Menyadari reaksi Kaivan, Isabel mendekat sedikit. "Kali ini apa yang tertulis?" tanyanya pelan.
Kaivan mengembuskan napas panjang, rasa kesal terdengar jelas dalam suaranya. "Kenapa aku harus membantu Tania? Setelah semua yang dia lakukan, aku bahkan tidak ingin melihatnya lagi."
Isabel terdiam sejenak. "Mungkin ini sesuatu yang penting. Tome itu biasanya tidak pernah salah."
Kaivan menutup bukunya dengan keras. "Aku ingin hari ini berjalan tenang. Cuma beli koper."
Isabel tertawa kecil. "Kamu mengabaikan perintahnya karena sedang mencoba berkencan denganku, ya?" godanya.
Kaivan melirik datar ke arahnya, meski senyum samar muncul di sudut bibirnya. "Aku sudah tidak percaya cinta lagi, Isabel. Itu cuma ilusi yang akhirnya menyakiti orang. Aku cuma... tidak ingin kamu merasa sedih hari ini."
Sementara itu, di tempat lain, Tania duduk sendirian di ruang tamunya, tenggelam semakin dalam dalam pikirannya sendiri. Kenangan tentang Kaivan melintas di kepalanya seperti pecahan kaca, masing-masing meninggalkan rasa perih.
Bel pintu berbunyi.
Dengan napas gugup, ia membuka pintu. Vella dan Rapi berdiri di luar.
"Ayo kita menemui Kaivan," ucap Vella dengan senyum misterius yang justru membuat Tania semakin bingung.
Sinar matahari sore menyelimuti jalanan dengan cahaya jingga yang hangat. Setelah memilih koper, Kaivan dan Isabel berhenti di sebuah kedai minuman dekat sana. Isabel memesan milkshake stroberi, sementara Kaivan menikmati kopi es di bawah rindangnya pohon besar. Angin lembut berembus membawa aroma tanah dan senja.
Tome Omnicent kembali bergetar.
Kaivan membuka tasnya tepat saat halaman-halaman buku itu terbuka sendiri:
"Kumohon Kembalilah ke rumah. Tania sedang menuju tempatmu."
Ekspresinya langsung mengeras.
Isabel mencondongkan tubuhnya. "Apa yang dikatakannya kali ini?" tanyanya lembut.
Kaivan menutup buku itu dengan gerakan tajam. "dia memohon kepadaku, Kenapa aku harus menemuinya? Setelah semuanya, aku bahkan tidak ingin mendengar namanya lagi."
Isabel menatapnya dengan kehangatan tenang. "Pasti ada alasannya. Tome itu belum pernah salah, kan? Apa lagi dia sampai memohon"
"Aku ingin menikmati hari ini," ucap Kaivan dingin. "Bukan terseret kembali ke masa lalu."
Isabel tertawa kecil. "Kamu lucu juga. Jadi kamu mengabaikannya demi aku?"
Kaivan mendecakkan lidah sambil menatap matahari senja yang perlahan menghilang. "Kalau begitu aku tidak akan pulang dulu. Biar saja dia menunggu."
Isabel terkikik kecil sambil menggelengkan kepala. "Cewek zaman sekarang memang berani sekali mendatangi rumah laki - laki. Tidak seperti dulu."
Kaivan terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara pelan. "Tunggu... Februari 2010. Aku baru ingat, aku pernah membuat janji dengan seseorang." Matanya menatap langit yang mulai gelap. "Aku harus menemui nenek yang memberiku Tome Omnicent. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya."
Isabel sedikit mengernyit. "Kita pergi ke sana sekarang?"
Kaivan menyalakan motornya. "Iya. Ke tempat di mana semuanya dimulai."
Tanpa ragu, Isabel naik ke motor lalu memeluknya dari belakang. Mesin motor meraung, dan mereka melaju menembus jalanan kota yang ramai menuju kawasan elit, tempat rumah-rumah mewah berdiri di balik taman yang tertata rapi dan udara sore terasa anehnya begitu tenang.
Mata Isabel membelalak saat mereka tiba di depan mansion besar yang ditunjuk Kaivan, sebuah rumah bergaya klasik dengan gerbang besi tinggi menjulang. "Kamu yakin ini benar-benar rumahnya?" tanyanya, terpukau oleh kemegahan tempat itu.
Kaivan mengangguk tegas. "Aku tidak akan pernah lupa tempat ini. Nenek yang memberiku Tome Omnicent tinggal di sini. Aku ingin tahu kenapa buku ini terus memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan." Tatapannya mengeras saat menatap gerbang yang tertutup.
Ia mengeluarkan remote kecil dari jaketnya lalu menekan kombinasi tombol tertentu. Saat gerbang perlahan terbuka, bel pintu berbunyi.
Di saat yang sama, di tempat yang benar-benar berbeda, bel pintu rumah Kaivan juga berbunyi.
Tania berdiri di depan pintu rumah itu dengan ekspresi penuh kecemasan. Ia melirik gugup ke arah Vella di sampingnya. "A-apa kamu yakin kita harus menemui Kaivan sekarang?" Suaranya nyaris hanya berupa bisikan, bergetar oleh rasa takut dan penyesalan.
Vella memberikan senyum samar yang sulit ditebak. "Iya. Kalau kamu ingin memperbaiki semua kesalahpahaman itu, kamu harus menghadapinya sekarang."
