desis halus. Ia berada di ruang perawatan Silver Compass—sebuah tempat yang lebih mirip bengkel manusia daripada klinik medis.

​"Kau beruntung Gorn cukup kuat untuk menggendongmu sambil berlari menembus tiga blokade preman," sebuah suara serak terdengar dari samping tempat tidurnya.

​Arlan menoleh dengan kaku. Silas duduk di sana, sedang mengisap pipa tembakaunya, wajahnya yang hanya bermata satu tampak lebih suram dari biasanya.

​"Berapa lama aku... tidak sadar?" suara Arlan parau, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan pasir.

​"Dua hari. Tabib di sini harus menjahit tiga pembuluh darah utamamu yang pecah karena teknik gila yang kau gunakan," Silas mengeluarkan kepulan asap abu-abu. "Kau hampir meledakkan lenganmu sendiri, Vane. Seorang Flow-Seeker (Rank 2) tidak seharusnya memaksa Aura ke titik kompresi seperti itu tanpa persiapan."

​Arlan terdiam, menatap lengannya yang dibalut perban tebal. Ia ingat sensasi pedangnya yang patah—rasa kehilangan yang tajam terhadap senjata yang telah menemaninya sejak ia masih menjadi Aura-Trigger (Rank 1).

​"Bagaimana dengan yang lain?"

​"Kael kehilangan lengannya secara permanen. Dia pensiun dari dunia tentara bayaran dan pulang ke desa dengan uang kompensasi. Rina dan Gorn baik-baik saja, meski mereka mengalami trauma ringan. Musuh yang kau hadapi... mereka bukan preman biasa. Mereka adalah unit pembersih yang terlatih."

​Silas meletakkan sebuah kantong kulit berat di atas meja samping tempat tidur Arlan. Suara denting logam di dalamnya terdengar sangat nyata—berat dan padat.

​"Tiga puluh koin emas adalah total bayaran tim. Karena Kael cacat dan kau hampir mati, Gorn dan Rina sepakat memberikan porsi lebih besar padamu. Sepuluh koin emas sebagai bagian dasarmu, ditambah lima koin emas sebagai bonus bahaya karena kau yang menghabisi pemimpin mereka. Total lima belas koin emas."

​Lima belas koin emas. Setara dengan seribu lima ratus koin perak. Cukup untuk membayar sewa panti asuhan selama satu tahun penuh dan masih menyisakan cukup banyak untuk membeli peralatan medis atau—yang paling krusial—senjata baru yang mampu menahan aliran energinya.

​"Senjataku..." bisik Arlan.

​"Patah total. Tidak bisa diperbaiki kecuali kau meleburnya kembali menjadi batangan besi," Silas berdiri. "Istirahatlah sampai malam. Tapi saranku, jika kau ingin tetap hidup di kota ini, belilah sesuatu yang lebih kuat dari sekadar baja industri biasa."

​Malam harinya, Lorgar kembali diselimuti oleh kabut hitam yang pekat. Arlan turun dari tempat tidurnya dengan tertatih. Tubuhnya masih terasa lemah, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama. Berada di kota ini tanpa senjata terasa seperti berjalan tanpa perlindungan di tengah hujan asam.

​Ia mengenakan kembali mantel abu-abu tuanya yang kini memiliki bekas goresan permanen di pinggang. Ia menyembunyikan kantong koin emasnya di dalam saku rahasia di balik rompinya. Sebelum pergi, ia menatap hulu pedang patahnya yang diletakkan Silas di atas meja. Ia membiarkannya tergeletak di sana—sebuah tanda bahwa Arlan yang lama, yang hanya mengandalkan keberuntungan, telah mati di gudang Sektor 7.

​Langkah kakinya membawanya menuju Distrik 'Gears of Silence', sebuah area yang secara resmi tidak ada di peta kota. Di sini, lampu jalanan tidak menggunakan gas, melainkan kristal Mana kualitas rendah yang memancarkan cahaya ungu redup yang menyeramkan.

​Arlan berjalan dengan kepala tertunduk, topi flat cap-nya menutupi sebagian wajahnya. Ia melewati jembatan kereta api bawah tanah yang bergetar hebat saat lokomotif uap melintas di atasnya. Di bawah fondasi jembatan itulah, ia berhenti di depan sebuah pintu besi berat yang tertanam di dinding beton yang lembap.

​Pintu itu tidak memiliki lubang kunci, hanya sebuah celah kecil untuk mata yang tertutup rapat. Ini adalah pintu masuk menuju "Pasar Karat", pasar gelap terbesar bagi para pengguna jalur di kota Lorgar, tempat di mana barang-barang dari Obsidian Spire atau sisa-sisa artefak kuno sering diperjualbelikan secara ilegal.

​Arlan mengetuk pintu itu dengan pola tertentu: tiga ketukan cepat, dua lambat.

​Celah di pintu itu bergeser terbuka. Sebuah mata merah yang tampak lelah mengintip dari dalam, menilai sosok pria di depannya. Arlan berdiri diam, membiarkan penjaga itu merasakan sisa-sisa Aura dari seorang Flow-Seeker yang sedang terluka namun tetap berbahaya.

​"Lima koin perak untuk biaya masuk," suara serak terdengar dari balik besi.

​Arlan merogoh sakunya, mengeluarkan koin yang sudah ia siapkan, dan memasukkannya ke dalam lubang kecil di bawah celah mata.

​KREKKK—GRRRR—

​Suara mekanisme gigi roda yang berat mulai berputar di balik dinding. Pintu besi itu bergeser perlahan ke samping, mengungkapkan sebuah tangga menurun yang menuju ke dalam perut bumi. Dari bawah sana, aroma belerang, minyak mesin, dan tekanan energi mistis yang tidak stabil menguar dengan kuat.

​Arlan menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong, sementara pintu besi di belakangnya menutup kembali dengan dentuman keras. 

More Chapters