Ficool

Chapter 171 - Di Balik Pintu yang Tersegel

Kaivan menggeleng pelan, suaranya tenang namun menyimpan senyum tipis. "Sudah cukup. Ayo pulang. Frans dan Thivi sedang menunggu."

Mereka berjalan keluar dari hotel bersama-sama. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi tempat itu perlahan menghilang, digantikan rasa lega yang sunyi. Satu per satu, mereka mengangkat pandangan ke langit malam, seolah mengucapkan syukur dalam diam.

Namun tidak semuanya berjalan semulus itu.

Darius, yang masih tenggelam dalam rasa bersalah, berjalan menuju mobilnya. Tatapannya kosong, pikirannya masih tertinggal di balik pintu hotel bersama Felicia. Ia sudah berkendara beberapa kilometer sebelum tiba-tiba tersentak sadar.

"Sial... ponselku!"

Dengan helaan napas panjang, ia memutar balik mobilnya. Cahaya hotel yang mulai meredup menyambutnya kembali, menariknya sekali lagi ke dalam kisah yang belum selesai dengannya.

Sepuluh Menit Sebelumnya

Pintu ballroom tersegel rapat, menciptakan penghalang tak terlihat yang menahan harapan. Di dalam, kerumunan orang berdiri berhimpitan, wajah mereka pucat, napas tak beraturan. Ketegangan melekat di udara, tebal, dingin, menyesakkan.

Di tengah kekacauan itu berdirilah Vella.

Tenang, elegan, tak tersentuh, seperti menara batu tunggal yang berdiri melawan badai. Senyum samar terukir di bibirnya saat tatapannya menyapu para tamu yang ketakutan satu per satu, seolah sedang menikmati sandiwara yang ia tulis sendiri.

"Sepertinya kalian semua masih bertahan dengan cukup baik," gumamnya lembut, suaranya menggema di tengah kesunyian yang menekan.

Seorang wanita paruh baya memberanikan diri dan menunjuk Vella dengan tangan gemetar. "D-Dia! Dia membunuh seseorang... tanpa menyentuhnya, menggunakan kaca!"

Vella perlahan mengalihkan pandangannya. Matanya setajam bilah es. Wanita itu langsung menunduk, keberaniannya lenyap seketika. Di dekat sana, beberapa anak buah Vella tergeletak di lantai, tubuh mereka seperti boneka rusak yang dibuang begitu saja.

Vella melangkah mendekat lalu berjongkok santai di hadapan mereka sambil menutupi mulutnya, menahan tawa kecil. "Oh astaga... bagaimana ini bisa terjadi?" bisiknya, nadanya terdengar hampir main-main, dan justru itulah yang membuatnya terasa mengerikan.

Seseorang dari kerumunan kembali memberanikan diri bicara. Suaranya gemetar, namun ia mencoba terdengar tegas. "Aku akan melaporkanmu ke polisi!"

Keberaniannya tidak bertahan lama.

Sebuah pecahan logam melesat di udara dan menembus tengkoraknya dalam sekejap. Tubuhnya roboh, nyawanya direnggut tanpa belas kasihan.

"Maaf," ucap Vella lembut. "Kau seharusnya menunjukkan sedikit rasa hormat pada seseorang yang sedang terluka."

Jeritan langsung pecah. Kepanikan menyebar ke seluruh ruangan. Orang-orang memukul pintu, mengangkat ponsel mereka, tetapi tidak ada sinyal. Tidak ada dunia luar. Hanya teror yang terkurung bersama senyum seorang wanita berbahaya.

Dengan gerakan lambat dan anggun, Vella mengangkat tangannya.

Lantainya bergetar.

Batu-batu besar muncul entah dari mana lalu menutup seluruh jalan keluar. Batu itu membentuk dinding tinggi yang dingin dan tak tergoyahkan, seperti janji terakhir bahwa tak seorang pun akan lolos.

Keputusasaan meledak. Panggilan yang gagal, tangisan putus asa, dan langkah kaki panik bercampur menjadi satu simfoni mengerikan yang memantul di dalam penjara batu tempat mereka terjebak.

Vella berjalan menuju tengah ballroom. Langkahnya santai dan penuh keyakinan. Udara di sekitarnya terasa dingin, namun menyesakkan.

Tatapannya akhirnya jatuh pada Rapi yang terikat di dinding, gemetar dengan kulit sepucat cahaya bulan.

Vella berhenti tepat di depannya, memandangnya seperti seseorang menatap vas porselen retak, indah, rapuh, dan tinggal menunggu hancur.

Senyum tipis dan pahit muncul di bibirnya.

"Oh sayang... bagaimana kau bisa berakhir seperti ini?" tanya Vella. Nadanya terdengar seperti godaan ringan, tetapi matanya setajam seorang ibu yang sedang menegur.

Rapi mencoba bicara, tetapi yang keluar hanya napas gemetar. "K-Kaivan... dan dua temannya... mereka membantu..."

Vella sedikit mengangkat alis. Ia memandangi Rapi cukup lama dalam diam, lalu berbicara dengan suara lembut yang sedingin es.

"Jadi... sekarang kontraknya ada di mana?"

Tangan Rapi yang gemetar perlahan terangkat, menunjuk lemah ke arah panggung.

More Chapters