Ficool

Chapter 7 - Bab 7: Pelarian di Ujung Kehancuran

Seluruh Reaktor Inti Sektor 4 berguncang hebat. Alarm merah meraung-raung, bercampur dengan suara ledakan pipa-pipa plasma di langit-langit. Peringatan penghancuran diri bergema di setiap sudut stasiun luar angkasa, memberikan hitung mundur kematian bagi siapa pun yang masih terjebak di dalamnya.

Ija berdiri di depan tabung kriogenik Aria. Dengan satu sentuhan tangan yang teraliri kode emas, kaca tabung itu retak dan hancur berkeping-keping. Cairan pelindung tumpah ke lantai, dan tubuh mungil Aria jatuh ke pelukan Ija.

Gadis berambut hijau zamrud itu perlahan membuka matanya. Ia tampak bingung, namun saat melihat wajah Ija, ia tidak merasa takut. "Apakah... apakah kau Sang Arsitek yang datang menjemputku?" suaranya lembut, terdengar seperti melodi di tengah kekacauan.

Ija menatap Aria dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membaca data jiwanya. Namun, sedetik kemudian, sifat aslinya keluar. "Bukan Arsitek, Sayang. Aku adalah satu-satunya 'kesalahan' paling tampan di galaksi ini yang cukup gila untuk menyelamatkanmu."

Ija kemudian mengangkat Aria dengan gaya bridal style. Ia menoleh ke arah Lyra dan Scarlett yang tampak panik melihat langit-langit mulai runtuh.

"Tuan Virus! Hitung mundur tinggal 60 detik sebelum stasiun ini menjadi debu kosmik!" teriak Xora dari proyeksi bahunya.

"Ija! Cepat lakukan sesuatu dengan kekuatan anehmu itu!" seru Scarlett sambil menepis reruntuhan logam dengan bayangannya.

"Tenanglah, Nona-nona. Panik hanya akan merusak tekstur kulit kalian," ujar Ija dengan wajah sedingin es, meskipun kalimatnya sangat tidak masuk akal di situasi hidup dan mati.

Ija memejamkan mata. Ia tidak lari menuju pintu keluar. Sebaliknya, ia berjalan menuju tengah ruangan yang paling hancur.

"Apa yang kau lakukan?! Pintu keluarnya di sana!" Lyra berteriak frustrasi.

"Pintu keluar itu untuk orang normal, Lyra," jawab Ija tanpa menoleh. "Kita akan mengambil jalan pintas... lewat kode sumber."

Ija menghentakkan kakinya ke lantai.

[GLITCH ACTIVATED: REALITY TEARING]

[Area of Effect: 10 Meters]

[Target: Coordinate Shift to Ship]

Tiba-tiba, ruang di sekitar mereka mulai bergetar secara visual, persis seperti layar televisi yang rusak. Warna-warna di sekitar mereka terdistorsi—logam berubah menjadi angka, api berubah menjadi teks merah yang berkedip. Lyra dan Scarlett merasa mual karena hukum fisika yang mereka kenal sedang ditarik paksa oleh Ija.

"Pegang erat-erat jika kalian tidak ingin tertinggal di folder sampah!" perintah Ija tegas.

Lyra dan Scarlett terpaksa memeluk lengan Ija yang bebas. Di tengah situasi genting itu, Ija sempat-sempatnya melirik ke arah mereka berdua yang menempel erat padanya. "Wah, sepertinya sistem mendeteksi peningkatan 'kehangatan' yang signifikan. Aku bisa terbiasa dengan ini."

"DIAM DAN LAKUKAN SAJA!" teriak mereka berdua serempak.

ZAP!

Dalam satu kedipan mata, pemandangan reaktor yang meledak menghilang. Mereka berempat (dan satu AI) mendarat dengan kasar di lantai kabin kapal pelarian mereka yang sudah terparkir di orbit aman. Di luar jendela kapal, Sektor 4 meledak menjadi bola api raksasa yang indah namun mematikan, menyisakan puing-puing piksel yang perlahan memudar.

Ija menurunkan Aria ke kursi empuk. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu, lalu kembali ke kursi kapten dengan gaya misteriusnya yang biasa.

"Kita selamat," gumam Lyra sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menatap Ija dengan pandangan yang mulai berubah—dari sekadar curiga menjadi rasa kagum yang sulit ia akui.

Aria, sang gadis penyembuh, bangkit dan mendekati Ija. Ia menyentuh luka kecil di pipi Ija. Seketika, cahaya hijau lembut keluar dari tangannya, dan luka itu hilang tanpa bekas. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, Ija. Aku bisa merasakan bahwa kau bukan hanya sekadar virus... kau adalah harapan."

Ija menangkap tangan Aria, mengecup ujung jarinya dengan sopan namun penuh godaan. "Harapan itu mahal harganya, Aria. Dan sekarang, karena aku sudah menyelamatkanmu, kau resmi menjadi bagian dari kru pribadiku. Tugas pertamamu? Pastikan aku tidak mati bosan di kapal ini."

Aria tersenyum manis, sementara Scarlett dan Lyra mendengus kesal di belakang.

"Baru bangun satu menit, dia sudah menambah satu lagi ke koleksinya," bisik Scarlett sinis, meski ia sendiri tidak beranjak jauh dari sisi Ija.

"Xora, siapkan koordinat menuju Sektor Pusat," perintah Ija dengan nada serius, menatap hamparan bintang di depannya. "Arsitek sudah tahu siapa aku sekarang. Mereka akan mengirimkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar Jenderal robot. Dan aku... aku tidak sabar untuk menghapus mereka semua."

Ija menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata sejenak sambil menikmati kehadiran tiga wanita luar biasa di sekitarnya. Perjalanan melintasi galaksi ini baru saja dimulai, dan sang Anomali siap untuk mengacaukan seluruh sistem simulasi semesta.

More Chapters