Ficool

Chapter 6 - BAB 6 — Sisa dari Badai

Langit Seoul kembali cerah.

Terlalu cepat.

Seolah badai semalam tidak pernah terjadi.

Namun di bawahnya, kenyataan tidak bisa disembunyikan. Jalanan yang retak, kendaraan hancur, dan bangunan yang rusak menjadi bukti bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi.

Garis pembatas kuning membentang di mana-mana.

Petugas lalu-lalang tanpa henti.

Suasana berat.

Di pusat lokasi kejadian, seorang wanita berdiri diam di tengah aktivitas yang sibuk.

Rambut hitamnya terikat rapi. Tatapannya tajam, bergerak dari satu titik ke titik lain tanpa melewatkan detail sekecil apa pun.

Han Seo Rin.

Hunter Rank B, divisi investigasi lapangan.

"Jumlah korban?"

"Dua belas luka berat, tiga kritis. Tidak ada korban jiwa."

Seo Rin mengangguk pelan.

Matanya beralih ke pusat kehancuran.

Retakan di tanah membentuk pola yang tidak beraturan. Bekas ledakan menyebar luas, terlalu besar untuk ukuran boss biasa.

"…berlebihan," gumamnya.

Langkah kaki berat mendekat.

Seorang pria bertubuh besar berhenti di sampingnya.

Park Do Jin.

Leader tim respon cepat yang datang pertama kali semalam.

"Kau juga dipanggil, ya," katanya.

Seo Rin tidak menoleh.

"Kau ada di sini kemarin."

"Ya."

"Jelaskan."

Do Jin menghela napas pelan.

"Itu bukan gate biasa. Boss-nya… berubah di tengah pertarungan."

Seo Rin menyimpan informasi itu dalam pikirannya.

"Dan?"

Do Jin terdiam sejenak.

Tatapannya mengarah ke tanah yang retak.

"…ada seseorang."

Seo Rin akhirnya menoleh.

Tatapannya tajam.

"Lanjutkan."

"Seorang pemuda. Tanpa armor. Tanpa senjata."

"Hunter?"

"…bukan."

Hening sejenak.

Seo Rin menyipitkan mata.

"…tidak mungkin."

Do Jin menggeleng.

"Dia melukai boss itu… dengan tangan kosong."

Angin berhembus pelan.

Debu tipis bergerak di permukaan tanah.

Seo Rin tidak langsung menjawab.

Namun pikirannya bergerak cepat.

"Rekaman?"

Seorang staf mendekat, menyerahkan tablet.

"Kami menemukan beberapa CCTV, tapi kualitasnya buruk."

"Putar."

Video diputar.

Gambar goyah. Suara kacau.

Namun di salah satu frame—

Seorang pemuda tertangkap kamera.

Berdiri di tengah kehancuran.

Seo Rin memperbesar gambar.

Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat.

Namun cukup jelas.

Matanya sedikit menyipit.

"…aku pernah melihatnya."

Do Jin menoleh.

"Di mana?"

Seo Rin tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada layar.

Perasaan aneh muncul.

Ini bukan kebetulan.

Di sisi lain kota, suasana yang sangat berbeda terlihat di sebuah rumah sederhana.

Hangat.

Tenang.

Di dapur, seorang wanita sedang menata makanan di meja makan.

Gerakannya lembut. Ekspresinya tenang.

Kang Mi Sun.

Seorang guru sekolah dasar.

"Cepat turun, sarapan sudah siap," panggilnya.

Langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Kang Tae Hyun turun dengan santai.

Rambutnya sedikit berantakan, ekspresinya seperti biasa—tenang dan tanpa beban.

"Pagi."

"Pagi," jawab ibunya sambil tersenyum.

Di meja makan, seorang pria duduk dengan pakaian rapi.

Kacamata tipis bertengger di wajahnya. Tatapannya tajam meski terlihat santai.

Kang Joon Hyuk.

Pengacara.

Ayah Tae Hyun.

Di sampingnya, seorang pria tua membaca koran sambil tersenyum kecil.

Tubuhnya masih tegap. Tatapannya tajam seperti elang.

Kang Dae Shik.

Mantan marinir Korea.

"Kau pulang larut semalam," kata Joon Hyuk tanpa menoleh.

Tae Hyun duduk.

Mengambil roti.

"Macet."

Dae Shik tertawa kecil.

"Macet sampai bau darah?"

Hening.

Tae Hyun berhenti sejenak.

"…kena sedikit."

Ibunya langsung mendekat.

Tangannya memegang lengan Tae Hyun.

"Luka?"

"Sudah sembuh."

Tidak ada luka terlihat.

Namun mata Mi Sun sedikit berubah.

Dia tahu.

Joon Hyuk meletakkan cangkirnya.

"Gate itu tidak normal."

Tae Hyun diam.

"Dan seseorang menggunakan Qi."

Sunyi.

Dae Shik menurunkan korannya.

Senyumnya melebar.

"Itu kau, kan?"

Tae Hyun menghela napas pelan.

"…situasinya tidak bisa dibiarkan."

Joon Hyuk menutup matanya sejenak.

"Kau tahu aturannya."

"Jangan terlihat."

"Jangan ikut campur."

Tae Hyun menatapnya.

"Kalau orang mati di depan mata?"

Hening.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, suasana di meja makan berubah.

Dae Shik tertawa keras.

"Hahaha! Bagus!"

Dia menepuk meja.

"Ini baru cucuku!"

Joon Hyuk menghela napas panjang.

"Masalahnya bukan itu."

Tatapannya tajam.

"Masalahnya… sekarang kau sudah terlihat."

Sunyi kembali jatuh.

Mi Sun akhirnya berbicara pelan.

"Tae Hyun…"

"Tubuhmu bagaimana?"

"…sedikit panas."

Dae Shik langsung serius.

"Meridian?"

"…tertekan."

Joon Hyuk membuka matanya.

"Berapa gerbang?"

"…satu."

Ruangan menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

"Satu saja sudah seperti itu…" gumam Dae Shik.

Joon Hyuk berdiri.

"Mulai sekarang, kurangi penggunaan kekuatanmu."

"Tahan dirimu."

Dia berhenti sejenak.

"Kalau ada yang menyelidikimu…"

Tatapannya dingin.

"…hindari mereka."

Mi Sun menatapnya sebentar.

Namun tidak berkata apa-apa.

Kenangan lama terlintas di benak Tae Hyun.

Saat dia masih kecil.

Berdiri di halaman rumah.

Tubuhnya penuh luka.

Namun matanya tetap fokus.

"Jangan hanya kuat."

Suara Dae Shik terdengar berat.

"Kau harus tahu kapan harus menahan diri."

Hari demi hari berlalu.

Latihan tanpa henti.

Pukulan.

Tendangan.

Jatuh.

Bangkit.

Sampai suatu hari—

Petir kecil muncul di tangannya.

Semua orang diam.

Mi Sun tersenyum lembut.

Joon Hyuk menyipitkan mata.

Dan Dae Shik tertawa keras.

"Kau akhirnya bangkit!"

Kenangan itu memudar.

Tae Hyun kini berjalan keluar rumah.

Tas di bahunya.

Ekspresinya kembali santai.

Seolah tidak ada yang berubah.

Namun langkahnya berhenti sejenak.

Dia merasakan sesuatu.

Tatapan.

Dari seberang jalan.

Han Seo Rin berdiri di sana.

Diam.

Mengamatinya.

"…akhirnya ketemu," gumamnya pelan.

Tae Hyun tidak langsung menoleh.

"…ngikutin orang itu nggak sopan," katanya santai.

Seo Rin tersenyum tipis.

"Instingmu bagus."

Tae Hyun akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya—

Dua dunia saling berhadapan.

Sistem.

Dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sistem.

~~~•

More Chapters