Ficool

Chapter 24 - Chapter 24 Antara Hidup dan Mati

Ada batas yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Batas antara hidup… dan mati.

Dan di malam itu—

semua orang berdiri… tepat di garis itu.

PERJALANAN MENUJU RSPAD — MALAM YANG TERASA LAMBAT

Konvoi bergerak cepat menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Lampu kota memantul di kaca kendaraan, menciptakan bayangan yang bergerak cepat, seolah waktu sedang dipaksa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Namun di dalam mobil utama—

waktu justru terasa melambat.

Doni terbaring tak bergerak.

Wajahnya pucat.

Napasnya hampir tidak terdengar.

Monitor jantung di sampingnya menjadi satu-satunya suara yang masih menghubungkannya dengan dunia.

“Beep……beep…”

Namun bunyi itu semakin jarang.

Semakin lemah.

Seorang tenaga medis menatap layar dengan penuh tekanan.

“Tekanan darah terus turun…”

Tangannya bergerak cepat, menyesuaikan alat.

“Naikkan oksigen—sekarang!”

Yang lain langsung membantu.

Namun wajah mereka mulai berubah.

Bukan panik.

Tapi sesuatu yang lebih berbahaya—

rasa tidak yakin.

Yuri di komunikasi terdengar tegang.

“Status sekarang!”

Tidak ada jawaban langsung.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu—

“…ritme jantung tidak stabil.”

DETIK YANG MEMECAH SEGALANYA

Tiba-tiba suara itu datang.

Bukan lagi “beep”.

Namun satu garis panjang—

BEEEEEEEEEEEEEEEEEEP—

Semua membeku.

Monitor menunjukkan garis lurus.

Tanpa naik.

Tanpa turun.

“Flatline!”

Suara itu pecah di dalam kendaraan.

Langsung diikuti gerakan cepat.

“CPR! Sekarang!”

Dada Doni ditekan.

Keras.

Berulang.

Satu.

Dua.

Tiga.

“Jangan berhenti!”

Salah satu tenaga medis menyiapkan defibrillator.

Tangannya sedikit gemetar.

“Charge… siap!”

“Clear!”

DUAK!

Tubuh Doni terangkat sesaat.

Namun layar tetap sama.

Lurus.

“Sekali lagi!”

“Charge ulang!”

“Clear!”

DUAK!

Sunyi.

Tidak ada perubahan.

Salah satu tenaga medis menatap layar lebih lama.

“…tidak respon…”

Namun dokter senior langsung memotong dengan suara keras—

“Kita belum selesai! Lanjutkan!”

Di luar kendaraan—

konvoi tetap melaju dengan kecepatan tinggi.

Jalan dibuka.

Persimpangan dikunci.

Semua terasa terkendali.

Namun di dalam—

kehidupan seseorang…

sedang dipertaruhkan setiap detik.

RUMAH DONI — SAAT KABAR ITU DATANG

Di ruang tengah rumah, suasana awalnya hanya penuh kecemasan.

Namun semuanya berubah… saat telepon itu diangkat.

Sri berdiri diam.

Mendengarkan.

Tanpa bicara.

“…dalam perjalanan…”

“…kondisi kritis…”

Tangannya mulai gemetar.

Matanya kosong.

Seolah kata-kata itu tidak sepenuhnya masuk.

“Tidak…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ika langsung berdiri.

“Mama? Mama kenapa?!”

Sri menatap anak-anaknya.

Air mata mulai jatuh.

Namun ia tetap mencoba bicara.

“…Papa kalian…”

Kalimat itu berhenti.

Karena terlalu berat untuk dilanjutkan.

Korin langsung kehilangan kontrol.

Tangisnya pecah tanpa ditahan.

“Mba Ika… aku takut…”

Ia memeluk anaknya erat.

Seolah takut kehilangan sesuatu sebelum sempat menggenggamnya.

Ika mencoba tetap kuat.

Ia menggenggam tangan Korin.

“Kita ke sana sekarang.”

Namun suaranya sendiri—

tidak kuat.

JULIO — KEMBALI MENJADI ANAK

Di tengah semua kekacauan itu—

Julio berdiri.

Diam.

Tidak bergerak.

Matanya kosong.

Seperti tidak benar-benar hadir di ruangan itu.

Namun saat satu kata terdengar—

“Papa…”

Tubuhnya tersentak.

Seperti sesuatu yang tiba-tiba terputus.

Matanya berkedip.

Pelan.

Lalu ia melihat sekeliling dengan bingung.

“…Papa?”

Ia menatap Sri.

“Bu… Papa kenapa?”

Nada suaranya berubah total.

Tidak ada lagi ketenangan aneh.

Tidak ada lagi kesadaran yang terlalu dewasa.

Hanya seorang anak kecil—

yang takut kehilangan ayahnya.

Sri langsung memeluknya.

Erat.

“…Papa lagi di rumah sakit…”

Julio langsung panik.

“Lho kok bisa… Papa sakit ya?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.

PERJALANAN KELUARGA — DALAM DIAM YANG BERAT

Kendaraan keluarga bergerak menuju RSPAD.

Pengawalan jauh lebih ketat.

Namun di dalam mobil—

tidak ada yang berbicara lama.

Korin masih menangis pelan.

“Mba Ika… aku nggak siap kalau…”

Ia tidak melanjutkan.

Ika menatap ke depan.

Mencoba kuat.

Namun air matanya jatuh diam-diam.

“Papa kuat…”

Ia mengulangnya.

Seperti mantra.

Seperti doa.

Anak kecil di pangkuan Korin tiba-tiba bersuara—

“Mbah… Doni…”

Korin langsung memeluknya lebih erat.

Tangisnya semakin pecah.

“Jangan bilang gitu…”

Namun suara itu tetap terngiang.

RSPAD GATOT SUBROTO — MALAM YANG BERAT

Gerbang rumah sakit dijaga sangat ketat.

Lebih dari biasanya.

Tidak hanya pengamanan internal—

namun juga pengamanan berlapis dari berbagai pihak.

Kendaraan medis masuk tanpa hambatan.

Pintu langsung terbuka.

Tim dokter sudah menunggu.

“Pasien masuk sekarang!”

Doni langsung dibawa ke dalam.

Lorong rumah sakit yang biasanya tenang—

malam itu terasa seperti medan tempur.

DALAM ICU — PERJUANGAN TERAKHIR

Lampu terang.

Alat medis aktif.

Suara monitor kembali menjadi pusat dunia.

“Status terakhir?”

“Flatline di perjalanan, dua kali shock!”

“Belum stabil!”

Dokter utama mengambil alih.

“Lanjutkan CPR.”

Nada suaranya tenang.

Namun tegas.

Dada Doni kembali ditekan.

Berulang.

Tidak berhenti.

“Charge lagi.”

“Clear!”

DUAK!

Monitor masih lurus.

Waktu terasa berhenti.

Semua orang menatap layar.

Beberapa detik.

Namun terasa seperti menit.

Seorang perawat hampir berbisik—

“Dok…”

Namun tiba-tiba—

…beep.

Satu titik kecil muncul.

Semua menahan napas.

…beep.

Satu lagi.

Dokter langsung berteriak—

“Kita dapat ritme!”

Namun ia langsung melanjutkan—

“Jangan berhenti! Stabilkan!”

Karena mereka tahu—

ini belum kemenangan.

Ini baru awal.

LUAR ICU — HARAPAN YANG BERKUMPUL

Satu per satu orang mulai datang.

Karyawan GWM berdiri di luar.

Tidak ramai.

Tidak berisik.

Namun jumlahnya semakin banyak.

“Pak Doni di dalam ya…”

“Iya…”

Tidak ada yang banyak bicara.

Hanya diam.

Menunggu.

Salah satu teknisi berkata pelan—

“Beliau itu… orang baik.”

Yang lain mengangguk.

“Iya… jarang ada pimpinan kayak gitu…”

Malam itu—

tidak ada jabatan.

Tidak ada posisi.

Hanya satu hal—

harapan.

ISTANA NEGARA — TEKANAN YANG TIDAK TERUCAP

Di ruang krisis, suasana tidak kalah tegang.

“Status?”

“Masih di ICU.”

Sunyi.

Seorang pejabat berkata pelan—

“Kalau BSP tidak selamat…”

Ia berhenti.

Karena semua orang tahu kelanjutannya.

“…dunia tidak akan sama.”

PENUTUP

Di dalam ICU—

seorang pria berjuang.

Di luar—

ratusan orang menunggu.

Di rumah—

keluarga berdoa.

Dan di dunia—

semua pihak menahan langkah.

LAST LINE

Di antara hidup dan mati…

tidak ada jaminan.

Namun malam itu—

sebuah detak kecil…

cukup untuk membuat dunia kembali berharap

More Chapters