Ficool

Chapter 10 - Menjenguk Raka

Kabar kecelakaan itu sampai ke telinga Juragan Suhendar hanya dalam hitungan menit. Pria tua yang tadinya begitu angkuh itu seketika luruh. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat saat memegang telepon. Tanpa menunggu lama, ia segera memacu mobilnya menuju rumah sakit kecamatan dengan perasaan waswas yang luar biasa.

Sesampainya di sana, Juragan Suhendar mendapati Raka sudah terbaring lemah di ruang IGD. Keangkuhan yang tadi malam ia tunjukkan sirna, berganti dengan rasa sesak melihat anak tunggalnya dalam kondisi seperti itu. "Raka... maafkan Bapak, kasep..." bisiknya lirih, air mata jatuh di pipinya yang mulai keriput.

Pagi harinya, berita tentang kecelakaan tragis yang menimpa anak tunggal Juragan Suhendar menyebar secepat kilat ke seluruh pelosok desa. Kabar itu sampai ke telinga Andini saat ia baru saja hendak berangkat membantu ibunya.

"Ndin! Sudah dengar belum? Itu si Raka, anaknya Juragan Suhendar, kecelakaan semalam di jalan raya!" seru salah seorang tetangga yang lewat di depan rumah.

Jantung Andini seolah berhenti berdetak sesaat. "Hah? Kecelakaan? Naha bisa, Bu?" tanya Andini dengan suara bergetar dan wajah yang seketika pucat pasi.

"Katanya mah parah, Ndin. Sekarang di rumah sakit kecamatan," lanjut tetangga itu sambil berlalu.

Andini terpaku di tempatnya. Rasa cemas dan iba langsung memenuhi dadanya. Tanpa pikir panjang, ia segera masuk ke rumah untuk mengganti baju. Ia memakai baju kotak-kotak lengan panjang yang ia lipat sebatas lengan dan topi hitam andalannya. Ia harus melihat kondisi Raka sekarang juga. Namun, ia merasa tak sanggup jika harus menghadapi suasana rumah sakit sendirian. Ia pun segera menuju rumah Alisa.

"Lis! Alisa!" panggil Andini dengan suara parau di depan pagar rumah sahabatnya.

Alisa keluar dengan jilbab syar'i-nya, tampak terkejut melihat Andini yang datang dengan napas tersengal. "Ndin... ada apa atuh?"

"Raka, Lis! Raka kecelakaan! Temani aku ke rumah sakit kecamatan sekarang, please..." pinta Andini dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Alisa terdiam sejenak. Meski sikapnya belakangan ini agak berubah dan menjauh, mendengar kabar duka itu membuat hatinya ikut mencelos. Rasa khawatir untuk Raka ternyata jauh lebih besar dari rasa canggungnya pada Andini.

"Astagfirullah... iya, Ndin. Ayo, aku temani," jawab Alisa lirih.

Andini segera menyalakan motornya. Dengan Alisa yang membonceng di belakang, Andini memacu motornya menuju rumah sakit kecamatan. Di sepanjang jalan, tak ada obrolan berarti. Andini fokus menatap jalanan dengan pikiran yang berkecamuk, sementara Alisa di belakang hanya bisa diam menunduk, ikut merapalkan doa dalam hati untuk keselamatan Raka.

Pagi itu, Rumah Sakit Umum Kecamatan mulai sibuk. Andini dan Alisa melangkah terburu-buru menyusuri lorong yang berbau karbol menyengat. Andini berjalan cepat dengan wajah tegang, baju kotak-kotak-nya sedikit kusut dan topi hitam-nya ditarik agak rendah menutupi kegelisahan di matanya.

Di depan ruang radiologi, Juragan Suhendar berdiri dengan wajah kaku. Dokter Arman, rekan lama sekaligus dokter keluarga Juragan, baru saja keluar sambil membawa amplop cokelat besar berisi hasil rontgen.

"Gimana, Dok? Raka teh nggak apa-apa, kan?" tanya Juragan Suhendar dengan suara parau.

Dokter Arman memperlihatkan film rontgen itu di bawah cahaya lampu neon. "Begini, Gan. Terjadi penggumpalan darah yang cukup serius di kepala Raka akibat benturan keras semalam. Terus, tulang kaki kanannya juga retak parah, hampir hancur di bagian kering. Raka harus segera dioperasi pagi ini juga, kalau telat mah bisa bahaya sekali."

Mendengar vonis medis itu, amarah Juragan Suhendar meledak. Dan tepat saat itu, ia melihat Andini muncul bersama Alisa.

"Mau apa kamu ke sini, hah?!" bentak Juragan Suhendar. Suaranya menggelegar, membuat Dokter Arman tersentak.

"Pak Juragan... saya cuma mau lihat keadaan Raka mah..." lirih Andini, suaranya bergetar.

"Nggak usah sok peduli! Kamu lihat ini!" Juragan Suhendar merampas hasil rontgen dari tangan dokter dan mengacungkannya tepat di depan wajah Andini. "Lihat! Anak saya sekarat! Kepalanya pecah, kakinya hancur! Semua ini gara-gara kamu, anak tukang gorengan nggak tahu diri!"

Andini terpaku menatap lembaran film hitam itu. Hinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.

"Gara-gara kamu 'ngagoda' Raka sampai dia berani minta izin melamar semalam, dia jadi ngelawan Bapak dan kabur sampai kecelakaan jiga gini! Kamu mah pembawa sial buat keluarga saya!" teriak Juragan Suhendar tanpa ampun. "Bapak memang kenal kamu dari orok, tapi buat jadi menantu? Cuih! Jangan mimpi! Pergi kamu dari sini! Saya nggak sudi lihat muka kamu di dekat anak saya!"

Andini mengepalkan tangannya kuat-kuat. Harga dirinya diinjak-injak di depan umum, tepat di depan Dokter Arman yang hanya bisa terdiam canggung. Di belakangnya, Alisa hanya menunduk diam. Namun, di balik hijabnya, sebuah senyum samar tersungging. Alisa merasa ini adalah akhir yang adil; Andini akhirnya diusir secara resmi dari hidup Raka.

"Pergi! Sekarang kamu pergi dari sini! Hus!" usir Juragan Suhendar seolah mengusir binatang.

Andini akhirnya berbalik dengan langkah gontai. Sesampainya di parkiran, ia terduduk di atas motornya, menunduk dalam di balik topi hitamnya. Air matanya jatuh satu-satu ke tangki motor.

"Sabar ya, Ndin. Mungkin benar kata Pak Juragan mah, kasta kita emang beda jauh," ucap Alisa dengan nada tenang yang sebenarnya makin menusuk hati Andini.

Andini menyalakan motornya dengan tangan gemetar. Ia memacu motornya pulang dengan perasaan hancur lebur, meninggalkan Raka yang akan segera masuk ruang operasi tanpa sempat melihatnya sedikit pun.

More Chapters