Di sana, sebuah koper tertutup sudah menunggu.
Vella tidak bergerak sedikit pun. Sebaliknya, batu-batu di dekat kakinya melayang perlahan, membawa koper itu ke hadapannya seperti pelayan yang tunduk pada sang ratu.
Ia melirik koper itu sekilas, lalu kembali menatap Rapi. Mata itu kini terasa cukup dingin untuk membekukan udara.
"Jadi menurutmu semua ini salah Kaivan?"
Rapi menelan ludah dengan susah payah.
Ia mengangguk pelan, penuh ketakutan.
Senyum tipis kembali muncul di wajah Vella, meski dinginnya tak pernah menghilang. "Jadi… ini salahku juga, begitu? Karena aku melepas borgol Kaivan?"
Rapi langsung menggeleng cepat. Wajahnya kehilangan warna, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tak berani menyalahkan Vella. Tidak ada kata-kata yang bisa menyelamatkannya di hadapan wanita itu.
Vella terkekeh kecil, tampak terhibur sesaat.
Namun hiburan itu lenyap secepat datangnya, digantikan tekanan tajam yang mencekik ruangan.
"Kau bilang ini bukan salahku?"
Tiba-tiba rantai yang membelit tubuh Rapi menegang lalu mengangkatnya ke udara. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya membeku dalam ketakutan.
"KAU BILANG SEMUA INI SALAH KAIVAN. BERARTI INI JUGA SALAHKU, BUKAN?! KAU MENYALAHKANKU KARENA AKU MELEPASKAN KAIVAN"
Suara Vella membelah ruangan, menggema sampai ke tulang setiap orang yang mendengarnya. Seluruh ballroom langsung sunyi.
Rapi hanya bisa menggeleng tanpa mampu bicara. Matanya terpejam rapat, tenggelam dalam teror.
Perlahan, Vella menurunkannya kembali ke lantai. Ekspresinya kembali tenang, namun kesunyian yang dibawanya terasa jauh lebih menyakitkan.
"Oh… jadi ini salahmu?" bisiknya lirih dengan nada penuh ironi.
Rapi langsung mengangguk putus asa, takut memancing kemarahannya lagi.
Vella menyeringai tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu ballroom.
Kepanikan langsung menyebar di antara kerumunan. Beberapa orang mencoba melarikan diri.
Dengan satu gerakan jarinya, batu-batu besar menghantam kaki mereka tanpa belas kasihan.
Jeritan pecah di seluruh ruangan. Tangis dan rintihan bercampur bersama aroma darah yang menusuk.
Beberapa bawahannya melangkah maju dengan tubuh gemetar. Wajah mereka dipenuhi permohonan.
Beberapa anak buah Vella yang tersisa, yang tubuhnya telah gemetar sejak awal, mendekat dengan langkah goyah, wajah mereka dipenuhi ketakutan dan harapan kecil untuk mendapat belas kasihan dari wanita yang mereka sebut sebagai Nona. Salah satu dari mereka berbisik pelan dengan suara terisak, "Tolong kami, Nona..."
Vella, tanpa ekspresi, menatap mereka. Dia melihat ke arah mereka seperti menatap sesuatu yang tak lagi berarti, kemudian memiringkan kepalanya dengan senyum sinis. "Maaf, kalian jangan bicara yang aneh-aneh," katanya pelan, penuh ironi yang membuat mereka bergidik ngeri.
Di udara, ratusan liter bensin melayang, tersebar di seluruh ruangan, menetes perlahan dan meresap ke dalam lantai serta dinding. Setiap sudut ruangan dibasahi oleh cairan beracun itu. Vella berjalan santai menuju pintu keluar, sambil melihat mereka semua dengan pandangan acuh, tak sedikit pun menyiratkan rasa kasihan.
Vella berjalan menuju pintu keluar sambil mengeluarkan sebuah lampu kecil dari sakunya. Api mungil, namun mematikan di tangannya.
Tanpa ragu, ia melemparkannya.
Api langsung menyapu lantai dalam sekejap sebelum meledak menjadi kobaran besar yang mengamuk. Nyala api melahap dinding, menelan tubuh-tubuh yang terjebak tanpa jalan keluar. Jeritan tenggelam di bawah gemuruh udara yang terbakar.
Ledakan kedua menyusul saat api mencapai dapur dan generator.
Retakan, ledakan, kehancuran, semuanya menyatu menjadi raungan kiamat yang memekakkan.
Di luar gedung, Darius baru saja tiba. Ia hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal.
Namun yang menyambutnya hanyalah menara api merah yang menjulang tinggi, dengan asap hitam membubung ke langit.
Ia membeku.
Napasnya tertahan di dada.
Tatapannya kosong. Tubuhnya kaku, terpaku di tempat saat ballroom itu perlahan runtuh, ditelan api tanpa belas kasihan. Langit malam di atasnya memerah seolah ikut terbakar bersama bangunan itu.
Di dalam dadanya tumbuh kesunyian hampa. Bukan hanya kesedihan, melainkan kehilangan yang terlalu dalam untuk diberi nama.
Ia menekan rem mobilnya.
Dan ia hanya bisa menatap… saat tempat di mana teman-temannya berada beberapa saat lalu menghilang dalam lautan api yang ditinggalkan Vella.
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju cepat di jalanan sunyi, Vella duduk di kursi belakang.
Ia memandangi cahaya kota dari balik jendela, wajahnya tenang namun sekeras batu.
Ia menarik napas panjang lalu bergumam pelan, "Kaivan, ya… Anak itu merepotkan. Mungkin aku harus berbicara dengan orang tuanya."
Nada suaranya datar, tetapi dingin yang tersembunyi di baliknya cukup tajam untuk melukai.
Rapi yang mengemudi tetap diam. Jari-jarinya gemetar di setir, terlalu takut bahkan untuk melirik kaca spion.
Ia tahu.
Satu kata yang salah bisa menjadi akhir hidupnya.
Di sisi lain kota, Kaivan dan teman-temannya, Zinnia, Radit, Felicia, Frans, Raphael, Ethan, Thivi, dan Isabel, berdiri di depan sebuah rumah luas yang terasa hangat.
Mereka baru saja mengantar Livia pulang.
Orang tua Livia menyambut mereka di teras rumah dengan wajah yang akhirnya dipenuhi kelegaan.
Livia memeluk mereka satu per satu, matanya bengkak dan enggan melepaskan.
Kaivan melangkah mendekat lalu berbicara pelan pada ayah Livia.
"Pak… menurut saya, untuk sementara Bapak dan keluarga sebaiknya meninggalkan kota ini dulu."
Ayah Livia menatapnya diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Tatapan matanya menyimpan pemahaman tanpa perlu kata-kata.
"Ya. Kami akan pergi," jawabnya.
Lalu ia meletakkan tangan yang hangat dan mantap di bahu Kaivan.
