Ficool

Chapter 14 - Chapter 14 — Hari Pertama yang Berbeda

Sekolah tetap seramai biasa.

Latihan acara makin padat. Banner setengah jadi digantung miring. Suara mic feedback bikin semua orang protes.

Tapi buat Rafi dan Nadira, hari itu terasa aneh.

Bukan karena orang-orang langsung tahu.

Tapi karena mereka tahu.

Rafi datang lebih pagi dari biasanya. Refleks. Dulu dia sering datang pagi kalau lagi banyak pikiran.

Sekarang juga.

Bedanya, kali ini dia nggak sendirian terlalu lama.

Nadira muncul dari ujung koridor. Rambutnya diikat sederhana. Tasnya cuma satu tali di bahu.

Mereka saling lihat.

Biasanya mereka langsung ngobrol biasa.

Hari ini… ada jeda setengah detik.

Canggung kecil yang nggak bisa dijelasin.

"Pagi," Nadira duluan.

"Pagi."

Hening lagi.

Bukan karena nggak ada yang mau dibahas.

Tapi karena status itu sekarang beda.

Rafi yang biasanya jalan duluan, kali ini melambat sedikit. Nadira otomatis nyamain langkah.

Tanpa sadar, jarak di antara mereka lebih dekat dari biasanya.

Tangan mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Nadira sadar duluan. Jarinya refleks menegang, lalu santai lagi. Dia nggak berani duluan.

Rafi juga sadar.

Ada dorongan kecil buat genggam.

Tapi dia berhenti.

Bukan karena ragu sama Nadira.

Tapi karena dia tahu, di sekolah ini… semuanya masih terlalu baru.

Dan mungkin masih ada mata yang belum siap lihat.

Di tangga menuju kelas, mereka berhenti bersamaan.

"Kita… biasa aja dulu?" Nadira tanya pelan.

Rafi ngerti maksudnya.

Bukan sembunyi.

Cuma nggak perlu diumumkan.

"Iya. Biasa aja," jawabnya.

Tapi sebelum mereka masuk kelas, Rafi nambah satu hal kecil.

"Nanti pulang bareng?"

Kalimatnya santai. Tapi jelas.

Nadira nggak langsung senyum lebar.

Dia cuma angguk.

"Iya."

Itu cukup.

Di dalam kelas, semuanya berjalan normal.

Teman-teman masih ribut soal acara. Ada yang minta tolong print proposal. Ada yang debat soal lagu.

Rafi duduk di bangkunya.

Beberapa baris di depan, Maya sudah duduk duluan.

Rafi melihatnya sekilas.

Hanya sekilas.

Dan kali ini, dia nggak menoleh lagi.

Bukan karena nggak peduli.

Tapi karena dia sudah memilih arah.

Di sisi lain, Nadira melihat momen itu.

Dia nggak cemburu.

Tapi dia memperhatikan.

Dan ketika istirahat, tanpa banyak kata, dia duduk di samping Rafi seperti biasa.

Nggak genggam tangan.

Nggak bersandar.

Cuma duduk.

Tapi lutut mereka bersentuhan sedikit.

Dan kali ini, nggak ada yang menjauh.

Hubungan mereka nggak meledak dengan romantis.

Nggak ada pengakuan ulang.

Cuma dua orang yang mulai belajar satu hal baru:

Sekarang mereka bukan lagi "mungkin".

Mereka "iya".

Dan itu terasa kecil…

tapi nyata.

More Chapters