Ficool

Chapter 181 - Hari Itu Hampir Tetap Normal

Teh Kira mengusap pipinya yang basah. "Kalian semua luar biasa," ucapnya dengan suara bergetar. "Aku tidak pernah membayangkan adikku dan teman-temannya bisa melakukan sesuatu sebesar ini."

Ruangan itu dipenuhi kehangatan dan kedekatan. Semua saling melempar senyum lembut, menikmati kebahagiaan sederhana dari momen itu. Kaivan merasakan kelegaan mendalam memenuhi hatinya, seperti beban berat yang perlahan mencair.

Setelah tawa dan cerita mulai mereda, teman-teman Kaivan pun pergi satu per satu. Berdiri di dekat pintu, Frans merapikan jaketnya lalu melirik Thivi. "Ayo, aku antar pulang. Sudah siang."

Thivi mengangguk pelan, ekspresinya sedikit murung. "Oke," jawabnya sambil tersenyum tipis. Ia tahu aktivitas kecil mereka harus berhenti untuk sementara.

Melihat itu, Kaivan menepuk pundaknya lembut. "Hei, kamu boleh datang kapan saja, Thivi. Setelah aku pulang dari Norwegia, kita bersenang-senang lagi bareng."

Senyum Thivi sedikit lebih cerah. "Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Ia mendekati ibu Kaivan lalu mencium punggung tangannya dengan hormat. "Terima kasih, Tante, sudah mengizinkan kami membantu hari ini."

Ibu Kaivan mengusap kepalanya penuh kasih. "Terima kasih juga, Nak."

Yang lain pun ikut berpamitan, masing-masing mengucapkan salam perpisahan dengan sopan. Ruang tamu itu dipenuhi rasa syukur dan kehangatan yang lembut.

Dari jendela, Frans dan Thivi melambaikan tangan sebelum pergi dengan mobil mereka, sementara Kaivan, ibunya, dan Teh Kira berdiri di depan pintu sambil tersenyum melihat mereka menjauh.

Kini hanya Kaivan dan Isabel yang tersisa di rumah yang perlahan kembali sunyi. Angin sore masuk perlahan, membuat rambut Isabel yang tergerai bergerak lembut. Kaivan menatapnya lalu berbicara pelan, "Ayo kita pergi sekarang. Masih banyak tempat yang ingin kita datangi hari ini, kan?"

Isabel tersenyum kecil. "Bukan sekarang, Kaivan. Aku mau pulang dulu buat ganti baju. Aku tidak mau jalan-jalan dengan pakaian kusut begini," katanya sambil tertawa ringan, membuat suasana senja yang tenang terasa semakin lembut.

Matahari siang yang terang menyinari kota, cahayanya memantul di jalanan yang ramai. Kaivan dan Isabel mengendarai motor sport hitam menuju rumah Isabel, angin menerpa helaian rambut Isabel yang keluar dari balik helmnya. Kaivan tetap diam, pikirannya dipenuhi perjalanan ke Norwegia bersama keluarganya.

Saat tiba di rumah Isabel, sebuah rumah modern dengan taman yang tertata rapi, Kaivan memarkir motornya. Isabel turun lalu melepas helmnya, membuat rambut hitamnya jatuh indah di sekitar bahunya.

"Tunggu sebentar di sini, aku cuma mau ganti baju," ucapnya sebelum masuk ke dalam rumah.

Kaivan mengangguk lalu duduk di ruang tamu.

Tak lama kemudian, seorang gadis kecil berlari mendekatinya. Adik perempuan Isabel menatap Kaivan dengan mata penuh rasa penasaran.

"Kakak pacarnya Kak Bela, ya?" tanyanya polos.

Sebelum Kaivan sempat menjawab, Isabel kembali muncul dengan kaus putih dan jaket denim.

"Hei, tentu saja bukan! Dia cuma temanku," katanya sambil tersenyum.

Adik kecilnya memiringkan kepala kebingungan. "Tapi bukannya Kakak baru putus?"

Isabel mengusap rambut gadis kecil itu lembut. "Aku pergi sebentar, ya? Tolong jaga rumah. Bilang ke mama aku aku keluar."

Ibu mereka muncul dari dapur sambil memberikan senyum hangat. "Jadi kamu Kaivan. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik untuk bela."

"Ah... tidak apa-apa, Bu," jawab Kaivan sopan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Isabel langsung menarik pergelangan tangannya. "Ayo, kita pergi."

Selama perjalanan, dengungan mesin motor menjadi irama percakapan ringan mereka.

"Jadi keluargamu memanggilmu Bela?" tanya Kaivan.

Isabel menoleh sedikit sambil tersenyum kecil. "Iya. Nama asliku Isabela. Mereka memanggilku begitu sejak kecil." Suaranya membawa nostalgia yang lembut.

Kaivan meliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. Dalam hembusan angin yang tenang itu, ia sadar... hatinya sudah lama berhenti mempercayai cinta.

Mereka tiba di sebuah toko koper besar. Pajangan terang memperlihatkan koper dalam berbagai warna. Kaivan memilih koper hitam yang terlihat kokoh. Namun tiba-tiba, tas kecil di punggungnya bergetar.

Ia membukanya dan melihat Tome Omnicent memancarkan cahaya samar, sementara kata-kata perlahan muncul di atas halamannya:

"Pergi ke rumah Tania. Sekarang juga."

Kaivan mengernyit. "Kenapa aku harus pergi ke sana?" gumamnya pelan.

More Chapters