Ficool

Aku yang selalu ada

Wooziee
28
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 28 chs / week.
--
NOT RATINGS
115
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Chapter 1 – Meja Ujung Kantin

Jam istirahat selalu rame. Kursi diseret ke sana-sini, suara ketawa campur sama bunyi sendok kena piring, bau gorengan nyampur sama es teh manis.

Rafi duduk di meja paling ujung, deket tembok. Posisi yang sama hampir tiap hari.

Dari situ dia bisa lihat pintu masuk kantin.

Dan benar aja.

Maya muncul.

Langkahnya agak cepat, wajahnya cemberut, bibirnya manyun tipis. Tasnya disampirkan asal, kayak orang yang lagi kesel tapi nggak mau keliatan terlalu kesel.

Rafi udah hafal ekspresi itu.

Belum juga Maya duduk, dia udah buka suara.

"Berantem lagi?"

Maya langsung naruh tas di kursi sebelah, lalu duduk di depannya. "Aku capek deh."

Rafi geser gelas es teh ke arahnya. "Kenapa kali ini?"

Maya ngambil sedotannya, diputer-puter dulu sebelum jawab. Tanda klasik kalau dia lagi mikir tapi juga kesel.

"Farel tadi jalan sama cewek lain."

Oh.

Rafi nunduk sedikit, pura-pura fokus ke botol minumnya. Tangannya sibuk buka tutup botol, padahal dia cuma butuh sesuatu buat dikerjain biar dadanya nggak terasa aneh.

"Katanya sih cuma temen," lanjut Maya. "Tapi masa tiap hari bareng? Ke perpustakaan bareng, ke parkiran bareng. Aku ini apa sih?"

Kalimat terakhirnya lebih pelan.

Dan itu yang paling bikin Rafi nggak enak.

Dia pengin banget bilang, ya kamu itu harusnya diprioritasin, bukan dibikin mikir sendirian.

Tapi yang keluar cuma, "Udah kamu tanya aja baik-baik."

Maya langsung geleng. "Nanti dia mikir aku posesif. Aku nggak mau keliatan lebay."

Rafi ketawa kecil, walau sebenarnya nggak lucu. "Kalau dia peduli, dia nggak bakal mikir kamu lebay."

Maya terdiam. Tatapannya turun ke meja.

Suasana di sekitar mereka masih ribut, tapi entah kenapa meja itu terasa lebih sunyi.

"Aku tuh takut salah," bisik Maya. "Takut kalau ternyata aku doang yang ngerasa."

Rafi ngerasa kalimat itu kayak dilempar pelan ke dadanya.

Takut kalau ternyata aku doang yang ngerasa.

Lucu ya.

Dia juga lagi ngerasain hal yang sama.

Tapi bukan ke Farel.

Ke Maya.

Maya ngangkat wajahnya lagi. "Kamu enak ya."

Rafi mengernyit. "Enak apanya?"

"Kamu selalu ada. Nggak pernah bikin aku ngerasa sendirian."

Rafi cuma senyum tipis. Senyum yang udah dia latih bertahun-tahun.

Dia hafal banget Maya.

Hafal cara Maya mainin sedotan kalau lagi gugup.

Hafal nada suaranya kalau lagi mau nangis tapi ditahan.

Hafal semua kebiasaan kecilnya.

Dan setiap detail itu bukan bikin dia bahagia.

Kadang malah bikin sesak.

Bel masuk bunyi. Anak-anak mulai berdiri, kursi berderit lagi.

Maya buru-buru berdiri. "Nanti pulang bareng ya?"

Pertanyaan yang hampir selalu sama setiap hari.

"Iya," jawab Rafi, seperti biasa.

Maya senyum. Senyum yang bikin orang lain gampang jatuh hati.

Lalu dia pergi lebih dulu.

Rafi tetap duduk.

Es teh di depan Maya tinggal sedikit. Gelasnya sendiri masih hampir penuh. Es batunya mulai mencair pelan.

Dia ngelihat ke pintu kantin yang tadi dilewati Maya.

Dia selalu ada.

Waktu Maya pertama kali suka sama Farel.

Waktu Maya nangis karena chatnya nggak dibales.

Waktu Maya bingung harus gimana.

Dia selalu ada.

Tapi nggak pernah jadi orang yang dipilih.

Dan yang bikin paling sakit bukan karena Maya jahat. Maya nggak pernah jahat.

Yang bikin sakit itu karena Rafi sadar…

kalau suatu hari nanti Maya resmi jadian sama Farel,

dia tetap bakal berdiri di sampingnya.

Bantuin foto mereka.

Dengerin cerita bahagia mereka.

Dan bilang, "Aku ikut seneng."

Padahal mungkin, dia yang paling pengin jadi alasan senyum itu.

Dan yang lebih nyebelin lagi…

Maya nggak pernah sadar kalau orang yang paling setia duduk di meja ujung kantin itu,

adalah orang yang diam-diam berharap suatu hari,

dipilih.