Ficool

Chapter 27 - Chapter 27 — BSP Dibuka ke Dunia

Malam itu, RSPAD tidak lagi terasa seperti rumah sakit.

Tempat itu berubah menjadi pusat perhatian negara.

Di luar, kamera media terus menyala. Wartawan berdiri berlapis-lapis di balik garis pengamanan. Di dalam, keluarga menunggu dengan napas tertahan. Di ruang krisis Istana, para pejabat memantau setiap detik. Dan jauh di beberapa negara lain, layar-layar rahasia menampilkan satu kode yang sama.

BSP.

Kode itu pernah dikubur.

Pernah dianggap hilang.

Pernah menjadi rahasia yang hanya hidup di arsip lama.

Namun malam ini, kode itu kembali aktif.

Dan pemiliknya…

baru saja membuka mata.

ICU RSPAD

Doni berbaring lemah.

Wajahnya masih pucat. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun matanya sudah berbeda.

Mata itu bukan lagi mata seorang pasien yang baru saja kembali dari ambang kematian.

Mata itu adalah mata seseorang yang telah mengambil keputusan.

Profesor Arief berdiri di samping tempat tidur. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya menatap Doni dengan sorot mata yang penuh beban.

“Kalau kamu benar-benar membuka ini,” kata Arief pelan, “maka tidak ada jalan kembali.”

Doni menatap langit-langit ruangan.

Beberapa detik ia diam.

Lalu suaranya keluar, pelan tapi jelas.

“Sejak Garuda turun ke sekolah Julio… jalan kembali itu sudah tidak ada.”

Arief menarik napas panjang.

“Keluargamu belum siap.”

Doni menutup matanya sebentar.

Wajah Sri muncul di benaknya.

Ika.

Korin.

Julio.

Cucu kecilnya.

Semua orang yang selama ini ia coba jauhkan dari dunia lama.

Semua orang yang ia lindungi dengan kebohongan, diam, dan jarak.

“Aku tahu,” jawab Doni.

“Lalu kenapa tetap dibuka?”

Doni membuka mata.

“Karena kalau aku tidak membuka sendiri, mereka akan membuka dengan cara mereka.”

Arief diam.

Kalimat itu benar.

Media sudah mencium sesuatu. Istana sudah tahu. Negara luar mulai bergerak. Black Sun sudah terlalu dekat.

Rahasia itu tidak lagi berada di tangan mereka.

Doni menggerakkan jarinya sedikit.

“Panggil Sri.”

Arief menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Ruang Tunggu ICU

Sri berdiri ketika pintu terbuka.

Seorang dokter keluar bersama Arief.

“Bu Sri,” kata dokter hati-hati, “Pak Doni ingin bertemu sebentar.”

Sri langsung berdiri.

Ika ikut berdiri.

Korin juga.

“Boleh kami ikut?” tanya Ika cepat.

Dokter ragu.

Arief menjawab sebelum dokter bicara.

“Untuk saat ini, Sri dulu.”

Korin langsung memegang tangan Ika.

“Mba Ika…”

Ika menahan napas.

Ia tahu ada sesuatu yang besar akan terjadi.

Sri berjalan pelan menuju pintu ICU. Langkahnya terasa berat. Setiap langkah seperti membawanya kembali ke masa lalu yang selama ini ia kubur.

Ketika pintu terbuka, udara dingin ICU menyambutnya.

Dan di sana…

Doni menatapnya.

Lemah.

Tapi sadar.

Sri berhenti di ambang pintu.

Air matanya langsung jatuh.

“Mas…”

Doni mencoba tersenyum.

Gagal.

Namun matanya melembut.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tapi menghantam Sri lebih keras daripada penjelasan panjang apa pun.

Sri mendekat.

Duduk di samping tempat tidur.

“Kamu selalu begitu,” bisiknya. “Selalu minta maaf setelah semuanya terjadi.”

Doni menatapnya lama.

“Aku berusaha menjauhkan kalian.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak ingin kalian ikut masuk.”

“Aku tahu.”

“Tapi sekarang…”

Sri menggenggam tangannya.

“Sekarang mereka sudah datang.”

Doni terdiam.

Sri menatapnya dengan mata basah.

“Mas, aku ini istrimu. Aku mungkin tidak tahu semua detailnya, tapi aku tahu kamu menyimpan sesuatu sejak lama. Aku tahu setiap kali ada orang asing datang, kamu berubah. Aku tahu setiap kali nama lama disebut, kamu diam. Aku tahu kamu bukan cuma Doni yang orang-orang lihat.”

Doni memejamkan mata.

Sri melanjutkan dengan suara bergetar.

“Yang aku takutkan bukan rahasiamu. Yang aku takutkan adalah kamu kembali masuk ke dunia yang dulu hampir merenggut semuanya dari kita.”

Doni membuka mata.

“Kalau aku tidak masuk…”

Sri memotong pelan.

“Mereka akan menarikmu masuk.”

Sunyi.

Doni menggenggam tangan Sri dengan lemah.

“Aku harus mengatakannya.”

Sri menahan tangis.

“Kepada siapa?”

Doni menatap pintu ICU.

“Kepada keluarga dulu.”

Ruang Keluarga RSPAD

Beberapa menit kemudian, Ika dan Korin masuk.

Keduanya tidak siap.

Tidak ada anak yang siap melihat ayahnya terbaring lemah dengan kabel dan monitor di tubuhnya.

Ika langsung menutup mulutnya.

Korin menangis sebelum sempat bicara.

“Papa…”

Doni menoleh pelan.

“Korin…”

Korin mendekat dengan langkah gemetar.

“Papa kenapa sih? Kenapa semuanya jadi kayak begini? Kenapa dari kemarin orang-orang banyak banget? Kenapa mobil-mobil pengawal itu terus ngikutin kita? Kenapa media ngomongin perusahaan Papa? Papa sebenarnya siapa?”

Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi.

Ika menatap Doni.

Ia tidak menangis seperti Korin, tapi matanya merah.

“Papa, kami bukan anak kecil lagi. Kalau ada sesuatu, kami harus tahu.”

Doni diam lama.

Monitor di sampingnya berbunyi pelan.

Beep… beep… beep…

Doni menatap kedua putrinya.

Lalu berkata pelan.

“Nama yang kalian tahu… Doni… bukan seluruh ceritaku.”

Korin langsung terisak.

“Maksud Papa apa?”

Doni menarik napas.

“Ada nama lain. Nama yang tidak pernah Papa gunakan. Nama yang disimpan oleh orang-orang lama. Nama yang membuat banyak pihak mencari Papa.”

Ika merasakan dadanya mengencang.

“BSP?”

Doni menatap Ika.

Sri terkejut.

Korin menoleh.

“Mba Ika tahu?”

Ika menelan ludah.

“Aku dengar orang di luar tadi bisik-bisik. Aku nggak ngerti… tapi aku dengar.”

Doni memejamkan mata.

“Ya.”

Satu kata itu membuat ruangan terasa runtuh.

Korin memegang lengan Ika.

“BSP itu apa, Pa?”

Doni membuka mata.

“Bukan apa.”

Ia berhenti.

“Siapa.”

Tidak ada yang bicara.

Doni melanjutkan, pelan, tertahan, tapi jelas.

“BSP adalah kode untuk seseorang yang dulu dianggap hilang. Seseorang yang menyimpan kunci dari perjanjian lama. Perjanjian yang dibuat jauh sebelum kalian lahir. Perjanjian yang melibatkan Indonesia… dan negara-negara besar.”

Ika menggeleng pelan.

“Papa…”

Korin menangis makin keras.

“Jadi selama ini Papa… bukan cuma pengusaha?”

Doni menatap Korin.

“Papa tetap ayah kalian.”

“Tapi Papa bohong.”

Kalimat Korin keluar seperti luka.

Sri memejamkan mata.

Ika langsung menoleh ke adiknya.

“Korin…”

“Enggak, Mba. Papa bohong sama kita. Papa bikin kita hidup seolah semuanya normal, padahal dari dulu kita dijaga, diikuti, diawasi…”

Doni menutup mata.

“Benar.”

Korin terdiam.

Ia tidak menyangka Doni akan mengaku secepat itu.

Doni membuka mata lagi.

“Papa bohong karena Papa ingin kalian hidup biasa.”

Korin menggeleng sambil menangis.

“Tapi kita nggak hidup biasa, Pa. Sekarang anakku manggil Mbah Doni terus, media di luar, mobil pengawal di mana-mana, orang luar negeri mau masuk Indonesia… itu bukan biasa.”

Doni tidak menjawab.

Karena Korin benar.

Ika akhirnya bicara.

“Papa, BSP itu… kenapa bisa segitu penting?”

Doni menatap Arief yang berdiri di sudut ruangan.

Arief tidak ikut campur.

Doni menjawab sendiri.

“Karena ada perjanjian yang tidak bisa aktif tanpa keberadaan BSP. Selama BSP dianggap hilang, banyak pihak hanya bisa menunggu. Tapi sekarang…”

Ika menyambung pelan.

“Sekarang Papa aktif.”

Doni mengangguk.

“Dan semua orang mulai bergerak.”

Di Luar RSPAD

Sementara keluarga Doni mendengar kebenaran pertama, media di luar semakin liar.

Kedatangan Prof Arief dengan mobil B 2888 GWM menjadi bahan utama.

Seorang reporter berbicara langsung ke kamera.

“Kehadiran Profesor Arief, yang dikenal sebagai salah satu staf khusus Wakil Presiden, menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa seorang tokoh yang selama ini melekat dengan lingkaran Wakil Presiden datang langsung ke RSPAD menggunakan kendaraan operasional PT Gita Wahana Mandiri?”

Di belakang reporter itu, beberapa jurnalis lain mengejar narasumber.

“Apakah benar Pak Doni terkait proyek strategis negara?”

“Apakah PT Gita Wahana Mandiri memiliki hubungan khusus dengan pemerintah?”

“Apa benar ada tekanan dari luar negeri?”

Namun setiap kali pertanyaan mendekat terlalu jauh, Tim Media Istana bergerak.

Bukan dengan kekerasan.

Bukan dengan ancaman.

Tapi dengan narasi.

Seorang anggota Tim Media Istana berbicara pelan kepada redaktur melalui sambungan telepon.

“Gunakan istilah ‘pengusaha nasional’. Jangan gunakan ‘tokoh rahasia’. Jangan spekulasi soal militer. Jangan kaitkan langsung dengan Pentagon atau Meihwa.”

Di sisi lain, anggota lain berbicara ke koordinator media.

“Kita beri rilis pendek. Fokus ke kondisi kesehatan. Katakan pemerintah menghormati privasi keluarga.”

Namun seorang staf muda bertanya pelan.

“Pak, kalau media tetap menggali?”

Seniornya menatap layar yang menampilkan siaran langsung.

“Mereka pasti menggali.”

“Lalu?”

“Kita perlambat. Bukan hentikan.”

“Kenapa tidak dihentikan?”

Senior itu diam beberapa detik.

“Karena kalau kita hentikan terlalu keras, mereka akan tahu yang mereka cari memang benar.”

Manado

Di Manado, televisi masih menyala.

Sebuah keluarga duduk melingkar di ruang tengah.

Mereka melihat wajah Doni muncul dalam berita.

Tidak dalam kondisi jelas.

Tidak sebagai pasien.

Hanya nama.

PT Gita Wahana Mandiri.

Doni.

RSPAD.

Pengamanan ketat.

Prof Arief.

Kendaraan GWM.

Semuanya terlalu besar untuk diterima.

Seorang perempuan paruh baya berkata pelan.

“Doni itu… di Jakarta kan katanya cuma kerja biasa…”

Seorang pria tua menggeleng.

“Bukan kerja biasa kalau sampai dijaga negara.”

“Tapi dia nggak pernah cerita.”

“Doni memang begitu. Dari dulu kalau ditanya, jawabnya cuma ‘baik-baik saja’.”

Mereka terdiam.

Di layar, reporter kembali menyebut nama PT Gita Wahana Mandiri.

Perempuan itu menutup mulutnya.

“Jadi selama ini… dia hidup seperti apa di Jakarta?”

Tidak ada yang bisa menjawab.

Karena mereka baru sadar…

orang yang mereka kira biasa…

mungkin adalah salah satu orang paling dicari malam itu.

RSPAD — Anak-anak AKPER Berpamitan

Di sisi lain rumah sakit, beberapa mahasiswa AKPER PELNI yang tadi ikut membantu penanganan pertama berdiri di koridor.

Mereka belum langsung pulang.

Seragam mereka masih sedikit berantakan.

Wajah mereka lelah.

Salah satu dari mereka berkata pelan.

“Harusnya kita langsung balik ya…”

Yang lain mengangguk.

“Tapi rasanya nggak enak kalau pergi begitu aja.”

Mereka akhirnya menemui salah satu staf GWM yang berjaga.

“Kami pamit dulu, Pak.”

Staf itu menatap mereka dengan mata yang masih merah.

“Kalian yang tadi bantu Pak Doni?”

“Iya, Pak… kami cuma bantu penanganan awal.”

Staf itu langsung menggenggam tangan salah satu dari mereka.

“Terima kasih.”

Mahasiswa itu tampak kaget.

“Pak, kami cuma menjalankan tugas…”

“Tidak.” Staf itu menggeleng. “Kalian membantu orang yang sangat berarti bagi banyak orang.”

Mahasiswa itu terdiam.

Ia menatap ke arah ruang ICU dari jauh.

“Semoga beliau pulih, Pak.”

Staf GWM mengangguk.

“Amin.”

Mereka berjalan pergi pelan.

Tidak tahu bahwa malam itu akan mereka ingat seumur hidup.

Tidak tahu bahwa tangan mereka sempat menahan seseorang yang ternyata menjadi pusat perhatian dunia.

ICU — Keputusan Doni

Di dalam ruangan, Doni mulai lelah.

Dokter sudah memberi isyarat bahwa waktu bicara harus dihentikan.

Namun Doni belum selesai.

Ia menatap Ika, Korin, Sri, lalu Arief.

“Sebelum media mengambil cerita ini…”

Ia menarik napas.

“…aku ingin kita yang memilih apa yang dibuka.”

Arief mendekat.

“Kamu yakin?”

Doni menatapnya.

“Aku tidak punya kemewahan untuk ragu.”

Sri menggenggam tangannya.

“Mas, jangan paksakan diri.”

Doni menatap Sri dengan lembut.

“Selama ini kamu yang paling banyak menanggung diamku.”

Sri menangis tanpa suara.

Doni melanjutkan.

“Maaf.”

Sri menggeleng.

“Jangan minta maaf lagi. Cukup hidup.”

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Ika menunduk.

Korin menangis lagi.

Doni tersenyum lemah.

“Baik.”

Lalu ia menatap Arief.

“Siapkan pernyataan.”

Arief mengangguk.

“Untuk siapa?”

Doni menutup mata sebentar.

Lalu membukanya.

“Bukan untuk dunia.”

Ia berhenti.

“Untuk Indonesia dulu.”

Arief terdiam.

Doni melanjutkan dengan suara rendah.

“Katakan… BSP hidup.”

Ruangan itu membeku.

Sri menahan napas.

Ika memejamkan mata.

Korin menggenggam tangan anaknya.

Di luar, media masih berteriak mencari jawaban.

Di Istana, Tim Media masih mencoba menahan narasi.

Di Manado, keluarga masih menatap televisi dengan kebingungan.

Dan di ICU…

Doni baru saja memilih membuka pintu yang selama ini dikunci.

LAST LINE

Malam itu, satu kalimat mulai bergerak dari ruang ICU menuju pusat negara.

BSP hidup.

Dan dunia…

akan segera mengetahuinya.

More Chapters