Ficool

Chapter 7 - BAB 7 — Garis Tipis

Angin pagi berhembus pelan di sepanjang jalan perumahan.

Tidak ada yang mencolok.

Mobil lalu-lalang seperti biasa. Orang-orang berjalan dengan rutinitas mereka. Dunia terlihat normal.

Namun bagi dua orang yang berdiri saling berhadapan—

Tidak ada yang normal.

Kang Tae Hyun berdiri dengan satu tangan di saku, menatap santai ke arah wanita di seberangnya.

Han Seo Rin.

Jarak mereka tidak lebih dari sepuluh meter.

Namun atmosfer di antara mereka terasa berat.

Seo Rin melangkah mendekat.

Pelan.

Terukur.

Tatapannya tidak lepas dari Tae Hyun.

"Kau cepat menyadarinya," katanya.

Tae Hyun mengangkat bahu ringan.

"Lumayan."

Jawaban santai.

Terlalu santai.

Seo Rin berhenti di hadapannya.

Kini jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Nama."

"Kenapa harus kasih?"

"Karena aku minta."

"Bukan alasan yang bagus."

Hening.

Angin kembali berhembus.

Namun kali ini terasa lebih dingin.

Seo Rin tidak tersinggung.

Tidak marah.

Sebaliknya—

Dia mengamati.

Cara berdiri.

Cara bernapas.

Cara mata Tae Hyun bergerak.

Tidak ada ketegangan.

Tidak ada rasa terancam.

Itu yang aneh.

"Semalam," ucap Seo Rin perlahan, "kau ada di mana?"

Tae Hyun tidak langsung menjawab.

Dia menatap langit sejenak.

"Jalan."

"Di mana?"

"Sekitar."

Jawaban kabur.

Disengaja.

Seo Rin menyipitkan mata.

"Banyak orang hampir mati di sana."

Kali ini, tatapan Tae Hyun turun kembali ke arahnya.

"Dan?"

"…dan seseorang menyelamatkan mereka."

Hening sejenak.

Tae Hyun sedikit tersenyum.

"Bagus dong."

Jawaban itu terlalu ringan.

Seo Rin melangkah lebih dekat.

"Masalahnya," lanjutnya pelan, "orang itu tidak terdaftar."

Tatapan mereka bertemu lagi.

Lebih tajam.

"Tidak punya rank."

"Tidak punya lisensi."

"Dan tidak muncul di sistem mana pun."

Tae Hyun menghela napas pelan.

"Terus?"

Seo Rin berhenti tepat di depannya.

"…aku tidak suka sesuatu yang tidak bisa dijelaskan."

Sunyi.

Untuk sesaat—

Tidak ada suara lain selain angin.

Lalu—

Tae Hyun sedikit menunduk.

Dan berbisik pelan—

"Kalau semua hal harus bisa dijelaskan…"

Dia mengangkat wajahnya.

Tatapannya berubah sedikit lebih dalam.

"…dunia ini bakal membosankan."

Hening.

Seo Rin menatapnya.

Lebih lama.

Ada sesuatu di sana.

Bukan kekuatan.

Bukan aura.

Tapi… keyakinan.

Dia mundur satu langkah.

"…kau mahasiswa?"

"Kelihatan?"

"Tidak."

Tae Hyun tersenyum kecil.

"Sayang sekali."

Seo Rin mengeluarkan ponsel.

Menunjukkan layar.

Rekaman CCTV.

Frame yang sama.

Tae Hyun di tengah kehancuran.

Dia memperhatikannya sekilas.

"…resolusi jelek."

"Cukup untuk mengenali postur."

"Banyak orang posturnya mirip."

"Tidak dengan yang ini."

Hening lagi.

Seo Rin menurunkan ponselnya.

"Namamu Kang Tae Hyun."

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Untuk pertama kalinya—

Tae Hyun diam sedikit lebih lama.

"…cepat juga."

"Tidak sulit."

Seo Rin melanjutkan dengan nada datar.

"Mahasiswa. Tidak terdaftar sebagai Hunter."

"Tidak punya catatan kriminal."

"Dan—"

Dia berhenti sejenak.

"…tidak ada riwayat kemampuan khusus."

Tae Hyun tersenyum tipis.

"Berarti aku normal."

Seo Rin tidak membalas senyuman itu.

"…itu masalahnya."

Hening.

Jauh di belakang, sebuah mobil berhenti.

Seorang pria keluar.

Park Do Jin.

Dia berdiri diam, memperhatikan dari jauh.

Tidak ikut campur.

Namun jelas—

Situasi ini penting.

Kembali ke depan.

Seo Rin melangkah setengah lingkaran.

Mengitari Tae Hyun sedikit.

"Orang normal tidak membuat tanah retak seperti itu."

"…mungkin tanahnya rapuh."

"Orang normal tidak membuat monster level boss mundur."

"…mungkin monsternya takut."

Seo Rin berhenti.

Tatapannya tajam.

"Kau suka bermain kata."

"Lebih seru."

Sunyi.

Namun kali ini—

Tension terasa lebih jelas.

Seo Rin menarik napas pelan.

"Baik."

Nada suaranya berubah.

Lebih dingin.

"Aku akan langsung saja."

Dia menatap Tae Hyun lurus.

"Siapa kau sebenarnya?"

Hening.

Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya.

Tae Hyun menatapnya balik.

Ekspresinya tetap santai.

Namun—

Di dalam dirinya—

Sesuatu bergerak.

Meridian terasa panas.

Seperti peringatan.

Jangan terlalu jauh.

Dia menghela napas pelan.

"Mahasiswa."

Jawaban yang sama.

Namun kali ini—

Lebih dingin.

Seo Rin menatapnya beberapa detik lagi.

Lalu—

Dia tersenyum tipis.

"Baik."

Dia berbalik.

"Untuk sekarang."

Langkahnya menjauh.

Namun sebelum benar-benar pergi—

Dia berhenti.

Tanpa menoleh—

Dia berbicara lagi.

"…aku akan menemukan jawabannya."

Tae Hyun tidak menjawab.

Seo Rin berjalan pergi.

Do Jin menatap Tae Hyun sejenak sebelum ikut pergi.

Tatapannya berbeda.

Bukan curiga.

Tapi waspada.

Sunyi kembali.

Tae Hyun berdiri sendiri.

Angin berhembus pelan.

Dia mengangkat tangannya sedikit.

Petir kecil muncul.

Lalu padam.

"…merepotkan."

Di tempat lain—

Di dalam sebuah ruangan rapat Hunter Association—

Beberapa layar menampilkan rekaman kejadian semalam.

Seorang pria tua berbicara pelan.

"Ini bukan Hunter."

Yang lain mengangguk.

"Kalau begitu… apa?"

Hening.

Tidak ada yang bisa menjawab.

Namun satu hal pasti—

Sesuatu telah masuk ke dalam dunia mereka.

Dan itu—

Tidak mengikuti aturan.

~~~•

More Chapters