Saat mendekati percabangan di dalam saluran ventilasi, suara langkah kaki bergema dari bawah.
Kaivan membeku.
Ia menempelkan tubuhnya ke logam, seluruh ototnya menegang. Langkah kaki itu terdengar ringan dan mantap. Langkah seorang pemburu. Ancaman. Bahaya.
Langkah itu berhenti tepat di bawahnya.
Ia menelan ludah lalu mengintip melalui celah ventilasi.
Tidak ada siapa pun.
Waktu terus berjalan.
Kaivan menarik napas dalam-dalam lalu melonggarkan penutup ventilasi. Dalam satu gerakan cepat dan nyaris tanpa suara, tubuhnya meluncur turun dan mendarat lembut di lantai logam. Seketika ia berlari menyusuri koridor yang berkelok, tubuhnya merendah dengan bahu condong ke depan. Seperti bayangan yang bergerak di antara cahaya-cahaya redup.
Pandangannya menyusuri dinding logam hingga berhenti pada sebuah pintu dengan tanda merah menyala. Ia mencoba masuk.
[AKSES TERBATAS]
Peringatan itu berkedip di layar, disusul suara langkah kaki yang mendekat dari arah lain.
Tanpa ragu, ia segera berbalik dan mencari jalan lain. Sebuah pintu terbuka dengan bunyi klik pelan, dan ia menyelinap masuk tepat sebelum alarm sempat berbunyi.
Udara di dalam ruangan itu terasa berbeda. Dingin dan steril, namun bercampur dengan aroma bunga yang samar. Cahaya putih pucat memantul di permukaan kaca dan baja. Ruangan itu terasa seperti ruang pribadi yang disediakan khusus untuk staf medis berpangkat tinggi.
Namun bukan interior ruangan itu yang membuat Kaivan berhenti.
Seorang wanita berdiri membelakanginya.
Rambut hitam panjangnya berkilau di bawah cahaya, jatuh lembut hingga punggung bagian bawah. Ia baru saja melepas jas laboratoriumnya dan hanya mengenakan pakaian dalam berwarna krem. Kulitnya yang pucat seperti porselen memantulkan cahaya hingga tampak seolah bercahaya dengan sendirinya.
Kaivan membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Wanita itu mulai berbalik.
Namun sebelum ia sempat berbicara, Kaivan bergerak.
Dalam satu gerakan cepat, ia sudah berada di belakang wanita itu dan menutup mulutnya dengan tangan kiri.
"Tunggu," bisiknya. Suaranya terdengar serak namun lembut, seperti doa yang dipenuhi kegelisahan. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kembali ke kamarku. Tolong... jangan berteriak."
Wanita itu terdiam.
Di cermin kecil di hadapannya, matanya bertemu dengan pantulan Kaivan. Tajam, ketakutan, namun dipenuhi keputusasaan yang jujur. Tatapannya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan pengamatan yang tenang. Menilai dirinya.
Beberapa detik kemudian, wanita itu perlahan mengangguk.
Kaivan melepaskan tangannya dengan hati-hati. Jantungnya berdetak begitu keras hingga bergema di telinganya. Dunia di sekitar mereka seakan tenggelam dalam keheningan, menyisakan suara napas keduanya yang saling bercampur di udara.
"Bagaimana kau bisa berada di sini... Kaivan, benar begitu?" tanya wanita itu.
Suaranya lembut, namun dingin.
Manis seperti madu yang menyimpan racun.
"I-Iya... aku Kaivan," jawabnya cepat. Tatapannya jujur, namun dipenuhi rasa bersalah. "Aku... tersesat dan masuk ke sini tanpa sengaja. Seharusnya aku tidak berada di tempat ini."
Wanita itu berbalik menghadapnya. Matanya tajam, sementara ekspresinya tetap tenang dan anggun. Ia mengenakan kembali jas laboratoriumnya. Setiap gerakannya terlihat presisi dan tanpa tergesa-gesa, kain putih itu jatuh rapi mengikuti tubuhnya yang ramping.
"Namaku Elara," katanya datar sambil mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Ikuti aku. Dan jangan membuat suara."
Kaivan mengangguk.
Mereka melangkah keluar menuju koridor. Udara di sana terasa lebih dingin dan keheningannya lebih dalam. Langkah kaki Elara ringan dan tepat, seperti seorang penari yang mengenal setiap jengkal panggungnya. Kaivan merasa seolah sedang mengikuti sebuah bayangan. Bayangan yang mengetahui jalan pulang di dunia yang telah tenggelam dalam kegelapan.
Saat mereka berjalan, Elara berbicara pelan. Nada suaranya tenang, tetapi menyimpan ketajaman yang sulit disembunyikan.
"Mengapa kau berada di sini?"
Kaivan menelan ludah.
Ia tahu kebohongan apa pun akan langsung terbaca.
"Aku... tidak bisa tidur. Aku penasaran, jadi aku berkeliling mencari tahu."
