Ficool

Chapter 5 - 1.5 Menuju ke Penginapan

Setelah berpisah dari Cae, aku langsung bergegas ke guild untuk lapor penyelesaian misi dan ambil imbalannya. Tak lama kemudian, aku sudah sampai. Menuju resepsionis, di balik meja ada seorang wanita cantik dengan rambut diikat ponytail rapi.

“Petualang, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan dan lembut.

“Umm… aku mau lapor misi yang aku ambil tadi sudah selesai. Bisa di sini ya?” jawabku agak bingung.

“Iya, bisa kok. Mau lapor penyelesaian misi?” tanyanya lagi, masih ramah.

“Iya, ini misinya.” Aku tunjukkan kertas quest dan bukti: tumpukan telinga ogre.

Dia periksa sebentar.

“Dari yang saya lihat, ini 20 telinga ogre. Kamu sendiri yang kalahkan semuanya?” tanyanya dengan ekspresi heran.

“Ah… hm… nggak kok. Sebenarnya bareng timku. Tapi mereka sudah pulang duluan, jadi aku yang lapor sendiri…” Aku tersenyum tipis, sengaja bohong biar kemampuanku nggak terlalu ketahuan—kecuali sama Cae. Nanti bisa repot kalau terlalu banyak yang tahu.

“Oh, begitu ya. Baiklah, laporan diterima. Kamu dan tim dapat 5 koin perak. Terima kasih banyak atas penyelesaiannya.” Dia taruh 5 koin perak di meja.

“Terima kasih juga.” Aku ambil koinnya dan langsung pergi.

Setelah urusan guild selesai, aku langsung menuju The Golden Inn yang direkomendasikan Cae. Hari sudah mulai gelap, pedagang di pinggir jalan mulai beres-beres barang, orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Udara malam terasa dingin menusuk—leher tanpa syal, tangan tanpa sarung tangan, kaki yang terbuka. Dinginnya bikin merinding.

Aku jalan menyusuri jalan setapak menuju penginapan. Meski setapak, kanan-kiri penuh rumah bergaya abad pertengahan—desainnya cukup cantik dan rapi. Bulan sudah nongol, dan setelah 10 menit (karena aku keasyikan ngeliatin rumah-rumah itu), akhirnya sampai di The Golden Inn.

Penginapan ini juga bergaya abad pertengahan, lebih besar dari rumah biasa, dengan vas bunga menghias dekat pintu masuk. Saat kubuka pintu, lonceng kecil di atas berbunyi *cling-cling* lembut.

Begitu masuk, aku kaget—ternyata ada bagian resto di dalam. Meja dan bangku penuh orang yang lagi makan, ngobrol, ketawa rame. Meski malam, tempat ini masih hidup banget. Di ujung kanan ada tangga menuju lantai atas—pasti kamar-kamar menginap.

Ada empat orang yang kelihatan mengelola: satu pria tua sekitar 40-an, satu wanita tua (mungkin istrinya), dan dua gadis kecil yang mirip kembar. Yang satu sering senyum manis, yang satunya wajahnya datar tapi tetap rajin bawa makanan ke meja pelanggan.

Aku mendekati yang kelihatan ibu-ibu itu.

“Permisi, Bu. Aku mau menginap beberapa hari. 5 koin perak cukup nggak?” tanyaku.

Dia tertawa kecil. “5 koin perak untuk beberapa hari? Becanda ya, Nona? 1 koin perak aja udah cukup buat 7 hari! Kamu pasti baru datang ke kota ini, ya?”

“Hehe… iya, Bu. Baru tadi pagi. Baiklah, 1 koin perak untuk 7 hari ya.” Aku keluarkan satu koin.

“Wajar kamu kaget. Kalau sudah lama di sini, pasti tahu betapa nyamannya penginapan kami!” katanya bangga sambil ambil koinnya. “Ini kuncinya. Kamar kamu di lantai atas, ujung kiri dari tangga. Oh iya, Nona… kamu sendirian ke kota ini? Aku dengar rumor, malam-malam kalau jalan sendiri, ada bayangan hitam kecil yang mendekat dan coba ‘makan’ orang. Aku sendiri nggak berani jalan malam sendirian. Hati-hati ya.”

“Hmm… terima kasih infonya, Bu.” Aku angguk.

“Nama aku Lyre. Panggil aja Lyre, jangan terlalu kaku.”

Di duniaku dulu, manggil orang tua pakai nama langsung agak kurang sopan. Ternyata di sini beda.

“Baiklah, Lyre. Namaku Elysia Sylphy. Panggil aja Ely.”

“Eh… kamu bangsawan, Ely? Maksudku, Nona Ely??” Lyre kaget.

“Eh, nggak kok. Aku orang biasa. Kenapa emang?”

“Orang yang punya nama keluarga biasanya dari darah bangsawan.”

“Hee… tapi aku bukan. Jadi panggil biasa aja ya.”

“Begitu ya… oke deh, kalau kamu maunya gitu.”

“Kalau gitu aku ke kamar dulu ya…” Aku pamit dan naik tangga.

Tangga kayu agak berderit saat kutapaki. Sampai lantai atas, langsung ke kiri ujung. Pintu kamarku punya ukiran indah—sama seperti pintu-pintu lain. Mungkin simbol keberuntungan atau apa gitu.

Aku masukkan kunci, buka pintu.

“Wah… sederhana tapi nyaman banget.” Kamarnya luas buat satu orang: ada meja-kursi, tempat tidur empuk, lemari, gorden jendela.

Aku masuk, lantai kayu berderit pelan. Langsung ke jendela, kubuka lebar-lebar.

Pemandangan luar luar biasa. Bulan purnama bersinar terang, langit malam penuh bintang berkelap-kelip. Aku terpaku sesaat, menatap langit dari jendela kamar.

“Malam yang indah… Kayaknya jalan malam nggak buruk-buruk amat. Ayo deh.”

Aku putuskan keluar sebentar menikmati udara malam, ditemani bulan dan bintang.

Keluar kamar, turun tangga. Lyre langsung nyapa.

“Mau ke mana malam-malam gini, Ely?”

“Cuma cari angin sebentar.”

“Eh… tapi sudah malam loh. Apalagi rumor itu…”

“Tenang aja, Lyre. Walaupun kelihatannya begini, aku cukup kuat kok. Jangan khawatir.”

“Hm… ya sudah. Tapi hati-hati ya.”

“Tentu.”

Aku keluar penginapan. Udara malam sejuk banget, segar. Di duniaku dulu, bintang jarang kelihatan sebanyak ini—polusi cahaya bikin langit kota kusam. Di sini, bulan dan bintang terang benderang.

Aku jalan beberapa meter, lalu belok kanan menuju pusat kota. Lewat banyak gang kecil. Kalau rumor itu bener, mungkin kejadiannya di gang-gang gelap begini—jalan utama masih ramai orang bolak-balik.

Aku sengaja masuk ke salah satu gang kecil yang gelap. Meski gelap, cahaya bulan masih cukup menerangi.

Tak lama, aku dengar langkah kaki samar di belakang—kayak tanpa alas kaki, biar nggak berisik. Lalu dari depan, bayangan hitam kecil mendekat pelan.

“Ma… kan…” gumamnya pelan.

Bayangan itu tiba-tiba ambruk sendiri, tak sadarkan diri.

Aku mendekat. Ternyata seorang gadis kecil dengan telinga kucing hitam dan rambut hitam pendek.

Aku memandangnya, mikir macam-macam: kenapa anak kecil begini ada di tempat kumuh kayak gini? Orang tuanya ke mana? Dan masih banyak pertanyaan lain.

Tapi untuk sekarang, aku putuskan bawa dia ke penginapan Lyre dulu.

More Chapters