Ficool

Chapter 1 - 1.1 Fantasy? Terpanggil ke dunia fantasy?

[]

Apa kau pikir pergi ke dunia lain itu menyenangkan?

Di film atau novel, memang terlihat seru sekali—petualangan, kekuatan baru, dunia ajaib. Tapi coba bayangkan kalau Kau sendiri yang tiba-tiba terlempar ke sana. Sendirian, tanpa kenalan, dikelilingi hal-hal asing: sihir, iblis, monster, peri, bahkan dewa sekalipun. Satu kesalahan kecil saja bisa merenggut nyawamu.

Ini kisahku mengembara di dunia asing seperti itu.

[]

Aku sedang pulang dari sekolah, katana di tangan kanan, tas ransel di tangan kiri—baru selesai ekskul. Tiba-tiba semuanya gelap. Saat sadar, aku sudah terbangun di tempat yang sama sekali tak kukenal.

Burung-burung raksasa yang aneh beterbangan di langit. Padang rumput luas membentang sejauh mata memandang, dikelilingi gunung-gunung menjulang tinggi dan pepohonan rimbun. Katana ku tergeletak di samping, tapi tas ranselku hilang entah ke mana. Yah, sudahlah.

Seseorang—atau sesuatu—sengaja memanggilku ke sini. Untuk tujuan tertentu, mungkin. Tapi untuk sekarang, yang terpenting adalah bertahan hidup di dunia yang asing ini.

Aku bangkit, mengambil katana, dan mulai berjalan tanpa arah. Ada jalan setapak kecil di depan—aku memutuskan mengikutinya saja.

Sepanjang jalan, aku coba mainkan ponselku. Masih menyala, untungnya. Tapi sinyal nol besar—tak bisa telepon, internet, apa pun. Benar-benar tak berguna di sini, tapi aku tetap simpan. Siapa tahu suatu hari bisa kembali ke dunia asal.

Hmm… ini cuma perasaanku, atau memang gravitasi di sini lebih ringan daripada di Bumi? Gerakanku terasa lebih enteng. Yasudah lah.

Sudah hampir 1-2 km berjalan, tapi yang kutemui cuma hutan lebat di sebelah kiri. Belum ada desa, kota, atau pun orang.

Tiba-tiba, dari arah hutan sekitar 1 km ke depan, terdengar teriakan keras meminta tolong—penuh ketakutan. Pendengaranku cukup tajam, jadi suara itu jelas sekali. Penasaran, aku langsung berlari ke sumbernya.

Sesampainya di sana, aku melihat seorang gadis cantik berambut biru tua sepanjang bahu, berpakaian seperti seragam pelajar. Dia sedang diserang kawanan perampok atau bandit...? Bersenjata tajam—kapak, pedang, dan sejenisnya.

Gadis itu terjatuh. Mereka tampak berniat melecehkannya. Dari balik pohon, aku langsung melesat keluar.

Satu perampok kuhabisi dari belakang dengan tangan kosong—langsung lumpuh. Yang lain berhenti, sekarang perhatian mereka tertuju padaku.

“Apa yang kau lakukan, gadis kecil? Mau ikut main sama kami juga?” kata salah satu dengan nada mengejek.

Aku menjawab datar, “Tidak. Aku cuma mau selamatkan gadis cantik di sana dari kawanan goblin.”

“Apa tadi katamu, dasar kurang ajar!!”

Mereka—maaf, maksudku para perampok—langsung menyerbu. Ada delapan orang.

“Berhati-hati! Meski perampok, mereka bisa pakai sihir sedikit!” seru gadis itu panik.

“Tenang aja, gadis cantik. Meski kelihatannya begini, aku cukup kuat,” jawabku tetap datar.

Aku ambil kuda-kuda, tarik katana dari sarungnya. Satu perampok menyerang duluan dengan pedang—kutangkis pakai punggung bilah, lalu tendang kakinya hingga jatuh. Begitu dia roboh, dengkulku mendarat keras di dagunya. Langsung pingsan.

Yang lain menyerbu bareng. Aku mundur dulu, jaga jarak.

“Cih… merepotkan. Akhiri sekalian.”

Aku tarik napas panjang, kaki terbuka lebar, katana sedikit di atas bahu. Lalu melesat maju.

Mereka tak sempat melihat gerakanku. Saat sadar, aku sudah di belakang mereka. Sekejap kemudian, semuanya ambruk pingsan.

Syukurlah teknik pedang ini sudah kuasai. Kalau tidak, nasibku dan gadis itu bisa buruk.

“Wooah… hebat sekali! Gerakanmu sampai tak terlihat! Pakai sihir apa tadi, Kak!?” Gadis itu menghampiri, matanya berbinar kagum.

“Sihir? Apa itu? Tadi cuma teknik biasa,” jawabku bingung sambil menyarungkan katana.

“Kamu nggak tahu sihir? Oh, maaf… seharusnya aku berterima kasih dulu. Terima kasih banyak sudah selamatkan aku, Kak! Perkenalkan, namaku Caeril Fulvus. Panggil aja Cae. Aku siswi Akademi Sihir Luminiella.”

Dia membungkuk sopan.

“Ah… hum. Namaku Elysia Sylphy. Panggil aja Ely.” Aku balas membungkuk juga.

Kami berdua langsung keluar dari hutan. Tapi tepat saat hampir sampai pinggir, semuanya tiba-tiba berhenti.

Gerakan Cae membeku. Burung-burung di langit diam. Dedaunan yang jatuh terhenti di udara.

Aku mengamati sekitar, bingung.

Dan dalam satu kedipan mata—semuanya berubah.

Aku tak lagi di hutan.

Sekarang aku berdiri di ruang perpustakaan raksasa. Sejauh mata memandang, hanya rak buku demi rak buku yang tak berujung. Tak ada apa pun selain itu.

More Chapters