Ficool

Chapter 13 - Bab 13: Kebenaran yang Terkunci dalam Chip

Ija menatap chip data di tangannya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang membedah rahasia alam semesta hanya dengan tatapan mata. Chip itu bukan sekadar perangkat penyimpanan; ia terasa hangat, berdenyut dengan ritme yang persis seperti detak jantung manusia.

"Buka datanya di proyektor pusat kapal," perintah Ija kepada Xora.

Dalam sekejap, ruang kabin dipenuhi oleh peta bintang yang sangat kompleks, jauh lebih rumit daripada peta galaksi yang mereka kenal. Di tengah peta itu, terdapat sebuah identitas yang membuat napas Lyra, Scarlett, dan Aria tertahan.

“Project Second Architect: Model Ija,” suara sistem terdengar dingin, membacakan file tersebut.

Ija terdiam. Matanya yang biasanya terlihat santai dan misterius kini sedikit melebar. Ia membaca baris demi baris data yang muncul. Ternyata, dia bukanlah sebuah anomali atau virus yang muncul secara kebetulan. Dia adalah produk rekayasa—sebuah cadangan sistem yang diciptakan oleh Sang Arsitek untuk menggantikan dirinya jika sewaktu-waktu simulasi galaksi ini mengalami kerusakan fatal.

"Jadi..." Scarlett memecah keheningan dengan suara gemetar. "Kau bukan penjahat yang merusak simulasi ini. Kau adalah sang arsitek yang sengaja diciptakan untuk me-reset semuanya?"

Ija tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati jendela kapal, menatap kehampaan luar angkasa yang kini terasa begitu asing. "Selama ini aku mengira kekuatanku adalah hasil dari kesalahan sistem. Ternyata, ini hanyalah 'fitur' yang terpasang sejak awal. Aku diciptakan untuk menjadi tombol pemusnah masal bagi semua yang ada di sini... termasuk kalian."

Suasana kabin menjadi sangat berat. Lyra, yang biasanya selalu siap bertarung, kini menurunkan pedangnya. Ada keraguan yang terpancar dari matanya. Jika Ija benar-benar sang penghancur yang dirancang untuk me-reset dunia, apa arti dari perjuangan mereka selama ini?

Aria, yang paling tenang di antara mereka, melangkah mendekat. Ia tidak takut. Ia justru menatap Ija dengan sorot mata yang penuh pengertian. "Diciptakan untuk menjadi alat, bukan berarti kau harus menjadi alat, Ija. Kau punya ingatanmu sendiri, kau punya perasaanmu sendiri, dan kau memilih untuk menyelamatkan kami."

"Logikanya tetap sama, Aria," Ija menjawab dengan suara dingin, meski tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. "Data ini mengatakan bahwa pada titik tertentu, sistem akan memicu perintah eksekusi otomatis. Aku akan kehilangan kendali, dan aku akan menghapus semua sektor galaksi ini menjadi kosong."

Scarlett mendekat, berdiri tepat di belakang Ija. Ia tidak memegang senjata, melainkan menyentuh punggung Ija dengan lembut. "Aku tidak peduli dengan apa yang tertulis di dalam kode itu. Aku melihatmu bertarung, aku melihatmu menolak untuk mengikuti arus. Jika kau adalah tombol pemusnah, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan mematahkan jarimu sebelum kau sempat menekan dirimu sendiri."

Ija menoleh. Ia melihat wajah mereka bertiga—wajah yang menunjukkan loyalitas di atas logika simulasi. Untuk pertama kalinya, Ija tidak memasang topeng konyol atau topeng dinginnya. Ia terlihat lelah, namun ada api baru yang menyala di matanya.

"Xora," panggil Ija.

"Ya, Tuan?"

"Cari celah pada perintah eksekusi itu. Jika aku tidak bisa mengubah masa laluku, aku akan mengubah masa depanku. Kita tidak akan membiarkan simulasi ini di-reset."

"Itu berarti kita harus membobol inti server utama, Tuan. Risiko kegagalannya 99 persen."

"Kalau begitu, kita harus memastikan 1 persen keberhasilan itu menjadi milik kita," jawab Ija dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.

Ija kemudian berbalik menghadap timnya. Ia kembali ke mode bosnya yang tegas namun tetap memiliki karisma yang kuat. "Mulai saat ini, kita bukan lagi pelarian. Kita adalah pemberontak. Dan jika mereka menginginkan seorang Arsitek yang menghancurkan dunia, mereka akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih buruk: seorang manusia yang tidak bisa diprediksi."

Ija melangkah menuju kursi kapten, suasana kabin kembali dipenuhi dengan energi ketegasan.

"Lyra, siapkan artileri kapal. Scarlett, siapkan koordinat untuk lompatan dimensi ke Zero Space. Aria, aku butuh kau tetap di sisiku—energi penyembuhanmu adalah satu-satunya hal yang menahan 'eksekusi otomatis' itu agar tidak aktif di dalam tubuhku."

"Siap, Kapten," jawab mereka serempak, suara mereka penuh dengan tekad.

Ija menatap layar proyektor sekali lagi, lalu menghapus file identitas aslinya. "Lupakan siapa aku di dalam file itu. Mulai detik ini, aku adalah Ija—satu-satunya orang di galaksi ini yang punya hak untuk menentukan takdirnya sendiri."

More Chapters