Ficool

Chapter 4 - 1.4 Pembasmian Ogre, dan Sihir

Tak sampai sepuluh menit berjalan, kami sudah tiba di pinggir hutan. Ogre-ogre itu sepertinya bersembunyi agak ke dalam. Aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke Cae.

“Baiklah, Cae. Mau nunggu di sini atau ikut aku masuk?”

Cae menggeleng pelan sambil memandang ke tanah.

“Hmm… Aku kan nggak bakal ikut bertarung. Lebih baik di sini aja, daripada nanti malah jadi beban buat Kakak.”

Aku mengangguk ringan.

“Oke. Kalau gitu aku duluan ya.”

Aku melangkah masuk, meninggalkan dia di balik pepohonan pinggir.

“Berhati-hati ya, Kak Ely…”

Aku melanjutkan perjalanan sendirian, menyusuri hutan yang semakin pekat. Sepanjang jalan, aku menemukan beberapa bangkai hewan—sebagian sudah membusuk, sebagian lagi masih segar. Semakin dalam, semakin gelap. Cahaya matahari hampir tak mampu menembus kanopi daun yang rapat di atas.

‘Sepertinya sudah dekat…’

Aku melompati akar pohon raksasa yang menjalar dan melintasi batang tumbang yang menghalangi.

Tiba-tiba—

Dari belakang, sesosok monster raksasa menghantam dengan gada besi yang ukurannya jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibuat manusia. Aku langsung melompat maju sekuat tenaga, menghindar. Benturan gada itu menghancurkan tanah dan beberapa pohon di sekitarnya—debu beterbangan, ranting patah berderak.

Aku cepat membalikkan badan, membetulkan posisi.

“Heh… Jadi ini ogre ya?”

Aku memandangnya dari atas ke bawah.

“Tinggi kira-kira lima kaki lebih, beratnya pasti ratusan kilo… Dan jumlahnya… eh, sepuluh? Padahal info guild bilang cuma lima. Yah, sudahlah. Fokus dulu.”

“Manusia… terlihat lezat!”

Salah satu ogre menggeram, matanya berbinar lapar.

Tanpa aba-aba, mereka berlari menyerbu. Meski aku belum pernah bertarung melawan monster, instingku sudah terasah. Aku mengambil kuda-kuda, katana sudah terhunus di tangan kanan.

Serangan pertama datang dari dua ogre di depan—mereka mengayunkan gada secara bersamaan. Gerakannya terlalu jelas. Aku melompat mundur, menjaga jarak, lalu seketika melesat maju lagi. Katana kutinggikan sedikit di atas bahu, lalu kulepaskan tebasan horizontal cepat.

Sret—!

Dua kepala ogre terpisah dari lehernya hampir bersamaan, berguling ke tanah.

Meski tubuh mereka jangkung tak masuk akal, gravitasi di dunia ini jauh lebih ringan. Aku bisa bergerak lincah, hampir seperti melayang.

Delapan ogre sisanya terdiam sesaat, terkejut melihat teman mereka mati sekejap. Tapi tak lama, mereka kembali mengamuk—kali ini delapan sekaligus menyerbu.

Jujur saja, serangan frontal tanpa strategi begini jauh lebih mudah dihadapi ketimbang satu lawan manusia yang penuh akal-akalan.

Saat mereka mendekat, partikel hijau mulai berkumpul di sepanjang bilah katana. Aku arahkan ujung pedang ke tanah, lepaskan sihir angin ke bawah kakiku—

Whoosh!

Angin menderu keras. Tubuhku dan para ogre terhempas ke atas, melayang tinggi. Dari ketinggian itu, aku memutar katana hingga ujungnya mengarah ke langit, menunggu momen tepat.

Lalu aku melesat turun—mengikuti aliran udara yang mempercepat gerakanku. Satu tebasan vertikal panjang kulepaskan, membelah udara.

Sret… sret… sret…

Dalam sekejap mata, aku sudah mendarat di tanah. Delapan kepala ogre jatuh berderet dari langit, berguling di rerumputan.

Aku menghela napas panjang.

“Syukurlah… gerakanku pas dengan bayangan di kepala. Ternyata gravitasi ringan ini memang membantu banget. Tapi aku masih perlu adaptasi lebih jauh.”

Aku memandang mayat-mayat itu.

“Baiklah, bukti misi… telinga aja ya, paling praktis.”

Sambil memotong dan mengantongi telinga ogre, aku bergumam sendiri,

“Ngomong-ngomong, kalau konsep dasarnya sudah paham, mengeluarkan sihir ternyata gampang banget ya…”

Setelah selesai, aku bergegas keluar hutan.

Tak lama kemudian, aku melihat Cae bersandar di bawah pohon besar, menghindari terik matahari yang masih menyengat. Aku mendekat.

“Cae, ayo balik. Misi selesai.”

Cae membelalak, langsung berdiri tegak.

“Eh?! Kak Ely… cepet banget?! Serius bisa kalahin ogre-ogre itu secepat ini? Aku kira bakal lama…”

Aku cuma tersenyum tipis, lalu berbalik menuju arah kota.

Aku mulai berjalan, dia buru-buru menyusul.

Di tengah perjalanan pulang, aku tiba-tiba bertanya,

“Cae… selain sihir elemen, ada jenis sihir lain nggak?”

Cae menoleh, matanya berbinar penasaran bercampur kagum.

“Kak Ely sudah sekuat itu, masih mau belajar sihir lagi? Apa rencananya mau hancurin kerajaan nih?”

Aku nyaris tersedak.

“Hah? Bukan lah. Cuma penasaran aja.”

Dia tertawa kecil, lalu mulai menjelaskan sambil berjalan.

“Hmm… sihir elemen itu memang yang paling dasar. Di atasnya ada sihir tingkat menengah—seperti penyembuhan, penguatan fisik, dan sejenisnya. Lalu tingkat lanjut: terbang, teleportasi, telekinesis, dan lain-lain. Nah, di atas tingkat lanjut lagi ada sihir terlarang yang Kakak tadi sempat aku sebut. Itu… sihir yang bisa membangkitkan orang mati, atau bahkan mengubah hukum dunia. Bahaya banget.”

Aku mengangguk-angguk, mencerna.

“Terus… aku bisa belajar sihir tingkat menengah ke atas di mana?”

Cae tersenyum malu-malu.

“Paling ideal sih di akademi sihirku… tapi aku sendiri masih belajar tingkat dasar kok.”

“Ada tempat lain nggak?”

Dia berpikir sejenak.

“Hmm… ah iya! Ada perpustakaan yang koleksi buku sihirnya banyak banget.”

“Oho, perpustakaan ya? Bagus juga. Namanya apa? Lokasinya di mana? Oh iya, sekalian rekomendasi penginapan dong, aku butuh tempat bermalam.”

Cae langsung semangat menjelaskan.

“Perpustakaannya namanya Perpustakaan Freyja, ada di pusat kota, dekat air mancur besar. Dari gerbang masuk kota, Kakak jalan lurus aja sampai ketemu air mancur itu—perpustakaannya di sekitar situ. Kalau penginapan, aku saranin The Golden Inn. Dari gerbang, belok kanan, lurus terus sampai ujung jalan, pasti ketemu. Nah, aku pamit dulu ya Kak, matahari udah mulai turun. Aku nggak boleh telat balik ke asrama. Kalau mau ketemu lagi, datang aja ke akademi. Sampai jumpa!”

Dia melambai ceria sambil berlari kecil menjauh.

Aku balas melambai.

“Hati-hati di jalan. Sampai jumpa, Cae.”

Aku menatap punggungnya sebentar, lalu menghela napas pelan.

“Baiklah… mending istirahat dulu malam ini. Perpustakaan besok aja.”

Akhirnya aku bergegas menuju The Golden Inn yang direkomendasikan Cae.

More Chapters