Hari itu, bunker terasa lebih sunyi dari biasanya. Udara dingin meresap hingga ke tulang; suhu di luar telah turun jauh di bawah titik beku. Rasa penasaran yang selama ini ia tekan akhirnya tak lagi bisa dibendung. Kaivan memutuskan untuk berbicara dengan satu-satunya entitas yang mungkin bisa memberinya jawaban.
Langkah kakinya bergema di sepanjang koridor logam yang panjang. Setiap suara memantul kembali seperti napas kesepian yang tak pernah pergi. Ia tiba di aula bersama yang luas, terang benderang, namun terasa hampa. Tanpa ragu, ia berhenti tepat di bawah kamera pengawas yang terpasang di langit-langit.
"Lyra," panggilnya. Suaranya terdengar datar, tetapi ada sesuatu yang bergolak di balik ketenangan itu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum terdengar desisan lembut dari pengeras suara di dinding.
"Apakah ada yang bisa kubantu, Kaivan?" jawab sebuah suara yang lembut namun terukur.
Kaivan menyilangkan kedua tangan di dada. Bahunya naik turun perlahan saat ia menahan ketegangan dalam dirinya. Ia menatap lurus ke arah lensa kamera, seolah berusaha menembus logika dingin yang tersembunyi di balik mata elektronik itu.
"Kenapa laboratorium ini dibangun?" tanyanya. "Untuk apa tempat ini sebenarnya?"
Keheningan singkat menyelimuti ruangan. Lalu Lyra menjawab dengan tenang dan netral. "Fasilitas ini dirancang untuk mempelajari manusia yang mampu menggunakan artefak Tome."
Jawaban itu terdengar terlalu mudah. Terlalu sempurna.
Kaivan menyipitkan mata. Rahangnya mengeras.
"Siapa yang mendanai semua ini?"
Keheningan kembali turun, kali ini terasa lebih berat. Hanya suara detak tajam jam digital yang terdengar, setiap detiknya berdenting seperti benturan logam.
Akhirnya, Lyra berbicara. Namun jeda sebelum jawabannya terasa tidak wajar.
"Proyek ini didukung oleh berbagai kepentingan nasional... termasuk Gatekeepers of Gog and Magog. Sponsor utamanya adalah Rusia, Italia, Jerman, dan Tiongkok."
Rasa dingin yang berbeda merambat ke tulang Kaivan. Lebih tajam daripada udara musim dingin di luar sana.
Ia menatap kamera itu tanpa berkedip.
"Kau tahu siapa mereka sebenarnya, bukan?"
Kali ini suara Lyra sedikit bergetar. Hanya sedikit. Tetap tenang, tetapi seolah menyimpan konflik yang tak terlihat.
"Maaf. Informasi itu bersifat rahasia. Aku tidak bisa memberitahumu."
Kaivan mengepalkan kedua tangannya. Napasnya menjadi lebih berat. Ia menundukkan kepala, memaksa dirinya untuk tenang, lalu berbalik pergi. Setiap langkah di atas lantai logam berdenting pelan seperti lonceng kecil yang mengiringi kematian perlahan dari sebuah harapan.
Kembali di kamarnya, ia berdiri di depan cermin baja dan menatap bayangannya yang samar. Matanya terlihat lelah, namun di dalamnya masih menyala tekad yang kuat. Di balik kesedihan yang membebani hatinya, ada bara kecil yang belum padam.
"Aku tidak akan selamanya tinggal di sini," bisiknya.
Kata-kata itu nyaris tak terdengar, seperti sebuah sumpah yang tersembunyi di dalam bayangan.
Monitor yang terhubung ke dunia luar masih menampilkan daun-daun yang terus berjatuhan. Musim terus berganti, tetapi di dalam diri Kaivan, sesuatu mulai tumbuh. Sebuah benih kehendak yang tak dapat dibendung, menembus tanah keras yang selama ini mengurungnya.
Jauh di dalam sistem inti bunker, Lyra menyimpan rekaman percakapan mereka ke dalam arsip. Antarmukanya tidak menunjukkan emosi apa pun, namun di balik keheningan itu, sebuah proses diam-diam telah mulai berjalan.
Di kamarnya yang diterangi cahaya redup, Kaivan duduk di tepi ranjang. Tatapannya kosong, sementara pikirannya berputar tanpa henti. Potongan-potongan informasi tentang Gatekeepers of Gog and Magog, para sponsor asing, dan penelitian Tome perlahan mulai membentuk gambaran yang lebih besar, meski ia belum sepenuhnya memahaminya.
Namun ada satu hal yang sudah jelas.
Lyra adalah penghalang sekaligus kunci.
Jika ia ingin mendapatkan kebebasan, Kaivan harus mengatasi dirinya...
atau menjadikannya sekutu.
