Ficool

Chapter 9 - Bab 9: Planet Oasis dan Rahasia di Balik Pasir Putih

Kapal pelarian mereka membelah kabut nebula pelangi sebelum akhirnya mendarat dengan mulus di pesisir Planet Oasis. Sesuai namanya, planet ini adalah anomali visual di tengah galaksi yang dingin. Langitnya berwarna biru toska dengan dua matahari kembar yang memberikan pencahayaan sinematik—seolah seluruh tempat ini diambil dari potongan film romantis kelas atas.

Ija melangkah keluar dari palka kapal, menghirup udara yang terasa terlalu segar. Di matanya, udara ini memiliki "resolusi" yang lebih tinggi daripada planet tambang K-18.

"Tempat ini... terlalu indah untuk menjadi nyata," gumam Lyra, matanya berbinar menatap hamparan laut yang airnya sebening kristal.

"Tentu saja tidak nyata," sahut Ija datar sambil menyesuaikan letak jubah hitamnya. "Oasis adalah folder karantina. Arsitek membangun tempat ini untuk menampung data-data yang terlalu cantik untuk dihapus, tapi terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas. Ini adalah penjara berlapis emas."

Ija kemudian menoleh ke arah ketiga wanitanya. Scarlett tampak sedang melepas sepatu bot kulitnya yang berat, sementara Aria terlihat sangat menikmati angin yang memainkan rambut hijau zamrudnya.

"Karena kita berada di penjara paling mewah di galaksi," Ija melanjutkan dengan nada tegas namun ada kilatan nakal di matanya. "Perintah pertamaku adalah: Ganti pakaian kalian. Aku tidak ingin melihat seragam tempur yang kaku di pantai sesempurna ini. Itu merusak logika visual sistemku."

"Maksudmu... kau ingin kami memakai pakaian renang?" Scarlett mengangkat alis, menatap Ija dengan senyum menantang.

"Sebagai kapten, aku harus memastikan moral kru tetap tinggi. Dan moral tinggi dimulai dari pemandangan yang... estetik," jawab Ija tanpa keraguan sedikit pun, wajahnya tetap sedingin es seolah ia baru saja memberikan instruksi perang.

Xora muncul di samping Ija, kini mengenakan bikini hologram yang sangat berani. "Aku sudah menyiapkan beberapa opsi desain untuk mereka, Tuan! Semakin minim bahannya, semakin sedikit beban data yang harus diproses kapal!"

"Bagus, Xora. Kau asisten yang sangat pengertian," puji Ija serius.

Satu jam kemudian, suasana di tepi pantai Oasis menjadi medan pertempuran baru—bukan pertempuran senjata, melainkan pertempuran pesona.

Lyra muncul dengan bikini olahraga berwarna biru gelap yang memperlihatkan tubuh atletisnya yang kencang. Ia tampak canggung, terus-menerus mencoba menutupi perutnya yang berotot. Sementara itu, Scarlett tidak ragu sama sekali; ia mengenakan pakaian renang one-piece merah menyala dengan potongan tinggi yang menonjolkan kaki jenjangnya yang mematikan.

Aria adalah yang paling kontras. Ia mengenakan gaun pantai putih transparan yang berkibar ditiup angin, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari dimensi lain.

Ija duduk di bawah pohon palem digital, mengenakan kacamata hitam yang bisa memindai tingkat kekuatan (dan hal lainnya) dari ketiga wanita di depannya.

"Ija, berhenti menatap seperti itu!" seru Lyra, wajahnya memerah padam. "Kau bilang ada rahasia gelap di planet ini, tapi kau justru asyik berjemur!"

Ija menurunkan kacamatanya sedikit, menatap mereka dengan pandangan misterius yang mendalam. "Rahasia itu tidak akan lari ke mana-mana, Lyra. Tapi momen ini? Ini adalah glitch dalam takdir. Dan aku berniat menikmatinya sebelum kita menghancurkan langit planet ini."

Tiba-tiba, Ija berdiri. Ia mendekati Scarlett yang sedang berbaring di pasir. "Scarlett, kau bilang kau adalah pembunuh bayaran terbaik. Tapi sepertinya kau melewatkan satu hal."

Ija berlutut di sampingnya, membuat Scarlett menahan napas. Tangan Ija bergerak menuju leher Scarlett, namun bukannya menyerang, ia hanya membenarkan tali pakaian renang Scarlett yang sedikit miring.

"Tali ini... jika tidak simetris, akan mengganggu keseimbangan Shadow Dagger-mu nanti," bisik Ija tepat di telinga Scarlett. "Dan aku tidak ingin asistenku terluka hanya karena masalah pakaian."

Scarlett terpaku, jantungnya berdegup kencang. Pria ini bisa menjadi iblis pembantai dalam satu detik, dan menjadi penggoda yang sangat perhatian di detik berikutnya.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Xora tiba-tiba berteriak dengan nada panik yang jarang terdengar.

"TUAN! DETEKSI ANOMALI BESAR! Langit... langitnya sedang mengalami rendering ulang!"

Ija mendongak. Matahari kembar di atas mereka mendadak membeku. Langit biru toska itu mulai retak, menampakkan kegelapan hampa yang dipenuhi barisan kode berwarna merah darah. Suara dentuman besar terdengar dari cakrawala.

Sebuah bayangan raksasa menutupi seluruh pantai. Dari balik retakan langit, sebuah kapal perang berbentuk salib perak turun perlahan. Di atas dek kapal itu berdiri tujuh sosok berjubah putih dengan aura yang sanggup menekan gravitasi planet tersebut.

"The Seven Apostles," gumam Ija, wajah konyolnya hilang seketika, digantikan oleh aura dingin yang mampu membekukan lautan di depannya. "Arsitek benar-benar tidak sabar ingin menghapusku."

Ija menarik pedang plasmanya yang kini berpijar dengan warna hitam-emas. Ia menoleh ke arah haremnya yang sudah bersiaga.

"Nona-nona, liburannya selesai," ucap Ija dengan nada tegas yang mematikan. "Aria, siapkan buff penyembuhanmu. Lyra, Scarlett, kita akan menunjukkan pada para Rasul ini... apa yang terjadi jika mereka mencoba mengganggu waktu santai seorang Anomali."

More Chapters