Namun sebelum Kaivan berbalik pergi, pria itu menghentikannya.
"Kalau kau punya waktu… aku ingin bicara berdua denganmu. Ada sesuatu yang penting."
Kaivan mengangguk tenang meski tubuhnya dipenuhi kelelahan. Selalu ada beban yang lebih besar menunggunya.
Setelah mengucapkan perpisahan pada keluarga Livia, kelompok itu perlahan berpencar. Masing-masing membawa senyum samar, tetapi juga perasaan gelisah yang belum selesai.
Karena malam itu…
masih jauh dari kata berakhir.
Saat Kaivan akhirnya pulang ke rumah, ia membuka pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Namun ibunya sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah yang dipenuhi campuran lega dan khawatir.
"Kaivan, kau pulang larut sekali," katanya lembut, meski nada menegur di suaranya tak bisa disembunyikan. "Kau dari mana?"
Kaivan memberikan senyum tipis, menyembunyikan berat malam itu di balik ekspresinya. Ia tahu dirinya tak mungkin menceritakan semuanya. Terlalu banyak hal yang tak akan bisa dipahami ibunya.
"Tadi ada pesta, Bu. Semua orang datang," jawabnya pelan sambil menundukkan pandangan untuk menghindari tatapan ibunya.
Ibunya mengangguk perlahan. Senyumnya hangat, tetapi matanya menyimpan kekhawatiran mendalam yang sulit ia sembunyikan. Ia tahu putranya sedang melangkah ke dunia yang terlalu berat untuk seseorang seusianya.
Kaivan menarik napas panjang lalu menatap ibunya sejenak.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun di dalam keheningan itu, kehangatan rumah menyelimuti mereka seperti selimut lembut.
Dunia mungkin tak akan pernah benar-benar aman.
Tetapi malam ini, setidaknya, ia bisa membiarkan hatinya beristirahat.
Walau hanya sebentar.
Pagi itu, Kaivan berjalan tenang melewati gerbang sekolah. Para murid berlalu-lalang di sekitarnya, tawa dan sapaan memenuhi koridor, tetapi semuanya terasa jauh.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Namun hatinya masih kosong.
Tangannya masuk ke dalam tas, menyentuh Tome Omnicent yang terbaring diam di sana.
Diam, namun selalu mengawasi.
Saat ia membuka halaman pertamanya, sebuah kalimat muncul seolah sedang ditulis saat itu juga.
"Bicara dengan Tania dan buat dia bahagia."
Kaivan mengernyit.
"Kenapa aku harus baik padanya? Aneh sekali," gumamnya sebelum menutup buku itu kembali.
Tania tak lebih dari bayangan masa lalu yang tak ingin ia sentuh lagi.
Sementara itu, di sisi lain sekolah, Tania duduk diam di mejanya.
Sejak kemarin, Kaivan terus memenuhi pikirannya.
Terlalu banyak hal yang kini tak lagi sesuai dengan gambaran yang selama ini ia miliki tentang dirinya.
Akhirnya ia berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Aku harus meminta maaf… mungkin."
Bisikannya ternyata terdengar.
Rina langsung menoleh dengan tatapan tajam penuh ejekan. "Serius? Kau mau minta maaf pada pecundang itu?"
Dandi ikut menimpali sambil mendecakkan lidah. "Buat apa? Kita sama dia sudah beda level."
Tania menarik napas perlahan. Suaranya lembut, tetapi penuh keyakinan.
"Kalian berdua yang pecundang. Kalian bahkan tidak tahu siapa Kaivan sebenarnya."
Ucapan itu menggantung di udara dan membuat kedua temannya terdiam kaget.
Saat bel berbunyi, Tania berdiri lalu berjalan keluar kelas.
Ia menunggu di depan ruang kelas Kaivan dengan jantung berdegup keras, seolah tekadnya hampir runtuh kapan saja.
Kaivan keluar dengan ekspresi kosong, seperti seseorang yang jiwanya sudah terkuras habis.
Tania langsung menyapanya, suaranya gemetar namun tetap tegas.
"Kaivan… aku ingin bicara."
Kaivan meliriknya sekilas lalu berbisik pelan, "Katanya aku harus bersikap baik padanya, ya?"
Namun perintah itu terasa hambar dibanding amarah yang mendidih di dalam dirinya.
"Tidak perlu. Untuk apa aku bicara dengan sampah sepertimu?"
Tania langsung membeku.
Lalu suaranya pecah memenuhi koridor.
"Sebegitu buruknya aku di matamu?! Sampai kau bahkan tidak pernah… mencoba melihat diriku?!"
Koridor langsung sunyi.
Para murid menoleh ke arah mereka.
Wajah Tania memerah, bukan karena malu, melainkan karena rasa sakit yang menyesakkan.
Meski begitu, ia tetap berdiri di tempatnya, menggenggam keberaniannya dengan jemari yang gemetar.
Kaivan menghentikan langkahnya.
Ia perlahan berbalik.
Tatapan dinginnya menembus Tania seperti pisau tajam, begitu menusuk hingga terasa seolah bisa membakarnya hidup-hidup.
"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya, kan?" Suaranya terdengar keras dan tanpa ampun. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku? Bagaimana kau memutarbalikkan setiap kebaikan yang kuberikan lalu menghancurkan kepercayaanku seolah semua itu tidak berarti? Tujuanmu sudah jelas. Kau hanya ingin memanfaatkanku lagi, bukan?"
Ia melangkah maju.
Lalu satu langkah lagi.
Setiap langkah terasa berat, seperti raksasa yang menginjak mayat harapan yang telah lama ia kubur.
"Selama ini aku selalu ada untukmu. Aku memberikan segalanya tanpa pernah meminta balasan." Suaranya pecah dipenuhi kepahitan. "Dan apa yang kau lakukan? Kau mengolok-olokku. Memperlakukan aku seperti mainan bodoh yang bisa kau kendalikan sesuka hati. Aku sudah muak. Aku muak dengan semua ini, dan juga dengan wajahmu. Aku tahu persis apa yang kau inginkan. Kau cuma peduli pada apa yang bisa kau ambil dariku. Setelah itu, aku hanya benda yang kau buang begitu saja. Apa aku bukan manusia bagimu, Tania? Apa aku cuma objek untuk kau mainkan?"
Amarah Kaivan semakin meluap.
Suaranya terasa makin tajam di setiap kata, seperti bilah yang merobek luka lama.
"Kau menertawakanku di belakangku. Kau menghancurkan hatiku seolah itu bukan apa-apa. Kau menginjak harga diriku dan menghancurkan semua hal yang pernah kupercaya. Dan aku membiarkannya terjadi. Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh karena mempercayaimu."
Ia melangkah semakin dekat.
Suaranya bergetar, nyaris pecah. Bukan karena sedih, tetapi karena kebencian yang tak lagi mampu ia tahan.
"Dan aku ingat, Tania. Aku ingat bagaimana kau menuduhku melecehkanmu di kantor polisi. Kau tahu itu bisa menghancurkan seluruh hidupku, kan? Kau tahu itu bisa merusak semua yang kumiliki. Semua itu hanya karena satu kebohongan kotor yang kau buat. Kau mendorongku jatuh ke jurang, membuatku merasakan rasa sakit yang bahkan tak bisa kujelaskan. Dan setelah semua itu… kau masih berani menunjukkan wajahmu di hadapanku?!"
Kaivan berdiri begitu dekat hingga setiap napas yang keluar dari dirinya bergetar dipenuhi amarah, seolah api sedang membakar ujung jemarinya.
"Apa yang sebenarnya kau harapkan? Permintaan maaf? Pengampunan? Kau pikir aku akan membiarkanmu kembali hanya dengan air mata palsu itu? Kau sama sekali tidak tahu siapa diriku sekarang, Tania. Aku bukan lagi anak laki-laki yang bisa kau kendalikan sesuka hati. Versi diriku yang dulu sudah mati. Dan kaulah yang membunuhnya. Kau alasan kenapa aku sudah tidak punya hati lagi. Dan sekarang kau berdiri di sini, mencoba melukaiku lagi dengan kebohongan yang bahkan lebih kotor dari sebelumnya?"
Ia berhenti sejenak.
Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Tania.
Setiap kata yang keluar menghantam dadanya seperti pukulan keras.
"Setelah menghancurkanku berkali-kali… kau masih berpikir aku akan memaafkanmu? Tidak. Aku sudah bukan orang yang sama lagi, Tania. Aku kehilangan diriku sendiri, dan penyebabnya adalah kau."
