Ficool

Chapter 26 - Chapter 26 — Pengakuan yang Tidak Bisa Disembunyikan

MALAM YANG TIDAK TENANG

Malam itu tidak terasa seperti malam biasa.

Udara di sekitar RSPAD terasa lebih padat, lebih berat, seolah-olah sesuatu yang tidak terlihat sedang menekan dari segala arah. Lampu-lampu sorot dari kendaraan media memantul di aspal yang sedikit lembap, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak tidak beraturan—seperti kegelisahan yang tidak bisa diam.

Di luar gerbang, puluhan wartawan berdiri dengan posisi masing-masing, namun tidak ada satu pun yang benar-benar santai. Mereka tidak lagi sekadar menunggu kabar.

Mereka mencari sesuatu.

“Ini bukan kejadian biasa…” gumam seorang reporter muda sambil memeriksa kembali catatan di tangannya, lalu menatap ke arah gerbang yang dijaga ketat.

Rekannya, yang lebih senior, hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus ke kamera.

“Kamu baru sadar sekarang?” jawabnya pelan, tapi dengan nada yang penuh arti.

Reporter muda itu menghela napas.

“Dari tadi aku lihat… pengamanan segini ketatnya biasanya cuma kalau pejabat negara… atau tamu luar negeri penting.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lagi ke arah dalam.

“Tapi ini… katanya cuma pengusaha.”

Kata “cuma” itu menggantung.

Dan semua yang mendengarnya tahu—

itu tidak lagi masuk akal.

MOBIL YANG MEMBUAT SEMUA BERUBAH

Dari kejauhan, sebuah mobil melaju mendekat.

Tidak kencang.

Tidak juga mencolok.

Namun justru itu yang membuatnya terlihat berbeda di antara kendaraan lain yang datang dan pergi.

“Eh…” salah satu kameramen langsung menepuk bahu rekannya.

“Itu lagi.”

“Yang mana?”

“Itu… mobil GWM.”

Semua mata langsung mengarah ke titik yang sama.

Mobil itu melambat.

Berhenti tepat di depan akses masuk.

Lampu depannya meredup pelan.

Plat nomor itu terlihat jelas.

B 2888 GWM.

Beberapa wartawan saling pandang.

“Ini bukan mobil biasa…”

“Ini mobil orang dalam…”

Belum sempat mereka menyusun dugaan—

pintu mobil terbuka.

Seorang pria turun.

Sunyi.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup untuk membuat semua orang mengenali.

“Prof… Arief…”

Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan.

Namun efeknya—

seperti ledakan.

“PAK ARIEF!”

“PAK ARIEF MOHON KLARIFIKASI!”

“PAK ADA PERNYATAAN?!”

Kerumunan langsung bergerak.

Mikrofon maju dari berbagai arah.

Kamera mendekat hampir tanpa jarak.

Arief berhenti.

Tidak terlihat kaget.

Tidak juga tergesa masuk.

Ia berdiri di tengah sorotan lampu.

Wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah memperkirakan semua ini akan terjadi.

Seorang reporter senior langsung maju paling depan.

Suaranya tegas, tidak berputar-putar.

“Pak Arief, publik perlu penjelasan—Bapak adalah staf khusus Wakil Presiden, dan malam ini Bapak datang ke RSPAD menggunakan kendaraan operasional PT Gita Wahana Mandiri, yang direktur utamanya sedang dalam kondisi kritis. Apa sebenarnya hubungan antara negara dan perusahaan ini?”

Pertanyaan itu panjang.

Tersusun rapi.

Dan langsung ke inti.

Beberapa detik hening.

Arief tidak langsung menjawab.

Ia menatap wajah-wajah di depannya.

Satu per satu.

Seolah sedang membaca mereka.

Lalu akhirnya ia bicara.

Pelan.

Namun setiap kata terdengar jelas.

“Saya datang ke sini… sebagai seseorang yang mengenal Pak Doni secara pribadi.”

Beberapa wartawan langsung menyela.

“Namun Pak, dengan segala hormat, ini tidak terlihat seperti kunjungan pribadi—pengamanan berlapis, mobil operasional perusahaan, dan kehadiran Bapak—”

Arief mengangkat tangannya sedikit.

Gerakan kecil.

Namun cukup membuat suara mulai mereda.

“Saya tidak akan mengomentari spekulasi.”

Ia berkata dengan nada tetap tenang.

“Tapi saya akan bilang satu hal—”

Ia berhenti.

“Tidak semua yang kalian lihat malam ini… bisa kalian pahami hanya dari apa yang terlihat.”

Sunyi.

Kalimat itu—

tidak menjawab apa-apa.

Namun justru membuat semuanya semakin dalam.

Seorang wartawan lain mencoba lagi.

“Pak, apakah ini ada kaitannya dengan kepentingan negara? Apakah Pak Doni bagian dari sesuatu yang lebih besar?”

Arief menatapnya lama.

Lalu menjawab pelan:

“Kalau saya jawab iya… kalian tidak akan percaya.”

Ia berhenti.

“Kalau saya jawab tidak… kalian tahu itu tidak benar.”

Sunyi total.

Dan di situlah—

kecurigaan berubah menjadi keyakinan.

TIM MEDIA ISTANA — PERANG YANG TIDAK TERLIHAT

Tidak jauh dari kerumunan itu, beberapa orang berdiri dengan posisi yang tidak mencolok.

Tidak memakai atribut media.

Namun memakai headset kecil.

“Angle berita mulai liar,” salah satu dari mereka berbisik.

“Turunkan sekarang,” jawab yang lain.

“Alihkan ke kesehatan. Jangan sentuh relasi negara.”

Dalam hitungan menit—

headline mulai berubah.

Namun di lapangan—

wartawan tetap mengejar.

Karena mereka tahu—

ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pasien ICU.

LUAR ICU — KELUARGA DALAM BAYANGAN MASA LALU

Di dalam rumah sakit, suasana jauh lebih sunyi.

Namun justru itu yang membuatnya lebih berat.

Sri duduk tanpa bergerak.

Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga ruas-ruas jarinya memucat.

Ika berdiri di depannya.

“Mama… Papa sudah sadar…”

Tidak ada reaksi cepat.

Sri hanya mengangguk pelan.

“…iya.”

Korin yang duduk di samping langsung mengangkat wajahnya.

Matanya masih basah.

“Kalau sudah sadar… berarti Papa aman kan, Ma…?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun jawabannya—

tidak.

Sri menatapnya lama.

Lalu berkata dengan suara yang pelan… namun penuh beban.

“…dulu juga begitu.”

Ruangan langsung terasa dingin.

Ika langsung menutup napasnya.

“Mama…”

Namun Sri melanjutkan.

“…Mas Taufan juga sempat sadar…”

Suaranya mulai pecah.

“…sebelum akhirnya… kita kehilangan dia.”

Tangis Korin langsung pecah.

“Mama… jangan… aku nggak kuat dengarnya…”

Ika memegang bahu ibunya.

Namun tangannya sendiri gemetar.

“Papa beda, Ma…”

Ia memaksa suaranya tegas.

“Papa nggak akan ninggalin kita.”

Namun di dalam dirinya—

ia tidak sepenuhnya yakin.

ICU — KALIMAT YANG MENGUBAH SEGALANYA

Di dalam ICU, suasana kembali hening.

Doni membuka matanya lebih jelas kali ini.

Ia melihat ke samping.

Arief sudah berdiri di sana.

“…semua… sudah mulai ya…”

Suaranya lemah.

Namun penuh kesadaran.

Arief tidak langsung menjawab.

“…sudah.”

Doni menutup matanya sejenak.

“…kalau begitu…”

Ia membuka kembali.

Tatapannya berubah.

Lebih tajam.

“…tidak ada lagi yang bisa kita sembunyikan.”

Arief diam.

Beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Apakah kamu siap… membuka semuanya?”

Sunyi.

Doni menarik napas panjang.

Mesin di sampingnya berdetak stabil.

“…bukan soal siap atau tidak…”

Ia berhenti.

“…ini sudah waktunya.”

LAST LINE

Rahasia terbesar…

tidak hancur karena bocor.

Tapi karena—

pemiliknya memilih untuk membukanya.

More Chapters