Ficool

Chapter 9 - BAB 9 — Tekanan dari Atas

Langit Seoul tetap tenang.

Namun di balik ketenangan itu—

Gelombang besar sedang bergerak.

Di dalam gedung Hunter Association, suasana jauh dari kata santai.

Sebuah ruang rapat utama dipenuhi aura serius.

Di ujung meja panjang—

Seorang pria tua duduk dengan tenang.

Tatapannya tajam meski usianya tidak lagi muda.

Aura kepemimpinannya tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan.

Go Gun-Hee.

Ketua Hunter Association Korea.

Di hadapannya—

Han Seo Rin berdiri tegak.

Di sampingnya, Park Do Jin dan Choi Min Seok membawa laporan.

"Mulai," ujar pria tua itu pelan.

Seo Rin membuka berkas.

"Kejadian gate tiga hari lalu menunjukkan anomali yang tidak terdaftar dalam sistem."

Dia menatap lurus ke depan.

"Seorang individu, tidak terdaftar sebagai Hunter, berhasil mengalahkan boss yang mengalami evolusi."

Hening.

Go Gun-Hee tidak langsung bereaksi.

"Bukti?"

Min Seok maju.

"Rekaman terbatas, tapi cukup untuk mengonfirmasi kehadiran subjek."

"Dan hasil uji?"

Do Jin menjawab.

"Output kekuatan minimal setara Rank B atas… dengan indikasi penahanan kekuatan."

Hening kembali.

Tatapan Go Gun-Hee sedikit berubah.

"…menahan diri."

Dia mengulang kata itu pelan.

Seo Rin mengangguk.

"Ya."

"Dan?"

Seo Rin menarik napas pelan.

"Subjek bersedia datang untuk tes… dengan syarat didampingi oleh pihak keluarga."

"Menarik."

Go Gun-Hee menutup matanya sejenak.

Tidak terdaftar.

Tidak terdeteksi.

Namun memiliki kekuatan di atas standar.

Dia membuka matanya kembali.

"Nama."

"Kang Tae Hyun."

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

"Jangan sentuh dia secara paksa."

Semua orang sedikit terkejut.

Seo Rin mengangkat pandangan.

"Ketua?"

Go Gun-Hee menyandarkan tubuhnya.

"Ada dua kemungkinan."

"Pertama—dia adalah aset."

"Dan kedua—"

Tatapannya menjadi lebih dalam.

"…dia adalah ancaman yang belum kita pahami."

Hening.

"Dalam kedua kasus," lanjutnya, "memaksa hanya akan memperburuk situasi."

Seo Rin mengangguk pelan.

"Jadi?"

Go Gun-Hee menghela napas ringan.

"Negosiasi."

"Kita ajak dia masuk… tanpa memaksanya."

Namun—

Di luar ruangan itu—

Keputusan tersebut tidak akan berjalan semudah yang dibayangkan.

Beberapa jam setelah rapat selesai—

Informasi mulai bocor.

Tidak lengkap.

Tidak jelas.

Namun cukup.

Dan itu sampai ke tempat yang tidak seharusnya.

Sebuah gedung tinggi di pusat kota.

Logo guild terpampang jelas.

Baekho Guild.

Di dalam ruangannya—

Seorang pria besar duduk dengan santai.

Namun aura yang keluar darinya berat.

Baek Yoonho.

Dia menatap laporan di tangannya.

"Menarik."

Di depannya, seorang staf berbicara.

"Informasi masih terbatas, tapi subjek diduga bukan Hunter."

Baek Yoonho tersenyum tipis.

"Lebih menarik lagi."

Di tempat lain—

Gedung berbeda.

Atmosfer lebih dingin.

Lebih terorganisir.

Hunters Guild.

Seorang pria berdiri di depan jendela.

Choi Jong-In.

Matanya tenang.

Namun pikirannya bekerja cepat.

"Seorang individu di luar sistem…"

Dia berbalik.

"Ambil semua data yang ada."

"Dan hubungi Association."

"Kalau mereka tidak mau berbagi…"

Dia tersenyum tipis.

"…kita paksa."

Kembali ke Hunter Association.

Tekanan mulai terasa.

"Permintaan data meningkat drastis."

Min Seok berbicara cepat di ruang kontrol.

"Beberapa guild besar meminta akses penuh."

Seo Rin menyilangkan tangan.

"Dan?"

"Mereka tidak akan menerima penolakan."

Hening.

Seo Rin menatap layar.

Nama itu muncul lagi.

Kang Tae Hyun.

"…cepat sekali," gumamnya.

Sementara itu—

Di sebuah rumah sederhana—

Suasana jauh lebih serius dari biasanya.

Kang Joon Hyuk duduk diam di ruang tamu.

Di depannya—

Laptop terbuka.

Beberapa data ditampilkan.

Kang Dae Shik berdiri di dekat jendela.

Tangannya terlipat.

Tatapannya keluar.

"Sudah mulai bergerak," katanya pelan.

Tae Hyun duduk santai di sofa.

"Dari kemarin juga udah."

Joon Hyuk menutup laptopnya.

"Ini beda."

Dia menatap Tae Hyun lurus.

"Sekarang bukan cuma Association."

"Guild juga mulai ikut campur."

Hening.

Mi Sun keluar dari dapur.

"Seberapa serius?"

Joon Hyuk menjawab tanpa ragu.

"Kalau salah langkah…"

"…kita bisa jadi target."

Sunyi.

Namun tidak ada kepanikan.

Hanya ketenangan yang berat.

Dae Shik tersenyum tipis.

"Hahaha… akhirnya menarik juga."

Mi Sun menatapnya.

"Ini bukan permainan."

Dae Shik mengangkat bahu.

"Aku tahu."

Lalu dia menatap Tae Hyun.

"Pertanyaannya sekarang…"

"…kau mau bagaimana?"

Semua mata tertuju padanya.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Tae Hyun menghela napas pelan.

"…ribet."

Jawaban jujur.

Namun matanya—

Berbeda.

Lebih dalam.

"Kalau mereka datang?"

tanya Joon Hyuk.

"…hadapin."

Jawaban singkat.

Namun cukup.

Dae Shik tersenyum lebar.

"Bagus."

Mi Sun menghela napas pelan.

"…jangan sampai terlalu jauh."

Tae Hyun berdiri.

"Selama mereka nggak ganggu…"

Dia berjalan menuju pintu.

"…gue juga santai."

Namun—

Di luar sana—

Tidak semua orang akan bermain santai.

Di sebuah jalan yang ramai—

Seseorang berdiri diam.

Matanya tertuju pada satu arah.

Menunggu.

Dan kali ini—

Pendekatan tidak akan halus lagi.

~~~•

More Chapters