Ficool

Chapter 3 - Chapter 3 – Nggak Lagi Sama

Beberapa minggu berlalu.

Nggak ada yang benar-benar berubah.

Tapi ada yang terasa beda.

Sekarang Maya lebih sering duduk bareng Arsen di kelas. Awalnya cuma karena satu kelompok. Lama-lama jadi kebiasaan.

Rafi tetap di bangkunya.

Biasanya Maya bakal noleh ke belakang sebelum pelajaran mulai. Senyum. Atau sekadar angkat alis kecil.

Sekarang nggak selalu.

Kadang dia terlalu asyik ngobrol.

Rafi lihat semuanya. Dia nggak bilang apa-apa.

Jam istirahat.

Biasanya Maya langsung nyari dia.

Hari itu Rafi sudah duduk di meja ujung kantin. Nggak sengaja dengar suara Maya ketawa dari meja lain.

Bukan ketawa kecil.

Ketawa lepas.

Dia nengok pelan.

Maya duduk bareng Arsen dan dua anak lain. Lagi cerita sesuatu. Tangannya gerak-gerak heboh. Wajahnya cerah banget.

Rafi balik lagi lihat gelas di depannya.

Tangannya dingin.

Beberapa menit kemudian ponselnya bunyi.

Maya:

Raf, maaf ya aku di sini dulu. Nanti pulang bareng nggak?

Rafi baca pesannya lama.

Dulu dia nggak perlu dikasih tahu.

Karena mereka memang selalu bareng.

Sekarang harus pakai "nanti ya".

Dia balas singkat.

Rafi:

Iya.

Dia nggak marah.

Cuma… ada rasa yang turun sedikit di dalam dada.

Jam pulang.

Rafi berdiri di gerbang sekolah, nunggu.

Maya lari kecil ke arahnya. "Maaf lama."

"Iya."

Mereka jalan bareng seperti biasa. Tapi obrolannya nggak sama.

Maya lebih banyak cerita soal Arsen.

"Ternyata dia gampang diajak ngobrol."

"Dia tadi bela aku waktu diskusi."

"Kayaknya dia perhatian deh."

Rafi dengerin. Masih.

Tapi sekarang rasanya beda.

Biasanya dia bisa masuk ke ceritanya. Bisa ikut bercanda.

Sekarang dia cuma jalan di sampingnya.

Kayak penonton.

Sampai di pertigaan, Maya berhenti.

"Raf."

"Iya?"

"Kamu nggak apa-apa kan?"

Rafi nengok. "Kenapa emang?"

"Kamu akhir-akhir ini kayak… beda."

Rafi hampir ketawa.

Beda?

Yang beda itu bukan dia.

"Enggak kok," jawabnya pelan. "Kamu aja yang lagi seneng."

Maya senyum. "Iya sih."

Jawaban yang jujur. Dan justru itu yang bikin sesak.

Mereka pisah jalan.

Rafi jalan sendirian ke rumah.

Langkahnya biasa aja. Nggak buru-buru.

Dia sadar satu hal kecil sore itu.

Maya masih cerita ke dia.

Masih ngajak pulang bareng.

Masih nyari dia.

Tapi sekarang dia bukan lagi orang pertama yang dicari.

Dan anehnya, hal sekecil itu bisa bikin dada terasa kosong.

Malamnya, nggak ada chat dari Maya.

Biasanya ada.

Cuma satu pesan pun nggak.

Rafi buka layar ponselnya beberapa kali. Nunggu notifikasi yang nggak datang.

Akhirnya dia sadar.

Retaknya nggak berisik.

Nggak ada marah.

Nggak ada teriak.

Cuma jarak yang tumbuh pelan-pelan.

Dan yang bikin sakit bukan karena Maya ninggalin.

Tapi karena Rafi tahu…

dia nggak pernah benar-benar punya posisi yang pasti dari awal.

More Chapters