Lobi hotel kini dipenuhi para tamu yang baru saja diselamatkan. Kelegaan bercampur dengan kelelahan di wajah mereka, meski ketegangan belum benar-benar menghilang. Di tengah gumaman suara yang masih dipenuhi kebingungan, Kaivan berdiri tegak. Ia menyapu ruangan dengan tatapannya sebelum berseru, "Apakah manajer hotel ada di sini?"
Seorang pria paruh baya mengangkat tangan. Wajahnya pucat, matanya lelah namun tampak tulus. "Saya."
Kaivan menatapnya lurus. "Sebelum semua ini terjadi, siapa yang menyewa tempat ini?"
"Seorang wanita. Namanya Rapi," jawab sang manajer pelan. "Dia memesan seluruh hotel selama dua puluh empat jam."
Kaivan mengangguk perlahan, kepingan-kepingan di pikirannya mulai tersusun menjadi satu.
Pada saat itu, Felicia muncul dari lorong bersama beberapa sandera yang berhasil ia bebaskan. Gaun merahnya robek dan dipenuhi debu, memperlihatkan luka-luka kecil di sepanjang kakinya. Ia tampak lelah, tetapi matanya masih menyala oleh tekad yang belum padam.
Darius berjalan di sampingnya, menatap Felicia dengan campuran kagum dan gugup. Ketika ia melihat Kaivan, kebingungan langsung muncul di wajahnya. "Kenapa anak itu ada di sini?" gumamnya tak percaya.
Suara langkah berat mendekat. Ethan muncul di ambang pintu dengan ekspresi tenang dan mantap. Darius langsung membeku, matanya melebar.
"Ethan…?"
Bisikan itu lolos begitu saja dari bibirnya, dipenuhi ketidakpercayaan saat melihat mantan rekannya kini berdiri di pihak berlawanan.
Felicia melangkah mendekati Kaivan. Suaranya tenang meski napasnya masih belum stabil. "Semua sandera sudah diamankan."
Kaivan mengangguk pelan. Tatapannya sempat berhenti pada luka-luka di tubuh Felicia.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan tuxedo yang dikenakannya dan menyampirkannya perlahan ke bahu Felicia. Gerakan itu begitu lembut, seolah ia sedang melindungi sesuatu yang rapuh namun berharga.
Felicia memegang tuxedo itu sambil memperlihatkan senyum kecil penuh rasa syukur.
Hangat.
Tatapan mereka bertemu sesaat. Singkat, sunyi, namun dipenuhi makna yang tak perlu diucapkan.
Kaivan kemudian kembali menghadap kerumunan orang yang menunggu.
"Semua ini direncanakan oleh wanita kejam bernama Vella," ucapnya lantang, suaranya menggema di seluruh lobi. "Kalau kita berdiri bersama, kita bisa melaporkan Vella atas pembunuhan, penculikan, dan penyanderaan yang ia lakukan hari ini."
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan mata berkaca-kaca. "Benar! Saya melihatnya sendiri. Dia membunuh seseorang di ballroom. Vella itu pembunuh!"
Suara-suara setuju mulai bermunculan, perlahan menggantikan rasa takut dengan tekad. Wajah-wajah lelah itu kembali menyalakan harapan kecil, dipicu oleh keyakinan kuat dalam suara Kaivan.
Dari belakang, Zinnia bertanya pelan, "Jadi… sekarang kita harus bagaimana?"
Kaivan mengulurkan tangannya ke samping. Isabel mendekat lalu meletakkan sebuah tome ke tangannya. Ia tersenyum pada Zinnia sebelum melirik Livia.
"Kita pulang dulu. Yang paling penting sekarang adalah orang tua Livia."
Kaivan, Livia, Felicia, Zinnia, Isabel, Radit, Raphael, dan Ethan berjalan keluar dari hotel. Udara malam menyambut mereka dengan kesejukan yang perlahan menyelinap di sela-sela rasa lelah mereka.
Di tengah langkah mereka, Darius tiba-tiba berlari mendekat. Napasnya memburu, matanya dipenuhi keputusasaan.
"Felicia! Maafkan aku! Aku akan terus mencarimu, aku tidak akan berhenti!"
Felicia mengembuskan napas panjang sambil memalingkan wajah. "Astaga… serius?" gumamnya lirih sambil menggigit bibir karena tidak nyaman.
Ethan melirik Darius lalu menyeringai tipis. "Ini pertama kalinya aku melihat dia memohon seperti itu. Biasanya dia sok keras. Kau hebat juga, Felicia, sampai bisa membuatnya seperti ini. Mungkin… kalian cocok?"
Felicia memutar matanya malas. "Dia hampir meneteskan air liur waktu menatap lenganku. Dan saat aku merapikan rambut, matanya malah langsung melihat ke bawah lengan bajuku. Menjijikkan."
Radit yang mendengarkan langsung ikut menimpali, "Yah, mungkin dia memang suka bagian situ. Maksudku, mana mungkin dia tertarik sama dadamu, "
PLAK!
Nunchaku Felicia menghantam kepala Radit dengan akurasi sempurna.
Felicia mencondongkan tubuhnya, menatap tajam hanya beberapa senti dari wajahnya. "Coba bilang kata itu sekali lagi… dan kau bakal pulang naik ambulans."
Zinnia langsung tak bisa menahan tawanya melihat Radit yang kembali mencari masalah sendiri. "Radit, serius deh… bagaimana bisa kau ngomong soal tubuh perempuan langsung di depan orangnya?" katanya sambil terkikik dan menutup mulut.
Radit meringis sambil memegang kepalanya, lalu menoleh ke arah Zinnia untuk membela diri. "Aku cuma jujur. Lagi pula kau juga tidak bakal mengerti, Zinnia, karena pinggul dan bokongmu, "
PLAK!
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, nunchaku itu sudah berpindah tangan.
Zinnia memukul kepalanya tepat sasaran hingga Radit sempoyongan. Ekspresinya tetap manis, tetapi sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
Radit memegangi kepalanya yang berdenyut sambil jongkok dengan wajah menyedihkan, sementara anggota kelompok lainnya hanya menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan geli.
