Ficool

Chapter 15 - Chapter 15 — Terlalu Biasa

Pagi itu Maya datang seperti biasa.

Rambutnya rapi. Seragamnya nggak kusut. Bahkan dia pakai lip balm tipis—sesuatu yang jarang dia lakukan kalau lagi capek.

Dia duduk di bangkunya sebelum bel masuk.

Beberapa teman sempat nanya, "Kemarin jadi ketemu?"

Maya cuma senyum kecil.

"Iya. Udah beres."

Udah beres.

Dua kata yang terdengar ringan.

Padahal yang beres itu cuma statusnya. Bukan perasaannya.

Di depan, Rafi dan Nadira duduk seperti biasa. Nggak lebay. Nggak pamer.

Terlalu normal.

Itu yang bikin Maya hampir tertawa.

Dunia nggak berubah.

Padahal dunianya berubah total.

Saat guru menjelaskan, Maya fokus nyatet. Bahkan lebih rapi dari biasanya.

Tangannya stabil.

Nggak ada air mata.

Nggak ada tatapan kosong.

Kalau orang lihat dari luar, mereka bakal pikir dia kuat banget.

Tapi tiap kali ada suara tawa Rafi dari depan kelas, tangannya berhenti sepersekian detik.

Lalu lanjut lagi.

Istirahat.

Teman-temannya ngajak ke kantin.

Maya ikut.

Dia ngobrol. Ketawa. Bahkan sempat bercanda.

Sampai tanpa sengaja, matanya nangkep satu pemandangan kecil.

Rafi berdiri di depan kelas, Nadira lagi ngomel pelan karena dia lupa bawa minum. Rafi nyodorin botolnya tanpa banyak gaya.

Gerakan kecil.

Refleks.

Bukan romantis.

Tapi terbiasa.

Dan itu lebih sakit.

Maya nggak berhenti lihat lama.

Dia langsung alihin pandangan. Ambil minum. Teguk.

Rasanya hambar.

"Eh, kamu nggak apa-apa kan?" temannya nanya.

Maya angguk cepat. "Apaan sih. Aku biasa aja."

Dan memang begitu.

Dia biasa aja.

Sampai pulang sekolah.

Sampai kamar lagi gelap.

Sampai nggak ada lagi yang harus dia perankan.

Dia duduk di lantai, tas masih tergantung di bahu.

Sunyi.

Hari ini dia berhasil.

Nggak nangis di sekolah.

Nggak nyamperin.

Nggak cari perhatian.

Dia berhasil jadi orang yang dewasa.

Tapi kenapa rasanya kosong banget?

Maya sadar satu hal yang bikin dadanya makin berat—

Dia nggak cuma kehilangan Rafi.

Dia kehilangan versi dirinya yang selalu punya tempat buat pulang.

Dan sekarang, yang tersisa cuma dirinya sendiri.

Dan itu terasa asing.

Dia nggak nangis malam itu.

Itu yang justru bikin takut.

More Chapters