Ficool

Chapter 169 - Gadis Bergaun Merah

Kaivan memberi senyum samar, meski tubuhnya jelas belum sanggup bergerak. "Aku baik-baik saja. Ikat saja Rapi dengan rantai itu. Mereka membutuhkanmu di atas."

Felicia terdiam sesaat, frustrasi tersembunyi di balik kebisuannya. Ia berbalik ke tubuh Rapi yang tak sadarkan diri lalu melilitkan rantai besi dengan kuat ke seluruh tubuhnya. Setiap tarikan terasa keras, dipenuhi ketegangan yang tertahan. Setelah itu, ia memasang gembok besar sebelum melirik kembali ke arah Kaivan.

"Jangan cuma tiduran di situ. Cepat menyusul," gumamnya pelan, lalu langsung berlari menuju tangga.

Kaivan mengangkat ibu jarinya dengan lemah sebagai jawaban, senyum letih masih tersisa di bibirnya.

***

Di dapur, udara perlahan menghangat oleh aroma teh. Para staf hotel yang baru saja dibebaskan duduk melingkar, uap dari cangkir mereka menyentuh wajah-wajah pucat yang masih diliputi ketakutan.

"Kalian sebenarnya dari mana?" tanya salah satu staf, masih kebingungan dengan semua yang terjadi.

"Kami… cuma kebetulan lewat," jawab Ethan santai, meski alasannya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.

Ketegangan kembali memenuhi ruangan ketika Raphael bergegas masuk dengan napas memburu. "Kartu master tidak ada di resepsionis. Akan sulit menyelamatkan sisanya kalau begini."

Seorang staf yang duduk di ujung meja perlahan mengangkat tangan. "Hanya ada dua kartu master. Ini salah satunya. Bisa membuka semua kamar, tapi biasanya cuma dipakai staf khusus."

Raphael menerima kartu itu sambil mengangguk singkat. Ia mengangkatnya agar yang lain bisa melihat sambil memberi instruksi cepat. Tatapan mereka saling bertemu, secercah harapan mulai muncul di tengah ketakutan yang masih menggantung di ruangan.

Felicia masuk ke dapur beberapa detik kemudian dengan napas berat, memotong suasana tegang di sana. Gaun merah elegannya kini robek di beberapa bagian, memperlihatkan sebagian pahanya. Luka-luka kecil menghiasi kulitnya. Keringat mengalir di pelipisnya, tetapi matanya tetap menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan.

Radit menatapnya dengan campuran kagum dan heran. "Kau… kelihatan kacau sekali," gumamnya sambil menggeleng pelan.

Felicia bahkan tidak menanggapi. Ia mengikat rambutnya yang kusut, membiarkan beberapa helai jatuh di dekat pipinya. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya datar namun mantap. Baginya, rasa lelah hanyalah bagian lain dari perjalanan.

***

Sementara itu, di lantai bawah yang sunyi, Kaivan duduk di lantai dengan napas tak beraturan. Saat ia mencoba berdiri, sebuah suara dingin bergema dari balik bayangan. Suara yang terlalu ia kenal.

"Kau… menghancurkan rencana Nona Vella," desis Rapi sambil duduk tegak meski tubuhnya terikat. Tatapannya tajam, nadanya penuh ejekan.

Kaivan menoleh perlahan. "Oh, ternyata kau sudah bangun," jawabnya datar, meski matanya tetap waspada.

Rapi mendecakkan lidah. "Dia kejam, Kaivan. Kau sendiri melihatnya. Dia membunuh hanya dengan pecahan kaca. Tanpa ragu. Tanpa belas kasihan." Suaranya bergetar, seolah luka lama kembali terbuka.

Kaivan mendengarkan dalam diam sebelum akhirnya berdiri tegak. "Justru karena itu aku harus menghadapinya. Vella tidak berhak menyakiti orang-orang tak berdaya," katanya pelan, keyakinan mengalir jelas di setiap kata.

Ia melanjutkan sambil berbalik pergi, "Dia tidak akan membunuhku. Dia membutuhkan aku. Jadi jangan terlalu banyak berpikir."

Tanpa menoleh lagi, Kaivan mulai berlari meninggalkan Rapi di tengah kegelapan.

"Tunggu, Kaivan! Dengarkan aku!" teriak Rapi, tetapi langkah Kaivan tak pernah berhenti.

Kesunyian kembali menelan ruangan itu. Dengan suara gemetar, Rapi berbisik, "Kau tidak akan pernah mengerti… betapa mengerikannya Vella sebenarnya."

Air mata perlahan jatuh di pipinya sementara bayangan menelan sisa cahaya redup di sana.

***

Felicia dan Raphael bergerak cepat, masing-masing memegang satu kartu master yang bisa membuka seluruh kamar hotel. Setelah membagi area pencarian, mereka berpisah. Setiap langkah Felicia dipenuhi kewaspadaan. Gaunnya yang robek sudah tak lagi penting. Fokusnya kini hanya menyelamatkan para sandera.

Saat membuka salah satu kamar, ia menemukan Darius, pria yang sebelumnya ia tipu demi mendapatkan undangan pesta.

Darius membeku kaget, tetapi tatapannya segera jatuh ke kulit Felicia yang terlihat di balik gaun merahnya yang sobek.

"Kau… gadis yang tadi itu, kan?" tanyanya ragu, matanya terpaku pada paha Felicia. "Apa yang terjadi dengan pakaianmu…?"

Felicia melangkah mendekat dengan tatapan dingin. Ia berlutut lalu mulai melepaskan tali yang mengikat Darius tanpa memedulikan cara pria itu menatapnya. Napas mereka sesekali bersentuhan samar.

"Maaf… soal tadi. Aku tidak bermaksud mendorongmu seperti itu. Aku hanya…"

Felicia berdiri tegak, matanya menajam. "Aku tidak akan memaafkanmu," katanya lirih namun tegas. "Aku benci pria kasar."

Darius langsung terdiam. Wajahnya perlahan kehilangan warna. "Aku bisa memberimu apa pun. Ayahku anggota dewan. Kalau kau menginginkan sesuatu, apa saja…"

Felicia mengembuskan napas pelan, rasa muak terdengar jelas di suaranya. "Cukup. Aku muak mendengar omong kosongmu."

Dengan satu tarikan terakhir, ia melepaskan ikatan pria itu. "Keluar. Sekarang."

Namun Darius tidak bergerak. Ia menatap Felicia dengan bingung. "Kenapa? Aku serius, Felicia… aku cuma ingin…"

Tangannya terulur, nyaris menyentuh Felicia.

Dengan cepat Felicia menepis tangan itu lalu mendorongnya hingga membentur dinding.

"Sst!" desisnya tajam sambil menyipitkan mata. Suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.

Dalam satu gerakan cepat, Felicia meraih bagian belakang pahanya dan menarik sebuah nunchaku kecil yang tersembunyi di sana.

"Mumpung tidak ada Nona VeLla kan jadi ada kesempatan hehe, ehh,,, Pintunya terbuka… pasti ada yang kabur!" teriak salah satu penjaga Pria, suara mereka semakin dekat.

"Sudah ku bilang jangan sekarang kan? nanti saja saat di rumah kita malah ke balakang dan tidak tau apa yang terjadi sekarang." ucap salah satu penjaga Pria lainnya sambil berjalan masuk ke arah kamar Darius

Felicia menenangkan napasnya lalu memasang kuda-kuda. Tubuhnya menegang seperti bayangan senja yang siap menerkam.

Begitu pintu terbuka, Felicia langsung bergerak.

Ia membanting pintu kembali hingga dua penjaga yang masuk terjebak di dalam. Nunchaku di tangannya berayun ke atas dan menghantam kepala penjaga pertama dengan keras. Bunyi benturan berat menggema saat pria itu roboh tak sadarkan diri.

Penjaga kedua bahkan tak sempat bereaksi. Felicia berputar cepat, menyapu kaki pria itu hingga kehilangan keseimbangan. Sebelum ia sempat bangkit, Felicia menghantam wajahnya keras hingga tubuhnya terlempar dan jatuh pingsan di samping rekannya.

Darius berdiri membeku dengan mata melebar. Ekspresinya dipenuhi campuran kagum dan takut.

Gadis bergaun merah yang tadi tersenyum padanya telah menghilang, digantikan sosok yang bahkan tak sanggup ia dekati tanpa membuat jantungnya gemetar.

Wajah Felicia masih sama cantiknya.

Namun ada sesuatu yang berubah dari dirinya.

Di balik ketenangan itu, tersembunyi sisi liar dan tajam yang membuat Darius sadar bahwa selama ini ia sama sekali tidak pernah benar-benar mengenalnya.

More Chapters