Ficool

Chapter 7 - Chapter 7 — Pelan-Pelan Pergi

Rafi akhirnya capek.

Bukan capek nunggu chat dibales.

Bukan capek nganter Maya pulang.

Bukan capek pura-pura kuat tiap denger nama cowok lain keluar dari mulutnya.

Capek berharap.

Sore itu, dia duduk sendirian di tribun lapangan. Tempat yang dulu sering mereka pakai buat ngobrol sambil lihat anak-anak latihan futsal. Anginnya sama. Suasananya sama. Tapi rasanya beda banget.

Dulu, Maya duduk di sampingnya.

Sekarang, yang duduk cuma bayangannya.

Dia buka galeri. Scroll pelan. Foto-foto random—tugas kelompok, selfie jelek bareng, video Maya ketawa karena rambut Rafi kena lembaran kertas yang diterbangin angin.

Rafi senyum tipis.

Terus matanya panas.

"Kayaknya emang harus berhenti ya…" gumamnya pelan.

Bukan karena dia nggak sayang.

Justru karena terlalu sayang.

Kalau terus begini, yang hancur cuma dia.

Maya makin jarang nyari Rafi duluan.

Kalau papasan, cuma senyum biasa.

Kalau ngobrol, seperlunya.

Rafi bisa ngerasa.

Maya pelan-pelan ngelepas.

Dan yang paling nyakitin… Maya kayak nggak sadar dia lagi ngelepas siapa.

Suatu hari, Rafi liat Maya duduk di kantin bareng cowok itu lagi. Ketawa. Deket banget. Maya naruh tangan di meja, dan cowok itu sengaja nyenggol jarinya pelan.

Maya nggak narik tangan.

Rafi berdiri cukup lama dari jauh.

Nunggu.

Siapa tau Maya nengok.

Siapa tau Maya sadar dia lagi liatin.

Tapi nggak.

Dia pergi sebelum Maya sempat lihat.

Dan untuk pertama kalinya…

Rafi nggak ngerasa pengen balik lagi.

Nadira mulai sering ada.

Waktu Rafi lagi sendirian di kelas karena anak-anak lain udah pulang, Nadira masuk pelan.

"Belum pulang?"

Rafi geleng. "Nanti."

Nadira duduk di bangku depan dia. Nggak terlalu deket. Tapi cukup buat nunjukin dia milih buat ada di situ.

Beberapa menit mereka diem.

Nadira yang buka suara duluan.

"Kamu nggak harus selalu kuat sendirian."

Rafi langsung nengok.

"Kamu tau apa?"

Nadira senyum kecil.

"Tau kok rasanya nunggu orang yang nggak pernah benar-benar milih kamu."

Rafi diam.

Kalimat itu… nusuk.

Nadira lanjut pelan, "Capek kan? Tapi tetap bertahan karena takut kalau lepas… nggak ada lagi yang bisa kamu pegang."

Rafi nunduk. Tangannya ngepal.

"Gue bukan takut nggak ada yang bisa dipegang," suaranya serak. "Gue takut ternyata dari awal emang nggak pernah dipegang."

Itu keluar gitu aja.

Dan untuk pertama kalinya, ada orang yang denger kalimat itu tanpa ngejawab pakai saran basi.

Nadira cuma bilang, "Kalau suatu hari kamu lepas, bukan berarti kamu kalah. Bisa jadi kamu cuma lagi nyelametin diri sendiri."

Minggu-minggu berikutnya, Rafi berubah.

Dia nggak lagi nunggu Maya di gerbang.

Nggak lagi nawarin diri buat anter pulang.

Nggak lagi langsung dateng tiap Maya manggil.

Dan Maya mulai ngerasa ada yang beda.

Awalnya biasa aja.

Lama-lama… kosong.

Suatu sore, Maya refleks cari Rafi di kelas. Biasanya ada. Biasanya duduk di pojok sambil main HP nunggu dia selesai les.

Sekarang bangkunya kosong.

"Rafi kemana?" tanya Maya ke temannya.

"Udah pulang. Sama Nadira kayaknya."

Nama itu bikin Maya berhenti.

Maya nggak tau kenapa dadanya agak nggak enak.

Bukan marah.

Bukan cemburu.

Cuma… aneh.

Kayak ada sesuatu yang dulu selalu ada, sekarang nggak lagi.

Dan dia baru sadar setelah hilang.

Sementara itu, Rafi lagi jalan keluar sekolah bareng Nadira.

Nggak pegangan.

Nggak deket banget.

Tapi Rafi nggak lagi ngerasa sendirian.

Luna nggak pernah minta Rafi buat lupain Maya.

Dia cuma ada waktu Rafi butuh tempat buat jatuh.

Dan pelan-pelan, Rafi mulai ngerti…

Mungkin selama ini dia cuma maksa berdiri di tempat yang nggak pernah benar-benar jadi miliknya.

Mungkin sekarang waktunya pindah.

Tapi luka itu belum sembuh.

Masih perih.

Masih kebawa tiap malam.

Bedanya, sekarang dia nggak sendirian waktu ngerasainnya.

Dan di sisi lain, Maya mulai pelan-pelan lupa.

Bukan karena sengaja.

Tapi karena Rafi nggak lagi berdiri di sampingnya.

Yang dulu selalu ada, kalau nggak ada… lama-lama jadi biasa.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Karena cinta sepihak nggak pernah hancur karena ditolak.

Dia hancur karena pelan-pelan nggak dianggap.

More Chapters