Ficool

Chapter 222 - Sangkar Emas

Elara berhenti melangkah.

Mata gelapnya menatap lurus ke arah Kaivan.

"Hanya itu?" suaranya rendah, seolah menekan dirinya. Setelah hening sesaat, ia melanjutkan, "Mungkin... bagi seseorang seusiamu, berkeliaran seperti ini terasa seperti sebuah pelarian."

Kaivan menundukkan kepala, membiarkan kata-kata itu tenggelam jauh ke dalam pikirannya.

Mereka kembali berjalan menuju sebuah koridor yang dipenuhi cahaya putih pucat, batas antara kebebasan yang rapuh dan pengawasan mutlak. Para penjaga bersenjata berpatroli di sepanjang area itu, siluet mereka bagaikan baja hidup. Helm hitam menutupi wajah mereka, namun postur tubuh mereka menunjukkan kesiagaan yang tak pernah surut.

Langkah Kaivan melambat. Satu kesalahan saja, dan semuanya akan berakhir. Elara berjalan di depan, rambut hitam panjangnya bergoyang lembut. Tubuhnya yang ramping tampak anggun namun tegas. Ia terlihat seperti peneliti biasa, tetapi setiap langkah dan tatapannya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dari itu.

Saat mereka tiba di koridor menuju tempat tinggal para subjek penelitian, Elara berhenti lalu perlahan berbalik. Sekilas kegelisahan melintas di mata gelapnya.

"Aku akan bilang kalau aku menemukanmu tersesat," ujarnya dingin. "Tapi ini terakhir kalinya aku membantumu. Kalau kau mengulanginya lagi... mungkin kau tidak akan seberuntung ini."

Kaivan mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya memberikan tatapan penuh rasa terima kasih yang tertahan. Itu sudah cukup untuk menyampaikan semuanya.

Ia melangkah masuk ke kamarnya. Pintu tertutup rapat secara otomatis di belakangnya, menyisakan keheningan dan dengungan samar dari sistem ventilasi. Cahaya redup menyelimuti ruangan sederhana itu: sebuah ranjang yang tertata rapi, loker logam, serta meja kecil yang dipenuhi buku dan perangkat yang setengah dibongkar.

Kaivan duduk di tepi ranjang tanpa bergerak. Pikirannya melayang kepada teman-temannya, anak-anak lain yang terjebak di tempat ini sebagai subjek eksperimen. Mereka masih percaya bahwa tempat ini adalah sekolah bagi anak-anak berbakat. Padahal kenyataannya, tubuh dan pikiran mereka sedang perlahan diubah oleh tangan-tangan yang menyebut diri mereka peneliti.

Rasa bersalah dan kemarahan memenuhi dadanya, tetapi ia tahu bahwa amarah saja tidak akan menyelamatkan siapa pun. Ia harus tetap tenang. Segalanya membutuhkan rencana. Waktu untuk melarikan diri belum tiba.

Keesokan paginya, Kaivan terbangun dengan mata yang terasa berat. Bunker itu tetap dingin dan sunyi seperti biasa. Udara pengap yang terperangkap di dalam dinding beton membuat setiap tarikan napas terasa lebih padat. Ia bangkit perlahan dan meregangkan tubuh kurusnya yang kaku.

Ia melangkah keluar menuju koridor yang diterangi cahaya neon putih yang menyilaukan. Dinding-dinding beton membentuk labirin bawah tanah, sebuah tempat tanpa langit, seolah dunia di atas sana sudah tidak lagi ada.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu logam hitam yang dihiasi pola-pola samar. Tidak ada penanda apa pun, hanya panel digital yang diperkuat. Rasa penasaran berkilat di matanya. Ia hendak menyentuhnya ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Levan muncul. Rambutnya tertata rapi, dan ia mengenakan jas laboratorium putih panjang sambil membawa clipboard di tangannya. Wajahnya tenang, tetapi matanya setajam bilah pisau.

"Kaivan," panggilnya datar sambil berhenti beberapa meter darinya.

Kaivan menahan napas dan memaksakan senyum sopan.

"Ada sesuatu, Levan?"

"Kami membutuhkan Tome Omnicent untuk penelitian lebih lanjut," kata Levan tanpa basa-basi. Ia sempat melirik pintu hitam di belakang Kaivan sebelum kembali menatapnya. "Fenomena yang mengelilingimu masih belum sepenuhnya kami pahami. Kapasitas otakmu meningkat drastis sejak kau mulai menggunakan tome itu."

Kaivan berdiri lebih tegak.

"Baiklah," jawabnya hati-hati. "Tapi... kapan aku bisa memegangnya lagi?"

Levan memberikan senyum kecil yang menenangkan.

"Sebentar lagi. Kau boleh mengunjungi laboratorium kapan saja untuk melihat prosesnya. Kami terbuka dalam penelitian kami, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Ia mengisyaratkan ke arah kamera yang terpasang di sudut koridor.

"Seluruh bunker sekarang berada di bawah pengawasan ketat. Kamera-kamera itu terhubung dengan sistem AI terbaru kami."

Kaivan menundukkan pandangan, berpura-pura menerima penjelasan itu. Namun di dalam hatinya, ia mengetahui kebenarannya. Mereka tidak akan pernah mengembalikan tome itu tanpa alasan yang benar-benar kuat. Ia harus merebutnya kembali sendiri.

Dan menyelamatkan teman-temannya.

Suara elektronik yang lembut bergema dari pengeras suara di langit-langit.

"Halo, Kaivan. Aku adalah Logical Yielding & Relational Analysis, atau cukup panggil L.Y.R.A. Aku adalah sistem pengawas di sini... sekaligus asistenmu."

Suara itu terdengar hampir seperti manusia. Hangat, tetapi tetap menyisakan nuansa mekanis yang tidak bisa disembunyikan.

Kaivan menatap kamera itu. Matanya menyipit ketika perasaan tidak nyaman perlahan merambat di dalam dadanya.

"Sial," gumamnya pelan. "Mereka memasang pengawas digital."

Levan hanya memberikan senyum tipis tanpa berkomentar.

"Lyra akan memastikan semuanya berjalan lancar, termasuk untukmu," ujarnya tenang. "Sistem ini dibuat untuk melindungi, bukan untuk mencampuri."

Ia kemudian berbalik dan berjalan menjauh. Suara langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sebelum akhirnya menghilang.

Kaivan berdiri sendirian di jantung bunker yang dingin, menatap lampu merah kamera yang terus menyala. Udara terasa lebih berat dibanding sebelumnya.

Musim gugur datang tanpa suara, seperti helaan napas terakhir dunia yang telah melupakan hangatnya kebebasan. Jauh di dalam bunker bawah tanah yang tersembunyi di balik pegunungan, Kaivan menjalani hari-harinya dalam keheningan yang terasa lebih nyaring daripada kebisingan. Ia duduk di kamar sterilnya yang dikelilingi dinding beton abu-abu, menatap monitor kecil yang menampilkan pepohonan tanpa daun. Lembaran-lembaran daun melayang perlahan tertiup angin musim gugur.

Itu bukan pemandangan nyata, hanya rekaman dari kamera luar. Namun bagi dirinya, itulah satu-satunya jendela yang tersisa menuju dunia yang kini terasa jauh dan asing.

Tempat ini tidak sepenuhnya seperti penjara. Ia diberikan ranjang yang nyaman, makanan bergizi, bahkan buku-buku untuk dibaca. Namun di balik kenyamanan itu terdapat jeruji yang tak terlihat. Semuanya terasa terlalu sempurna, terlalu bersih. Seperti sangkar emas yang dirancang dengan cermat, menjadikan psikologi manusia sebagai subjek eksperimen yang sesungguhnya. Kebebasan yang dibungkus kemewahan.

More Chapters