Tidak semua yang datang dari luar…
adalah hal baru.
Sebagian—
adalah masa lalu yang kembali mengetuk.
GEDUNG PELNI KEMAYORAN — MALAM
Gedung itu tetap berdiri seperti biasa.
Lampu menyala.
Lift berjalan.
Namun malam ini—
tidak ada yang benar-benar biasa.
Security di lobby saling melirik.
“Mas…”
“Iya?”
“Mobil GWM lagi…”
Yang lain mengangguk.
“Iya… dari tadi keluar masuk terus…”
“Padahal biasanya juga sering…”
Ia berhenti.
“…cuma nggak segini rame.”
Di layar CCTV—
terlihat jelas:
B 2777 GWMB 234 GWM
Masuk dan keluar.
Namun bukan itu yang membuat mereka bingung.
Yang aneh adalah—
semua terlihat seperti… operasi.
“…ini bukan sekadar kantor ya…” 😐
Namun mereka diam.
Karena mereka tahu—
GWM punya pengaruh.
Dan Doni—
bukan orang yang bisa mereka tanya.
BASEMENT — PARKIR KHUSUS
Pertemuan singkat terjadi.
Ika.
Korin.
Doni.
Pelukan.
Kekhawatiran.
Namun hanya sebentar.
Karena malam ini—
tidak memberi waktu untuk keluarga.
Mereka kembali pergi.
Dikawal.
Menjauh dari satu titik—
yang justru menjadi pusat dunia.
RUMAH DONI — MALAM
Julio duduk di lantai.
Sri di sampingnya.
Televisi menampilkan berita.
“Fenomena misterius di Jakarta…”
Julio melihat layar.
“Bu…”
“Iya?”
“Papa terkenal ya sekarang…”
Sri tersenyum tipis.
“…Papa dari dulu juga begitu.”
Namun kali ini—
tidak ada rasa bangga.
Hanya kekhawatiran.
GEDUNG PELNI — RUANG KONTROL
Layar utama menyala.
INCOMING CALL — ENCRYPTED CHANNEL
Yuri langsung tegang.
“Pak… ini dari luar negeri.”
Mayjen Okta:
“Identifikasi.”
Yuri menelan ludah.
“…Amerika.”
Sunyi.
LAYAR TERBUKA
Seorang pria muncul.
Ruangannya dingin.
Formal.
Logo di belakangnya jelas.
Pentagon.
MR. DANIEL DOROW ROOSCHOM
Ia menatap langsung.
“Good evening.”
Namun sebelum ia melanjutkan—
Doni sudah bicara lebih dulu.
“Kamu telat.”
Sunyi.
Yuri menoleh cepat.
Mayjen Okta menyipitkan mata.
Daniel berhenti sejenak.
Lalu—
untuk pertama kalinya—
ia tersenyum tipis.
“Seperti biasa.”
MOMEN BERUBAH
Suasana berubah.
Ini bukan pertemuan pertama.
Ini bukan hubungan baru.
FLASHBACK HALUS — TAHUN 2020
Ruangan berbeda.
Lebih hangat.
Tidak formal.
Tidak ada layar besar.
Hanya meja makan.
Dan beberapa orang duduk.
Doni.
Daniel.
Dua pria asing lainnya.
Mr. Anthony.Mr. Mathew.
Pembicaraan tidak terdengar jelas.
Namun suasananya—
bukan pertemuan resmi.
Lebih seperti…
keluarga yang sedang berbicara serius.
KEMBALI KE SEKARANG
Yuri berbisik pelan:
“…mereka sudah pernah bertemu…”
Profesor Arief menjawab tenang:
“Sudah lama.”
DANIEL
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Ia menatap langsung ke Doni.
“Situasi sudah berubah.”
Sunyi.
MAYJEN OKTA
Bersuara tegas:
“Ini wilayah Indonesia.”
Daniel mengangguk.
“Tentu.”
Namun kali ini—
nada suaranya berbeda.
“Dan itu sebabnya kami harus masuk.”
Sunyi.
YURI
“Masuk…?”
Daniel:
“Pasukan khusus kami sudah standby.”
“Deployment bisa dilakukan kapan saja.”
Ruangan langsung tegang.
MAYJEN OKTA
“Kami tidak meminta bantuan.”
Daniel tidak mundur.
“Ini bukan bantuan.”
Ia berhenti.
“…ini pencegahan.”
MOMEN INTI
Doni melangkah maju.
Tatapannya dingin.
“Kalau kamu masuk…”
Sunyi.
“…itu bukan pencegahan.”
Ia menatap langsung.
“Itu invasi.”
Sunyi.
DANIEL
Untuk pertama kalinya—
tidak langsung menjawab.
Ia menghela napas pelan.
“Empat tahun lalu…”
Ia menatap Doni.
“…kita sepakat menjaga keseimbangan.”
Sunyi.
“Sekarang keseimbangan itu hilang.”
DONI
Tidak bergerak.
“Belum.”
Satu kata.
Namun penuh arti.
DANIEL
“Kamu yakin?”
Sunyi.
PROF ARIEF
Melihat keduanya.
“Ini bukan lagi soal siapa yang benar.”
“…ini soal siapa yang terlambat.”
MOMEN TERAKHIR
Layar tetap menyala.
Dua dunia saling menatap.
Masa lalu.
Dan masa depan.
LAST LINE
“Dan kali ini…”
“…tidak semua orang akan menunggu izin.”
