Ficool

Chapter 5 - Mengungkapkan rasa

Bu Savia duduk gelisah di kursi teras. Matanya berkali-kali melirik ke jalanan yang mulai remang. Di sampingnya, Galang lagi asyik benerin tali sepatunya.

​"Duh, Galang, si Teteh kamana wae atuh? Jam segini belum pulang juga dari kecamatan," keluh Bu Savia sambil memilin ujung daster.

​"Sabar atuh, Bu. Paling juga lagi antre fotokopi atau mampir makan dulu sama Teh Alisa," jawab Galang santai. "Si Teteh mah bisa jaga diri, nggak usah khawatir."

​"Bukan masalah jaga dirinya, Lang. Tapi ini teh sudah mau magrib," timpal Bu Savia lagi.

​Tiba-tiba, muncul Bi Icih dari arah jalan. Tetangga yang memang mulutnya agak "pedas". Dia lewat sambil nenteng kresek belanjaan, tapi langkahnya sengaja dipelankan pas lihat Bu Savia hu.

​"Eh, Bu Savia. Masih nungguin si Andin?" tanya Bi Icih dengan nada yang dibuat-buat.

​"Iya, Bi. Belum pulang nemenin Alisa," jawab Bu Savia, berusaha tetap ramah.

​Bi Icih mencibir tipis. "Hati-hati atuh, Bu. Anak perempuan kalau keluyuran sampai magrib teh nggak enak dilihat tetangga. Apalagi si Andin mah gayanya jiga lalaki kitu, pake jeans soek-soek di lutut, baju kotak-kotak kuli, pake topi deui. Nanti malah dikira geng motor."

​Bu Savia tersentak, wajahnya mulai memerah. "Andin anak baik-baik, Bi. Dia cuma bantu temannya."

​"Ya iya sih, tapi kan sekarang mah Aki sudah nggak ada. Harusnya mah si Andin teh lebih kalem, diam di rumah bantu Ibu. Jangan malah sering berantem di pasar atau keluyuran nggak jelas. Apa kata orang nanti?" lanjut Bi Icih makin menjadi.

​Galang langsung berdiri, nggak tahan. "Maksud Bi Icih apa ya? Teh Andin mah kerja keras buat keluarga, bukan keluyuran!"

​"Euleuh, si Galang mah dikasih tahu teh malah sewot. Biar gimanapun, perempuan mah harus ada batasnya. Jangan sampai bawa pengaruh buruk buat kampung!"

​Baru saja Bu Savia mau membalas, suara deru motor matic terdengar mendekat. Motor itu berhenti tepat di depan pagar. Andin turun dengan tenang, dia sempat dengar suara tinggi Bi Icih dari kejauhan.

​Andin melepas helm, menyisir rambut pendeknya pakai jari, lalu melangkah masuk ke halaman. Dia memakai kemeja kotak-kotak biru yang lengannya dilipat sebatas siku dan jeans biru pudar yang robek di bagian lututnya. Topi hitamnya masih terpasang sedikit miring. Tatapannya dingin, langsung tertuju ke Bi Icih.

​"Aya naon, Bi? Meni rame suaranya kedengeran sampai depan jalan," tanya Andin datar.

​Bi Icih mendadak bungkam. Kehadiran Andin yang tiba-tiba dengan tatapan tajamnya bikin nyali tetangga itu ciut seketika.

​"Eh, eh... nggak ada apa-apa, Ndin. Cuma lagi ngobrol biasa sama Ibu kamu," jawab Bi Icih gagap. "Ya sudah, saya pulang dulu ya, mau masak."

​Bi Icih buru-buru pergi tanpa menoleh lagi. Keributan kecil itu langsung senyap.

​Andin menghela napas, lalu mendekati ibunya. Dia mencium tangan Bu Savia yang masih sedikit tegang.

​"Maaf ya Bu, Andin pulangnya telat. Tadi antre banget di fotokopian," kata Andin beralasan.

​Bu Savia mengusap bahu anaknya. "Nggak apa-apa, Ndin. Yang penting kamu sudah sampai rumah."

Suasana pelataran mushola masih terasa tenang setelah jamaah Isya bubar. Andin keluar dari pintu khusus wanita, tampak sangat beda dari biasanya. Tidak ada celana jeans robek atau topi hitam miring; malam ini dia tampil santun dengan baju syar'i panjang yang menutupi lekuk tubuhnya. Mukenanya sudah dilipat rapi dan dijinjing di tangan kiri.

Baru saja Andin mau melangkah ke arah sandal jepitnya, sebuah suara terdengar dari teras depan.

"Ndin, tungguan atuh!"

Raka sudah berdiri di sana, baru saja keluar dari barisan jamaah laki-laki. Dia langsung menghampiri Andin dengan langkah cepat, seolah takut Andin hilang ditelan gelap malam.

"Aya naon, Rak?" tanya Andin kalem. Suasana mushola bikin auranya terasa lebih adem.

"Balik bareng atuh, sekalian ada yang mau diobrolin penting," ajak Raka. Matanya nggak lepas menatap Andin yang malam ini terlihat sangat anggun, jauh berbeda dari penampilan "garang"-nya di pasar atau kecamatan tadi.

Di belakang mereka, Alisa sedang membenarkan letak mukenanya. Dadanya mendadak terasa nyeri luar biasa. Dia ada di sana, tepat di depan mata Raka, tapi cowok itu bahkan nggak menyapa atau sekadar menoleh padanya. Selama ini, Alisa selalu berusaha tampil manis di depan Raka, tapi tetap saja, perhatian Raka cuma buat Andin.

Tak peduli Andin lagi pakai jeans robek atau baju syar'i, mata Raka tetap "terkunci" ke sana.

"Ndin, aku duluan ya," pamit Alisa dengan suara yang agak dipaksakan biar nggak terdengar bergetar. "Rumah kita kan beda arah, males lewat gelap-gelapan."

"Oh, heueuh Lis. Hati-hati di jalan ya," sahut Andin.

Raka cuma mengangguk sekilas. "Hati-hati, Lis," katanya pendek, sangat formal, sebelum kembali fokus menatap Andin.

Alisa berjalan cepat membelakangi mereka, membiarkan Raka mengekor di samping Andin. Begitu sampai di rumahnya, Alisa langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Dia melempar tas mukenanya ke kursi, lalu merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit dengan mata panas.

Pikirannya melayang jauh. Sejak kecil, dia dan Andin selalu bersama. Susah senang bareng, rahasia apa pun dibagi. Mereka sudah seperti saudara kandung yang tak terpisahkan. Tapi pahitnya, dalam urusan hati, mereka seolah dipaksa bersaing di arena yang sama. Alisa sayang pada Andin, sangat sayang, tapi melihat orang yang dia cintai terus-terusan mengejar sahabatnya sendiri... itu rasanya lebih sakit daripada luka apa pun.

Sepulang dari mushola, Raka tidak langsung mengantar Andini pulang, melainkan berhenti di warung batagor Mang Ujang yang berada di sudut Desa Gelagah Sari. Andini menurut saja meski merasa agak canggung karena ia masih mengenakan baju syar'i panjang lengkap dengan jilbab besarnya.

"Mang, batagor dua porsi. Bumbunya pisah buat Andin ya," seru Raka.

"Siap, Kasep! Eh, Neng Andin meni pangling, geulis pisan pake baju kitu mah!" jawab Mang Ujang sambil lincah memotong tahu di penggorengan.

"Ah, si Amang bisa aja," sahut Andini sambil menarik kursi kayu panjang.

Tak lama, dua piring batagor hangat tersaji. Mereka mulai makan, tapi Raka terlihat tidak tenang. Dia lebih banyak memainkan garpunya daripada menyuap. Setelah beberapa saat, Raka berdeham, mencoba mencari perhatian Andini.

"Ndin," panggil Raka pelan. Suaranya agak berat.

Andini mendongak, mulutnya masih sedikit mengunyah. "Aya naon, Rak?"

Raka menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Dia menatap Andini lurus-lurus. "Sabenerna, aku ajakin kamu ke sini teh ada sesuatu yang ingin aku katakan. Penting pisan, Ndin... soal kita."

Andini langsung terdiam. Gerakan tangannya yang mau mengambil gelas air putih terhenti. Dia bisa merasakan suasana di bawah tenda Mang Ujang mendadak jadi sunyi.

"Udah lama rasa ini saya simpan sendiri," lanjut Raka, suaranya agak bergetar. "Saya sayang sama kamu, Ndin. Lebih dari sekadar teman atau tetangga. Saya pengen kita teh lebih dari ini."

Andini tertegun. Garpu di tangannya tertahan di atas piring. Pikirannya langsung kacau memikirkan kenyataan hidupnya. "Rak... saya bingung mau jawab apa. Kamu tahu sendiri kan kita teh beda. Kamu anak orang berada di desa ini, saya mah cuma apa atuh. Saya nggak percaya diri, Rak. Saya nggak mau nyakitin hati kamu kalau ujungnya nggak sesuai harapan."

More Chapters