Ficool

Chapter 30 - Chapter 30 — Dunia Mulai Ikut Campur

RSPAD — SAAT BERITA MENJADI GELOMBANG

Tidak butuh waktu lama.

Apa yang diucapkan Prof Arief di depan kamera… tidak berhenti di halaman rumah sakit. Ia bergerak cepat, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Dalam hitungan menit, potongan-potongan kalimat itu sudah tersebar di berbagai platform, dipotong, diulang, dianalisis, dan diperdebatkan oleh orang-orang yang bahkan tidak berada di lokasi. Kata “Gita Wahana Mandiri”, “Enernova”, “EV Charging”, hingga “Angkot Listrik” mulai menjadi trending—bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mulai muncul di radar luar.

Di dalam kerumunan wartawan, suasana berubah drastis. Mereka tidak lagi hanya bertanya—mereka mulai menghubungkan. Satu reporter berbisik kepada rekannya, “Ini bukan cuma proyek transportasi… ini sistem energi.” Yang lain menjawab cepat, “Dan kalau Enernova sudah masuk… berarti ini sudah level global.” Percakapan seperti itu terjadi di berbagai titik, membentuk satu kesimpulan yang sama: ini bukan lagi berita biasa.

Beberapa kamera mulai melakukan siaran langsung dengan nada yang lebih serius. “Kami mendapatkan konfirmasi bahwa PT Gita Wahana Mandiri terlibat dalam pengembangan sistem energi dan transportasi berbasis listrik yang terintegrasi…” suara reporter terdengar tegas, namun ada sedikit getaran—bukan karena takut, tapi karena sadar ia sedang melaporkan sesuatu yang bisa mengubah arah industri.

Di sisi lain, Tim Media Istana tidak tinggal diam. Mereka bergerak cepat, menghubungi redaksi, mengarahkan framing, dan memastikan bahwa narasi tetap terkendali. “Jangan gunakan kata ‘rahasia negara’,” bisik salah satu anggota tim melalui headset. “Fokus ke inovasi dan kontribusi.” Namun mereka tahu, kali ini tidak semudah itu. Karena gelombang sudah terlanjur besar.

Dan ketika satu nama mulai muncul di beberapa forum internasional—Enernova Indonesia Entry—semua orang akhirnya menyadari satu hal: ini bukan lagi isu domestik. Ini sudah menjadi perhatian dunia.

INTERNASIONAL — NAMA INDONESIA MULAI DISEBUT

Di belahan dunia lain, jauh dari Jakarta, layar-layar besar di beberapa ruang rapat mulai menampilkan potongan berita yang sama. Logo Enernova muncul bersamaan dengan nama Indonesia. Grafik produksi energi, peta distribusi EV Charging, dan data urban mobility mulai dibuka. Ini bukan reaksi panik—ini respon cepat dari mereka yang memahami dampaknya.

Seorang analis di sebuah lembaga internasional berkata pelan, “Jika ini benar… maka Indonesia tidak lagi berada di tahap uji coba.” Rekannya menjawab, “Mereka sudah masuk ke tahap implementasi sistem.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi mereka yang mengerti—itu berarti satu hal: Indonesia sedang melompat beberapa langkah sekaligus.

Enernova sendiri tidak mengeluarkan pernyataan resmi. Namun aktivitas internal mereka meningkat tajam. Beberapa sumber menyebutkan adanya pergerakan tim teknis ke Asia Tenggara, dan Indonesia menjadi titik fokus. Dengan kapasitas produksi mencapai 1 Mega Watt listrik per hari, Enernova bukan sekadar investor—mereka adalah akselerator.

“Jika GWM benar yang membawa mereka masuk…” ujar seorang pengamat energi, “…maka ini bukan sekadar kerja sama. Ini kepercayaan tingkat tinggi.” Dan kepercayaan seperti itu… tidak diberikan dengan mudah. Itu dibangun. Diam-diam. Bertahun-tahun.

Di beberapa forum tertutup, nama BSP mulai disebut—bukan sebagai identitas, tapi sebagai konsep. “Blueprint Smart Power,” ujar seseorang mencoba menebak. Yang lain berkata, “Atau Base System Platform.” Tidak ada yang benar-benar tahu. Tapi semua sepakat—kode itu penting.

Dan di situlah, dunia mulai melakukan hal yang sama dengan media lokal sebelumnya: mencari. Menggali. Dan mencoba memahami… sesuatu yang belum sepenuhnya dibuka.

DALAM RSPAD — KETENANGAN YANG SEMAKIN BERAT

Sementara dunia mulai bergerak, di dalam RSPAD justru terasa semakin sunyi. Sri duduk di tempat yang sama, namun wajahnya berubah. Bukan lagi hanya cemas—tapi juga penuh pikiran. Ia tidak lagi sekadar menunggu kabar kesehatan suaminya. Ia mulai memikirkan… apa yang akan terjadi setelah ini.

Ika berdiri di dekat jendela, memandang keluar tanpa benar-benar melihat. “Ini sudah terlalu besar…” bisiknya pelan. Korin yang duduk di samping hanya mengangguk, matanya masih basah. “Aku nggak pernah bayangin Papa ada di tengah semua ini…” suaranya gemetar, namun lebih tenang dari sebelumnya.

Sri akhirnya berbicara, pelan namun jelas. “Papa kalian sudah lama di situ.” Ia tidak menatap mereka, hanya menatap ke depan. “Hanya saja… kita yang tidak pernah diajak masuk.” Kalimat itu tidak menyakitkan—justru terasa jujur. Dan dari kejujuran itu, perlahan muncul pemahaman.

Ika menoleh ke arah ibunya. “Mama nggak marah?” tanyanya. Sri tersenyum tipis, namun matanya masih basah. “Kalau Mama marah… berarti Mama tidak kenal Papa kalian.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Dia selalu seperti itu. Diam… tapi melakukan sesuatu yang besar.”

Korin menggenggam tangan anaknya lebih erat. “Tapi sekarang semua orang tahu…” ucapnya pelan. Sri mengangguk. “Dan itu yang paling dia hindari selama ini.” Sunyi kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini… bukan sunyi karena takut. Tapi karena mereka mulai mengerti.

ICU — DONI DAN WAKTU YANG SEMAKIN SEMPIT

Di dalam ICU, Doni terbaring dengan mata setengah terbuka. Ia tidak tidur, tapi juga belum sepenuhnya sadar. Namun satu hal jelas—ia mendengar. Setiap suara, setiap kata, setiap potongan berita yang masuk melalui layar kecil di sudut ruangan.

Arief berdiri di sampingnya, membaca beberapa laporan dari ponsel. “Dunia sudah mulai bergerak,” ucapnya pelan. Doni tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas perlahan, lalu berkata, “Memang harusnya begitu.” Suaranya lemah, tapi tetap tegas.

“BSP sudah mulai ditebak,” lanjut Arief. “Tapi masih dalam batas aman.” Doni mengangguk sedikit. “Biarkan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Selama mereka tidak tahu inti… kita masih punya waktu.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun Arief tahu—waktu itu tidak banyak.

“Enernova juga mulai aktif,” tambah Arief. Doni menutup matanya sejenak. “Mereka tidak akan diam,” katanya. “Mereka sudah terlalu dalam untuk mundur.” Arief mengangguk. Ia tahu itu. Semua pihak yang terlibat… sudah melewati titik balik.

Doni membuka matanya sedikit lebih lebar. “Arief…” panggilnya pelan. “Ya?” jawab Arief. “Siapkan semuanya.” Arief tidak langsung bertanya. Ia hanya menatap Doni, lalu mengangguk. Karena ia tahu… “semuanya” yang dimaksud… bukan hal kecil.

Dan di situlah, untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Arief merasa—ini bukan lagi soal menahan. Ini soal bersiap.

JULIO — SESUATU YANG MULAI KEMBALI

Di sudut ruangan, Julio duduk diam. Tidak bermain. Tidak bicara. Hanya menatap kosong ke arah lantai. Namun dari diam itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Ika yang memperhatikan sejak tadi akhirnya mendekat.

“Julio…” panggilnya pelan. Anak itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat kepala sedikit, lalu menatap Ika dengan mata yang… berbeda. Lebih dalam. Lebih tenang. “Mas…” bisiknya pelan.

Ika sedikit terkejut. “Kamu kenapa?” tanyanya. Julio menggeleng. “Nggak tahu…” jawabnya. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi kayak… ada yang manggil.” Kalimat itu membuat Ika terdiam.

“Kamu dengar suara?” tanyanya hati-hati. Julio menggeleng lagi. “Bukan suara… tapi kayak tahu.” Ia menatap ke arah ICU. “Papa belum selesai,” ucapnya pelan.

Ika menahan napas. Kalimat itu terlalu… tepat. Terlalu dalam untuk anak seusia itu. Ia mencoba tersenyum, “Papa lagi sembuh, Julio.” Namun Julio tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap ke arah yang sama.

Dan tanpa ada yang menyadari sepenuhnya—sesuatu yang sempat berhenti… perlahan mulai bergerak lagi.

LAST LINE

Dunia mulai bergerak.

Rahasia mulai terbuka.

Dan waktu… tidak lagi berpihak.

Karena ketika semuanya sudah dimulai—

tidak ada lagi yang bisa benar-benar dihentikan.

More Chapters