Ficool

Chapter 17 - Chapter 17 — Menghilang Pelan

Setelah hari di gudang itu, Maya nggak langsung berubah drastis. Justru sebaliknya.

Dia jadi lebih tenang.

Terlalu tenang.

Di kelas, dia masih duduk di bangku yang sama. Masih nyatet. Masih jawab kalau ditanya guru. Tapi kalau dulu dia sesekali ikut nimbrung ke depan, sekarang dia cukup dari tempatnya.

Rafi sempat sadar duluan.

Bukan karena Maya menatapnya. Justru karena Maya nggak lagi menatap sama sekali.

Kalau dulu, sekilas saja mata mereka pasti pernah bertemu. Entah sengaja atau nggak.

Sekarang tidak.

Seolah-olah Rafi cuma bagian dari latar kelas. Meja. Papan tulis. Jendela.

Biasa.

Suatu siang setelah latihan acara, Rafi tanpa sengaja berpapasan dengan Maya di tangga.

Jarak mereka cuma satu anak tangga.

Maya berhenti duluan, memberi jalan. "Duluan," katanya singkat.

Nada suaranya netral. Nggak dingin. Nggak hangat.

Rafi menatapnya sepersekian detik. "Kamu nggak ikut rapat lanjutan?"

"Udah izin."

"Oke."

Cuma itu.

Nggak ada percakapan tambahan. Nggak ada basa-basi dipaksakan.

Maya turun pelan tanpa menoleh lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Rafi merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan rasa bersalah.

Tapi kehilangan versi Maya yang dulu selalu bereaksi.

Sekarang Maya nggak marah. Nggak sedih di depan. Nggak nyindir.

Dia cuma… mundur.

Beberapa hari berikutnya, perubahan itu makin jelas.

Maya mulai pulang lebih cepat. Nggak nongkrong lama. Kalau teman-temannya ngajak, dia sering jawab, "Besok aja ya."

Di grup kelas dia tetap aktif, tapi seperlunya.

Di aula, kalau Rafi dan Nadira latihan bareng, Maya pindah ke sisi lain tanpa drama. Tanpa tatapan.

Nadira yang paling cepat sadar.

Suatu sore dia bilang pelan ke Rafi, "Maya kelihatan beda."

Rafi diam sebentar. "Iya."

"Kamu mau ngomong sesuatu ke dia?"

Rafi menggeleng pelan. "Kalau aku ngomong sekarang, itu cuma buat nenangin diri aku. Bukan buat dia."

Nadira nggak jawab. Tapi dia mengerti.

Maya bukan lagi butuh penjelasan.

Dia sedang belajar berdiri tanpa mereka.

Di rumah, perubahan itu lebih terasa.

Maya mulai menghapus foto-foto lama. Bukan langsung semuanya. Satu-satu. Pelan. Kadang berhenti lama sebelum benar-benar menekan tombol hapus.

Chat Rafi masih ada.

Tapi dia nggak pernah buka lagi.

Bukan karena nggak mau.

Tapi karena dia tahu, kalau dibuka, dia bisa mundur lagi.

Dan kali ini, dia nggak mau jadi orang yang datang terlambat dua kali.

Malam itu, dia berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya.

Wajahnya kelihatan sama.

Tapi rasanya beda.

"Aku nggak boleh bergantung lagi," gumamnya pelan.

Bukan janji besar.

Cuma keputusan kecil.

Besoknya, tanpa bilang siapa-siapa, Maya minta pindah divisi acara. Dari bagian yang sering satu tim dengan Rafi… ke bagian dekor.

Alasannya sederhana. "Pengen coba yang lain."

Dan semua orang menerima itu sebagai hal biasa.

Padahal itu bukan soal divisi.

Itu soal jarak.

Maya nggak meledak.

Nggak memohon.

Nggak mencari perhatian.

Dia memilih menghilang pelan-pelan dari pusat cerita yang dulu dia pikir miliknya.

Dan justru karena itu… rasanya lebih dewasa.

More Chapters